Laporan Maret dan April 2023: 1.320 Praktisi Falun Gong Ditangkap atau Diganggu karena Keyakinan Mereka

Li Songyuan (kiri), seorang penduduk Irlandia, berdiri di depan konsulat Tiongkok di Irlandia untuk menuntut pembebasan ibunya, Cen Hua. Cen adalah seorang pensiunan profesor madya di Universitas Bisnis Internasional dan Ekonomi di Beijing, yang ditangkap oleh polisi pada 14 April 2023 karena membagikan informasi mengenai Falun Gong.

Li Songyuan (kiri), seorang penduduk Irlandia, berdiri di depan konsulat Tiongkok di Irlandia untuk menuntut pembebasan ibunya, Cen Hua. Cen adalah seorang pensiunan profesor madya di Universitas Bisnis Internasional dan Ekonomi di Beijing, yang ditangkap oleh polisi pada 14 April 2023 karena membagikan informasi mengenai Falun Gong.

Selama bulan Maret dan April, para praktisi Falun Gong di Tiongkok mendokumentasikan 1.320 kasus dan meneruskannya ke situs web luar negeri, Minghui, yang kemudian meninjau, memverifikasi, dan menerbitkan laporan-laporan tersebut. Para praktisi yang menjadi sasaran berasal dari berbagai latar belakang profesi, termasuk seorang profesor perguruan tinggi, pegawai pemerintah, mantan guru musik, dan seorang seniman.

Dibandingkan dengan total 624 insiden penangkapan dan gangguan yang dilaporkan pada Januari dan Februari 2023, jumlah 1.320 kasus baru pada Maret dan April menunjukkan lonjakan sebesar 116%. Peningkatan tajam ini kemungkinan besar dipicu oleh dua peristiwa yang dianggap sensitif oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT): pertemuan politik tahunan mereka pada bulan Maret dan peringatan ke-24 aksi damai 10.000 praktisi yang berlangsung pada 25 April 1999.

Selama apa yang disebut sebagai “hari-hari sensitif”, pihak berwenang sering kali meningkatkan pengawasan dan gangguan terhadap para praktisi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah mereka mengungkap fakta penganiayaan kepada publik, baik melalui pembicaraan langsung, pembagian materi, maupun pengunggahan informasi secara daring.

Sekitar 217 praktisi berusia 60 tahun atau lebih ketika mereka ditangkap atau diganggu, termasuk 55 praktisi di usia 60-an, 112 praktisi di usia 70-an, 41 praktisi di usia 80-an, dan 9 praktisi di usia 90-an.

Kasus-kasus yang baru dilaporkan ini tersebar di 23 provinsi dan 4 kota madya yang dikendalikan langsung oleh pusat (Beijing, Chongqing, Shanghai, dan Tianjin). Jilin menjadi wilayah dengan laporan gabungan penangkapan dan gangguan tertinggi (268 kasus), disusul oleh Shandong dengan 214 kasus, Liaoning dengan 106 kasus, dan Hubei dengan 102 kasus.

Gangguan Menjelang Hari-hari Sensitif

Kedua badan legislatif Tiongkok, yaitu Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan badan penasihat politik tertingginya, Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), mengadakan pertemuan tahunan mereka (dikenal sebagai “Dua Sesi”) pada waktu yang sama setiap tahun. Tahun ini, pertemuan CPPCC dimulai pada 4 Maret dan NPC pada 5 Maret. Menjelang momen “Dua Sesi” ini, para praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok mengalami berbagai gangguan dari pihak berwenang.

Sejak awal Februari, polisi di Kota Luzhou, Provinsi Sichuan, sudah memerintahkan para praktisi Falun Gong agar tidak keluar rumah atau berbicara kepada orang lain mengenai Falun Gong selama periode “Dua Sesi”. Para praktisi setempat, termasuk Shi Bangcai, Tang Xuzhen, Deng Shimin, Li Yulan, dan Peng Gongshu, menjadi sasaran gangguan. Kantor polisi bekerja sama dengan komite lingkungan (RT/RW setempat) untuk menjalankan perintah dari atasan agar memotret setiap praktisi yang mereka datangi. Karena pihak berwenang tidak berhasil menemukan Ibu Peng Gongshu setelah ia pindah rumah, kartu identitasnya (KTP) dicabut agar ia tidak bisa bepergian.

Kasus-kasus gangguan mencolok lainnya menjelang “Dua Sesi” juga dilaporkan terjadi di Provinsi Shandong, Provinsi Hubei, dan Beijing.

Qin Wei, seorang seniman di Beijing, didatangi dan diganggu di rumahnya sebanyak tiga kali pada bulan April menjelang peringatan “Aksi Damai 25 April”. Polisi mengambil foto-fotonya dan terkadang meneleponnya pada larut malam. Warga Beijing lainnya, He Xingguo, diawasi oleh pihak berwenang selama 24 jam penuh baik selama masa “Dua Sesi” pada bulan Maret maupun selama tiga hari antara tanggal 24 hingga 26 April.

Di Shanghai, seorang petugas berpakaian preman mendatangi Pei Shanzhen dan memaksa memeriksa identitasnya saat ia sedang berziarah ke makam leluhur dalam rangka Festival Cheng Beng pada 9 April 2023. Tak berhenti di situ, staf komite lingkungan juga berulang kali mengetuk pintu rumahnya pada 22 April. Mereka secara terang-terangan menyatakan akan mengawasi kehidupan sehari-harinya selama empat hari ke depan, hingga peringatan aksi damai 25 April berakhir.

Laporan mengenai gangguan lainnya terkait peringatan “Aksi Damai 25 April” juga dilaporkan terjadi di Provinsi Anhui dan Provinsi Shandong.

Berikut adalah tiga kasus utama yang menjadi sorotan:

Ibu dari Penduduk Irlandia yang Ditangkap Setelah Dicurigai Membagikan Informasi

Cen Hua, seorang pensiunan profesor madya di Universitas Bisnis Internasional dan Ekonomi di Beijing, ditangkap oleh polisi pada 14 April 2023 karena dicurigai membagikan informasi mengenai Falun Gong. Ibunya yang berusia 88 tahun dan menderita penyakit Alzheimer juga ikut dibawa ke kantor polisi dan ditahan di sana selama beberapa saat.

Li Songyuan, seorang penduduk Irlandia

Putri Cen, Li Songyuan, yang saat ini tinggal di Irlandia, mengadakan konferensi pers di depan Konsulat Tiongkok pada 17 April 2023, untuk menuntut pembebasan segera ibunya. Richard Boyd Barrett, seorang anggota dari salah satu dari tiga partai politik di Irlandia, yang hadir dalam konferensi pers tersebut menyatakan dukungannya terhadap upaya Ibu Li.

Barrett menyatakan bahwa penganiayaan terhadap sekelompok orang yang melakukan latihan secara damai ini mengungkap sifat asli dan jahat dari PKT. Ia menuntut agar PKT segera membebaskan Profesor Cen Hua dan segera menghentikan penganiayaan kejam terhadap jutaan praktisi Falun Dafa.

Wanita Shanghai Ditangkap untuk Keenam Kalinya karena Keyakinannya

Seorang warga Shanghai yang hendak naik kereta api dihentikan oleh polisi kereta api dan tasnya digeledah pada 4 April 2023. Polisi menangkap Ying Yu setelah menemukan sebuah flash-drive berisi informasi tentang Falun Gong. Rumahnya digeledah pada hari yang sama, dan sejak saat itu ia ditahan di Pusat Penahanan Distrik Changning.

Ying Yu

Ini adalah keenam kalinya Ying, usia sekitar 50 tahun, ditangkap karena keyakinannya pada Falun Gong. Tak lama setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999, Ying ditangkap karena pergi ke Beijing untuk menuntut hak menjalankan latihan Falun Gong dan dijatuhi hukuman dua tahun kamp kerja paksa. Ia kembali ditangkap pada tahun 2006, beberapa kali pada tahun 2008 menjelang Olimpiade Musim Panas Beijing, dan satu kali pada tahun 2017.

Wanita Berusia 26 Tahun Ditangkap dan Diinterogasi karena Berbicara kepada Orang-orang tentang Falun Gong

Seorang wanita berusia 26 tahun di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, yang baru saja mulai mendalami Falun Gong, ditangkap pada 20 Februari 2023 saat sedang berbicara kepada orang-orang mengenai keyakinannya.


Ilustrasi Siksaan: Bangku Macan

Polisi mengikat Zhang Jue di atas alat siksaan bangku macan, menyorotkan cahaya yang sangat terang ke matanya, dan menginterogasinya sepanjang malam tanpa membiarkannya tidur. Keesokan harinya, mereka membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan fisik dan mengambil sampel darahnya secara paksa. Tiga petugas kemudian membawanya kembali ke lokasi penangkapannya dan mengambil foto-fotonya untuk digunakan sebagai bukti.

Zhang dibebaskan pada 27 Februari, setelah ditahan di Kantor Polisi Yongyang selama tujuh hari.

Berdasarkan artikel asli dari Minghui.

Share