Waspadai Penyamar Falun Gong — Terutama Klaim yang Aneh atau Mengandung Kekerasan
NEW YORK — Beberapa bulan terakhir, meningkat kemunculan orang jahat yang mengaku sebagai praktisi Falun Gong. Mereka menyebar pesan email yang dikirim ke tempat umum, pejabat pemerintah, dan pihak lainnya. Pesan-pesan ini diyakini dikirim oleh orang-orang pendukung Beijing atau kaki tangan Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebagai bagian dari kampanye luas mereka untuk memfitnah Falun Gong dan Shen Yun Performing Arts, sebuah perusahaan tari tradisional Tiongkok yang didirikan oleh para praktisi.
Falun Dafa Information Center (FDIC) meminta wartawan, polisi, pejabat, dan masyarakat untuk tidak langsung percaya dan waspada jika ada pesan aneh atau bernada kekerasan yang mengatasnamakan praktisi Falun Gong atau Shen Yun. FDIC sangat khawatir PKT akan menggunakan taktik penyamaran ini untuk menciptakan kekerasan nyata. Taktik ini pernah dilakukan di Tiongkok dulu untuk memfitnah para praktisi agar masyarakat setuju dengan penindasan yang mereka lakukan.
“Tanggal 23 Januari adalah peringatan 24 tahun sejak rezim Tiongkok melakukan cara yang sangat keji untuk menipu masyarakat. Mereka menggunakan orang yang berpura-pura menjadi praktisi Falun Gong dalam sebuah rekayasa aksi bakar diri di Lapangan Tiananmen. Tujuannya adalah untuk memfitnah dan membuat orang-orang membenci latihan ini,” kata Levi Browde, direktur eksekutif Falun Dafa Information Center.
“Laporan penyelidikan, analisis video, dan ajaran Falun Gong sendiri yang melarang bunuh diri membuktikan bahwa kejadian itu adalah sandiwara. Orang-orang di dalam video tersebut bukanlah praktisi asli. Meski begitu, Partai Komunis Tiongkok (PKT) tetap menggunakan kebohongan ini sebagai alat propaganda untuk menghasut kebencian dan kekerasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah.”
“Saat ini, pejabat tinggi Tiongkok telah memerintahkan aparat dan intelijen PKT untuk meningkatkan serangan terhadap Falun Gong di luar negeri. Mereka menyebarkan berita bohong dan menyusupkan agen ke dalam komunitas. Melihat banyaknya penyamaran jahat akhir-akhir ini, kami khawatir rezim ini sedang merencanakan kejadian yang lebih parah, bahkan kekerasan, dengan menggunakan orang yang berpura-pura menjadi praktisi,” kata Browde. “Tujuannya adalah untuk merusak nama baik latihan ini dan menghasut masyarakat di Amerika Serikat serta seluruh dunia agar membenci Falun Gong.”
“Jika Anda merasa telah menerima pesan palsu dari seseorang yang mengaku sebagai praktisi Falun Gong atau mantan pemain Shen Yun, harap segera laporkan kepada kami di” [email protected].
Meningkatnya Penyamaran yang Berbahaya
Beberapa bulan terakhir, terjadi peningkatan ancaman tanpa nama dan penyamaran jahat yang sangat mengkhawatirkan. Tujuannya adalah untuk merusak nama baik organisasi yang berhubungan dengan Falun Gong, seperti FDIC dan Shen Yun Performing Arts. Kejadian ini sengaja dibuat untuk membingungkan masyarakat dan menghasut kebencian terhadap Falun Gong. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari ancaman pembunuhan hingga orang yang berpura-pura menjadi praktisi lalu menyebarkan kebohongan yang merugikan.
Contoh-contoh nyata meliputi:
- Juli 2024: Beberapa akun palsu di X (sebelumnya Twitter) berpura-pura menjadi staf senior Shen Yun. Mereka mengunggah pernyataan yang menghasut dan sangat tidak masuk akal. Walaupun akun-akun tersebut sudah dihapus setelah dilaporkan, taktik yang sama terus muncul kembali di platform lainnya.
- Agustus 2024: Berbagai departemen di Kebun Binatang Central Park, New York, menerima pesan ancaman dari orang-orang yang mengaku sebagai praktisi Falun Gong. Pesan tersebut berisi ancaman bom, dan salah satunya menggunakan email Direktur Eksekutif FDIC, Levi Browde, sebagai pengirimnya. Karena curiga dengan keaslian ancaman tersebut, pihak kebun binatang menghubungi Mr. Browde, yang kemudian memastikan bahwa pesan itu adalah penyamaran palsu.
- September 2024: Seseorang mengirim email ke Gedung Putih dengan menyamar sebagai karyawan Shen Yun. Hal ini terungkap setelah kampus pelatihan Shen Yun menerima balasan otomatis dari Gedung Putih. Rupanya, alamat email yang mirip dengan identitas Shen Yun sengaja digunakan agar seolah-olah Shen Yun telah mengirimkan ancaman kekerasan atau pesan aneh lainnya.
- Desember 2024: Seorang anggota parlemen Kanada yang secara terbuka mendukung Shen Yun menerima sebuah email yang mengaku berasal dari mantan penari Shen Yun. Email tersebut berisi tautan ke pemberitaan New York Times baru-baru ini yang tidak akurat, serta memuat klaim yang tidak terverifikasi mengenai kelelahan kerja dan trauma di dalam grup tersebut. Ketika anggota parlemen itu berkonsultasi dengan praktisi Falun Gong setempat, mereka mendapatkan konfirmasi dari pihak Shen Yun bahwa tidak ada orang dengan nama pengirim tersebut yang pernah tampil di sana maupun menempuh pendidikan di Akademi atau Perguruan Tinggi Fei Tian yang berafiliasi dengannya.
- Desember 2024–Januari 2025: Pada hari yang sama, seorang anggota parlemen Swedia yang pernah memuji Shen Yun menerima email fitnah yang isinya hampir sama dengan yang diterima anggota parlemen Kanada. Kali ini, pengirim email menggunakan nama dan alamat email berbeda. Sekali lagi, pihak Shen Yun memastikan bahwa tidak ada pemain aktif maupun mantan pemain dengan nama tersebut. Kesamaan waktu dan bahasa dalam email yang dikirim kepada kedua pejabat tersebut menunjukkan adanya koordinasi. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan ada anggota parlemen lain juga menerima pesan serupa. Pada awal Januari 2025, anggota parlemen Swedia yang sama kembali menerima email palsu yang mendesaknya untuk membatalkan dukungan terhadap Shen Yun. Email tersebut mengungkit pesan tanggal 6 Desember yang tidak dibalas, namun menggunakan alamat email dan nama pengirim yang berbeda, sehingga komunikasi ini semakin mencurigakan.

Bersamaan dengan penyamaran tersebut, terjadi juga peningkatan pesan-pesan anonim lainnya—terutama ancaman pembunuhan seperti penembakan massal dan ancaman bom—yang menargetkan pusat latihan Shen Yun, teater tempat Shen Yun tampil, dan FDIC. FDIC telah mendokumentasikan setidaknya 20 ancaman semacam itu selama setahun terakhir. Ini semua merupakan bagian dari kampanye PKT yang lebih luas dengan tujuan untuk “memusnahkan” Falun Gong dan Shen Yun di seluruh dunia, menggunakan disinformasi serta mengerahkan agen-agen keamanan luar negeri mereka untuk menghasut opini publik dan pemerintah agar menentang kelompok ini.
Jika taktik penyamaran rezim ini meningkat, FDIC khawatir pesan-pesan palsu tersebut dapat digunakan untuk menjebak praktisi Falun Gong dalam kasus kejahatan atau ancaman bom. Sejauh ini, beberapa ancaman yang menargetkan praktisi Falun Gong atau Shen Yun telah dikirim dari alamat email yang menyamar sebagai praktisi lain atau aktivis Tiongkok. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa kasus di mana para pengkritik PKT yang tidak ada hubungannya dengan Falun Gong menghadapi tuduhan, bahkan dakwaan atas ancaman kekerasan setelah identitas mereka dipalsukan, yang terkadang memicu tindakan dari aparat penegak hukum.
Pada tahun 2022, jurnalis Belanda Marije Vlaskamp, yang dikenal melalui liputannya tentang Tiongkok, menjadi korban taktik intimidasi PKT di Belanda. Menurut laporan terbaru dari para peneliti Belanda, “Pemesanan hotel palsu dan ancaman bom dilakukan atas namanya, yang memicu Kedutaan Besar Tiongkok untuk melapor ke Kementerian Luar Negeri Belanda dan polisi. Hal ini menyebabkan Vlaskamp sendiri sempat menjadi tersangka.” Meski ia tidak pernah didakwa, upaya Vlaskamp dan kantornya untuk bekerja sama dengan polisi serta otoritas hukum demi melacak pelaku fitnah tersebut tetap tidak membuahkan hasil.

Baru-baru ini, dua insiden serupa menimpa para pengkritik PKT asal Australia. Seorang pengusaha dan komentator media, Andrew Phelan, dituduh secara keliru mengirim ancaman keji kepada seorang jurnalis Tiongkok. Pada tahun 2023, Phelan ditangkap oleh polisi bersenjata di rumahnya di Melbourne setelah sebuah email berisi ancaman sadis dikirim ke jurnalis menggunakan akun palsu yang mencatut namanya. Pihak berwenang kemudian memastikan bahwa email tersebut palsu, dan Phelan sangat mencurigai keterlibatan Kementerian Keamanan Negara (MSS) Tiongkok. Aktivis Australia lainnya, Drew Pavlou, juga terseret dalam kasus ancaman bom yang dikirim atas namanya. Ia sempat menghadapi ancaman hukum di Inggris serta mengalami ancaman pembunuhan dan pelecehan selama berbulan-bulan, bahkan keluarganya pun turut menjadi sasaran.
Contoh-contoh ini mempertegas penggunaan taktik licik yang sengaja dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin mencelakai para pengkritik pelanggaran HAM oleh PKT. Hal ini juga menyoroti besarnya risiko bagi komunitas Falun Gong jika penerima pesan-pesan palsu tersebut tidak memverifikasi kebenarannya atau tidak bertindak dengan waspada.
Bakar Diri Palsu yang Digunakan Media Pemerintah
Pada 23 Januari 2001, lima orang diduga membakar diri di Lapangan Tiananmen, Beijing. Rezim dengan cepat mengklaim bahwa mereka adalah praktisi Falun Gong dan segera mengerahkan mesin propagandanya untuk menyebarkan berita tersebut. Media pemerintah pun dibanjiri foto-foto mengerikan dan klaim palsu yang menyebutkan para pelaku bakar diri itu adalah praktisi Falun Gong. Di Tiongkok, insiden ini menjadi titik balik bagi kampanye PKT untuk memfitnah Falun Gong dan mengubah opini publik, guna membenarkan tindak kekerasan terhadap para praktisi.

Namun, seluruh kampanye propaganda tersebut didasarkan pada kebohongan, karena kelima orang itu bukanlah praktisi Falun Gong. Tak lama kemudian, The Washington Post melakukan investigasi dan menemukan bahwa setidaknya dua dari pelaku bakar diri tersebut tidak pernah terlihat melakukan latihan Falun Gong. Sebuah dokumenter pemenang penghargaan, False Fire, membedah rekaman video tersebut secara mendalam dan mengungkap berbagai kecurigaan bahwa seluruh insiden itu adalah rekayasa. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa mereka yang diklaim sebagai praktisi Falun Gong “setia” tersebut justru memperagakan gerakan meditasi dengan cara yang sepenuhnya salah.
Meskipun fakta-fakta tersebut telah terungkap, narasi yang didorong oleh PKT terus diperkuat tanpa henti melalui media pemerintah, hingga menyulut kebencian luas terhadap Falun Gong. Opini publik yang semula bersimpati berubah menjadi permusuhan terang-terangan, dan kekerasan terhadap praktisi Falun Gong pun melonjak tajam. PKT menggunakan insiden tersebut sebagai pembenaran untuk meningkatkan penganiayaan, sekaligus membalikkan persepsi masyarakat terhadap latihan yang dulunya dihormati ini.
Insiden ini masih sangat relevan hingga sekarang. Mengingat adanya liputan media Barat yang bias dan tidak akurat mengenai Falun Gong baru-baru ini, terdapat risiko besar bahwa setiap insiden yang diduga melibatkan Falun Gong di luar Tiongkok dapat memicu gelombang pemberitaan yang hanya mengulang klaim-klaim meragukan secara mentah-mentah, tanpa investigasi mendalam atau mempertimbangkan kemungkinan adanya manipulasi oleh PKT.
“Sama seperti insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen yang dimanipulasi untuk menjatuhkan nama Falun Gong di Tiongkok, taktik serupa bisa saja diterapkan saat ini di luar Tiongkok — baik melalui pesan palsu maupun peristiwa rekayasa. Hal ini dapat memicu laporan yang bias dan tidak terverifikasi, yang secara tidak adil memfitnah sebuah keyakinan yang dianut oleh puluhan juta orang.”
“Investigasi yang cermat dan pemeriksaan yang teliti sangatlah penting jika menyangkut taktik penyamaran yang dilakukan oleh PKT,” ujar Browde. “Media internasional dan para pembuat kebijakan harus waspada untuk memastikan sejarah tidak terulang kembali, serta memastikan agar rezim tersebut tidak berhasil memanipulasi lembaga-lembaga demokrasi demi mencelakai warga Amerika yang tidak bersalah.”
Jika anda merasa menerima pesan palsu dari seseorang yang mengaku sebagai praktisi Falun Gong atau mantan pemain Shen Yun, harap hubungi kami di [email protected].










