Hidup Setelah Penyiksaan

Sebuah keluarga mengupayakan kehidupan normal di New York City setelah bertahan melewati satu dekade penganiayaan luar biasa di Tiongkok

Oleh  Charlotte Cuthbertson ,  The Epoch Times | 11-05-2017

Dia pernah diinterogasi sebelumnya, tetapi kali ini kondisinya jauh lebih buruk. Wang Huijuan, seorang guru sekolah dasar, adalah tangkapan yang sangat berharga, dan penjaga di stasiun kereta api tersebut akan mendapatkan imbalan yang besar karena telah menyerahkannya.

“Seorang praktisi Falun Gong meninggal dalam tahanan polisi setiap tiga hari sekali, menurut Falun Dafa Information Center—dan itu baru menghitung kasus-kasus yang telah terverifikasi.”

Ia dengan bersemangat melapor melalui radio kepada polisi keamanan domestik, “Kami menemukan satu lagi yang melakukan latihan Falun Gong!” kenang Wang. Dalam sekejap, beberapa petugas muncul dan segera mengosongkan area tunggu stasiun sebelum membawa Wang ke pusat penahanan setempat.

Penjaga tersebut telah menggeledah barang bawaan Wang dan menemukan selebaran serta DVD yang menjelaskan tentang penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap Falun Gong (disebut juga Falun Dafa) dan membongkar kampanye propaganda pemerintah untuk memfitnah latihan spiritual tersebut. Polisi menuntut untuk mengetahui dari siapa ia mendapatkan barang-barang itu dan di mana tempat produksinya.

Di pusat penahanan, ia melawan sekuat tenaga hingga para petugas tidak mampu mengikatnya. Jadi, mereka membenturkan kepalanya ke dinding dan mulai mencambuk kepala serta wajahnya dengan penggaris besi dari meja kantor terdekat.

“Ada banyak darah. Hidung dan mulut saya berdarah, dan mereka menghancurkan gendang telinga saya,” kata Wang, yang kini tinggal di New York (dan mengenakan alat bantu dengar).

“Saya hanya memikirkan satu hal saat itu: ‘Bahkan jika saya mati, saya tidak akan memberikan nama orang lain,’” kenangnya melalui seorang penerjemah. “Dan saya tidak akan melepaskan keyakinan saya.”

Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal.

Tujuh tahun berikutnya dihabiskan Wang di balik jeruji besi, terpisah jauh dari suami dan putri kecilnya. Di sana, ia menjadi sasaran sistematis mulai dari indoktrinasi ideologi, interogasi tanpa henti, hingga kekerasan fisik. Wang dipaksa bertahan menghadapi belenggu, pukulan, pemberian makan paksa, perampasan waktu tidur, hingga siksaan psikologis yang mengoyak batin.

“Semuanya bermuara pada apa yang mereka sebut sebagai ‘transformasi’—yang artinya, Anda dipaksa menandatangani pernyataan untuk berhenti berlatih Falun Dafa,” ungkap Wang. “Jika menolak, mereka akan melarang Anda menemui keluarga, memecat Anda dari pekerjaan, atau menyeret rekan kerja Anda ke dalam masalah. Bahkan petugas polisi pun akan dihukum jika gagal. Mereka bekerja berdasarkan kuota.”

Namun, menandatangani surat pernyataan bukanlah akhir dari penderitaan. Alih-alih bebas, siksaan psikologis justru memasuki babak baru: mereka yang menyerah akan dimanfaatkan untuk ‘menghancurkan’ mental rekan seperjuangan mereka sendiri agar ikut melepaskan keyakinan mereka.

Penganiayaan Dilancarkan

Selama satu dekade, Wang dan suaminya, Li, terjebak dalam siklus kelam keluar-masuk kamp kerja paksa, pusat pencucian otak, hingga penjara. Semua derita itu harus mereka lalui hanya karena satu alasan: keduanya teguh menolak untuk melepaskan keyakinan mereka terhadap Falun Gong.

Saat pasangan ini mulai berlatih pada 1998, rezim Tiongkok justru mendukung penuh Falun Gong—sebuah latihan yang berakar pada prinsip sejati, baik, dan sabar. Berdasarkan estimasi pemerintah saat itu, lebih dari 70 juta warga menekuninya. Departemen olahraga negara bahkan melaporkan adanya peningkatan kesehatan dan moralitas masyarakat secara luas. Kala itu, taman-taman kota selalu dipenuhi warga yang melakukan latihan gerak dan meditasi setiap pagi.

Namun, ideologi komunisme yang menjunjung ateisme tidak sejalan dengan platihan ini ini. Ledakan jumlah pengikut Falun Gong yang begitu masif akhirnya memicu ketakutan pada Jiang Zemin, pemimpin Partai Komunis saat itu.

Tepat pada 20 Juli 1999, Jiang meluncurkan kampanye persekusi berskala nasional. Merujuk data dari Falun Dafa Information Center—sebuah LSM berbasis di New York yang memantau kasus ini—misi tersebut dirancang untuk “menghancurkan reputasi Falun Gong sepenuhnya, memiskinkan para praktisinya secara finansial, dan melenyapkan Falun Gong dalam waktu tiga bulan.”

Demi memuluskan rencananya, Jiang membentuk pasukan polisi ekstra-yudisial yang dikenal sebagai “Kantor 610”. Badan ini memegang mandat khusus untuk mengeksekusi instruksinya di lapangan. Selain itu, kontrol diperketat hingga ke akar rumput: setiap pabrik, sekolah, hingga instansi pemerintah telah disusupi pejabat khusus yang bertugas memastikan seluruh lapisan masyarakat tunduk pada garis kebijakan Partai.

Amnesty International menegaskan bahwa persekusi tersebut murni bermotif politik. Dalam pernyataan resminya pada Maret 2000, organisasi tersebut menyatakan, “Sebagian besar korbannya adalah masyarakat biasa yang sekadar menggunakan hak fundamental mereka secara damai untuk bebas berkeyakinan, berserikat, dan mengemukakan pendapat.”

Masa Kecil yang Dicuri

Fuyao baru menginjak usia enam tahun ketika kedua orang tuanya lenyap ditelan sistem kamp kerja paksa Tiongkok untuk pertama kalinya.

“Saya bingung, saya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,” kenang Fuyao, yang kini berusia 24 tahun dan menetap di New York. “Namun, saya tahu orang tua saya berada di pihak yang benar, karena mereka berani berdiri teguh demi apa yang mereka yakini.”

Keteguhan hati gadis kecil itu diuji di setiap lini. Di sekolah dasar, teman-teman sekelas mengucilkannya dan meludahi buku-bukunya di bawah tatapan diam sang guru. Di rumah, sosok orang tuanya nyaris tak pernah ada. Satu-satunya sandaran yang ia miliki hanyalah sang nenek, yang hari-harinya didera kecemasan mendalam memikirkan nasib anak dan menantunya.

Namun, tak ada gurat amarah maupun dendam yang tampak dari pembawaannya. Fuyao mengaku bahwa sejak awal ia selalu yakin orang tuanya tidak melakukan kejahatan apa pun.

Saya menaruh hormat yang luar biasa atas apa yang telah mereka lakukan dan segala penderitaan yang mereka lalui,” ungkap Fuyao.

Wang mengaku hatinya masih terasa sakit setiap kali mengenang perpisahan pahit dengan putrinya. “Setelah saya dibawa pergi, pikiran saya hanya tertuju pada putri saya—dia masih sangat kecil, bagaimana dia akan menghadapi semua ini sendirian?” kenang Wang.

Wang mengenang sebuah momen saat Fuyao datang menjenguknya. Kala itu, ia melontarkan pertanyaan sulit kepada putrinya: “Mana yang kau pilih: Ibu melakukan ‘transformasi’ agar bisa segera pulang, atau Ibu tetap memegang teguh keyakinan dan tidak mengkhianati hati nurani? Jika Ibu bicara jujur, mereka akan terus mengurung Ibu di sini.”

Wang mengenang momen itu dengan haru, “Saya menangis, lalu dia mengusap air mata saya dan berkata, ‘Ibu, Ibu harus tetap benar. Ibu tidak boleh mengatakan Falun Dafa itu buruk.”

Terpaksa Memilih

Oktober 1999 menjadi momen yang penuh pergulatan batin bagi Li, ayah Fuyao. Untuk pertama kalinya, ia menempuh perjalanan dari kampung halamannya di Tianjin untuk memprotes kebijakan persekusi tersebut. Lapangan Tiananmen menjadi tujuan utama karena letaknya yang berdekatan dengan pusat pemerintahan—sekaligus karena memori kelam pembantaian mahasiswa tahun 1989 yang masih menghantui tempat itu.

“Pagi itu, saya memeluk putri saya sambil menangis. Dalam hati saya berpikir, mungkinkah ini terakhir kalinya saya bisa melihatnya,” kenang Li, yang saat itu merupakan seorang pembawa acara televisi sukses.

Li sadar betul akan risiko dari aksi damai tersebut. Sejak Juli 1999, puluhan ribu pengikut Falun Gong telah ditangkap dan dijebloskan ke kamp kerja paksa serta pusat pencucian otak. Di telinganya, telah terngiang berbagai kisah mengerikan tentang penyiksaan hingga kematian para tahanan.

Namun, Li memiliki alasan kuat di balik keberaniannya: ia telah mengalami keajaiban sendiri melalui praktik ini. Ia sempat menderita Hepatitis B kronis, dan pada Juli 1998, dokter memvonis penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Namun, setelah mulai rutin berlatih gerakan dan mendalami ajaran Falun Gong, hanya dalam beberapa minggu, Li merasakan tubuhnya kembali kuat dan sehat. Peristiwa luar biasa itu terjadi hampir 18 tahun yang lalu.

Kesembuhan itulah yang memantapkan hatinya untuk berangkat ke Lapangan Tiananmen. “Falun Dafa telah memberi saya kesempatan hidup kedua, dan praktik ini seharusnya bisa dijalankan dengan bebas di Tiongkok,” ujar Li. “Jika bukan saya yang menyuarakan kebenaran ini, lalu siapa lagi? Namun, saya melangkah ke Tiananmen dengan pemikiran bahwa kemungkinan besar saya akan terbunuh.”

Li ditangkap nyaris seketika setelah ia menginjakkan kaki di lapangan tersebut. Beberapa hari kemudian, ia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara di kamp kerja paksa. Tak ada hakim maupun dewan juri; hanya seorang petugas polisi yang membacakan vonis dari selembar kertas. Li tidak melakukan kejahatan, tak ada dakwaan yang dijelaskan, dan tidak ada celah untuk banding. Ia akan ditahan secara ilegal selama bertahun-tahun hanya karena berlatih Falun Gong.

“Saya adalah warga negara yang baik. Ini tidak masuk akal,” katanya.

Kepalanya digunduli, ia diberi seragam penjara berwarna biru tua, dan ditempatkan di tempat tidur tingkat paling atas dalam sebuah ruangan sempit berisi enam ranjang susun. Tak ada kasur di sana; para tahanan tidur langsung di atas bilah-bilah kayu dan hanya bisa memakai selimut jika dikirimkan oleh keluarga mereka.

“Karena suasananya gelap dan lembap, sebagian besar tahanan menderita kudis atau luka bintil-bintil merah,” kenang Li. “Pada malam hari, Anda bisa dengan mudah menyapu bilah kayu dengan tangan dan membunuh banyak kutu busuk sekaligus.”

Setiap pagi, mereka harus menyingkirkan selimut pribadi mereka, lalu merapikan tempat tidur dengan seprai putih bersih dan selimut hijau yang disediakan oleh penjaga. Namun, mereka dilarang keras duduk atau berbaring di atas alas tidur tersebut—semuanya murni hanya untuk pajangan, berjaga-jaga jika ada pejabat pemerintah yang datang berkunjung.

Makanannya sangat mengerikan.

“Sayur-sayurannya sudah busuk. Mereka langsung melemparkannya begitu saja ke dalam panci tanpa dicuci, lalu merebusnya,” kenang Li. “Bubur nasinya dicampur dengan air keran dan nyaris tidak ada butiran nasi di dalamnya.” Hingga hari ini, Li tidak sanggup lagi memakan terong atau wortel.
Setiap hari ia hanya diberi lima roti kukus, yang sering kali berisi kotoran tikus. “Roti pada pagi dan malam hari berwarna kehitaman, sementara yang diberikan saat makan siang sedikit lebih putih,” kenangnya.

“Selama lebih dari dua tahun, Li menghabiskan 16 jam sehari, tujuh hari seminggu, untuk menjahit bola sepak komemoratif Piala Dunia FIFA 2002—semua itu ia lakukan dalam kondisi penjara yang kotor dan tidak manusiawi, tanpa dibayar, kelaparan, dan di bawah siksaan.”

“Li menghabiskan 16 jam sehari, tujuh hari seminggu selama lebih dari dua tahun, menjahit bola sepak komemoratif untuk Piala Dunia FIFA 2002—semua itu dilakukan di tengah kondisi penjara yang kumuh, tanpa upah, dalam kelaparan, dan di bawah siksaan.”

Ia diwajibkan menyelesaikan empat buah bola setiap hari, tanpa pengecualian. Setiap bola membutuhkan sekitar 1.800 jahitan, yang terdiri dari 32 panel (20 potongan segi enam dan 12 potongan segi lima). Jari-jarinya sering kali mengalami infeksi, mengeluarkan darah dan nanah akibat racun dari kulit sintetis, terutama jika ia tidak sengaja tertusuk jarum.

“Kami bekerja dari jam 6 pagi hingga setidaknya jam 10 malam,” ujar Li. “Saya termasuk orang yang bekerja relatif cepat; mereka yang tidak bisa menyelesaikan target akan dipukuli.”

Saat pertama kali ditangkap dan ditahan, Li Zhenjun menjadi sasaran teknik penyiksaan yang disebut “pesawat” selama interogasi. Setelah berada dalam posisi ini selama lebih dari setengah jam, seorang petugas polisi menendang Li ke lantai dan terus memukulinya. (minghui.org)

Pemukulan sering kali dilakukan oleh narapidana lain (biasanya yang paling kejam, kata Li) yang ingin mencari muka di hadapan penjaga. Dalam kasus Li, pelakunya adalah seorang tahanan yang dihukum karena memperbudak seseorang di rumahnya selama bertahun-tahun.

Setiap malam setelah bekerja, selama dua jam, Li dan para praktisi Falun Gong lainnya dipaksa duduk membungkuk di atas bangku kecil sambil menatap lantai. Jika mereka melirik satu sama lain, mereka akan dipukuli.

Ia diberitahu akan dibebaskan dari sesi “belajar” ini jika ia menulis surat pernyataan berhenti berlatih Falun Gong. Setelah beberapa bulan dalam tahanan, dalam kondisi lelah dan putus asa, ia akhirnya menulis surat tersebut.

“Tetapi saya merasa sangat buruk,” kata Li. “Sebelum saya menulisnya, itu adalah penyiksaan fisik; namun setelah saya menulisnya, itu menjadi penyiksaan moral dan psikologis.”

Tidak lama kemudian, ia mencabut pernyataannya dan meminta seorang petugas polisi untuk mengembalikan kertas tersebut. Polisi menolak, dan ia dijatuhi hukuman tambahan. Namun, beban psikologisnya terangkat.

Fuyao hanya bisa menemui ayahnya dua kali setahun. Terpisahkan oleh kaca dan berbicara melalui telepon, ia terus menyemangati ayahnya untuk bertahan.

“Fuyao sering menulis surat kepada saya, mengatakan, ‘Ayah harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip Ayah,’” kata Li.

Li dibebaskan setelah masa hukuman pertamanya berakhir, tetapi 18 bulan kemudian, ia ditangkap kembali dan dipenjarakan selama empat tahun.

Dampak Nasional

Jumlah keluarga yang terdampak langsung oleh penganiayaan di Tiongkok sulit terhitung, ujar Levi Browde, juru bicara Falun Dafa Information Center.

Jumlah keluarga yang terdampak langsung oleh penganiayaan di Tiongkok sulit untuk dihitung secara pasti, kata Levi Browde, juru bicara Pusat Informasi Falun Dafa.

Saat penganiayaan dimulai pada 1999, terdapat 70 juta hingga 100 juta orang yang melakukan latihan tersebut. Artinya, satu dari setiap 13 orang menjadi “musuh negara,” jelas Browde melalui email.

“Jika Anda mengambil sepertiga belas dari seluruh populasi tersebut, menjelek-jelekkan mereka, dan membuat keluarga mereka berbalik melawan mereka, dampak seperti apa yang ditimbulkannya? Ini adalah sebuah bencana,” katanya.

Sudah menjadi teknik umum bagi rezim Tiongkok untuk membuat sesama anggota keluarga agar saling bermusuhan, ujar Browde. Hal ini memastikan tujuan utama [PKT] yaitu kendali atas rakyat melalui rasa takut, dan teknik ini telah disempurnakan selama Revolusi Kebudayaan pada tahun 60-an dan 70-an.

“Dalam satu sisi, penganiayaan terhadap Falun Gong hanyalah gejolak terbaru dari upaya Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk menguasai hati dan pikiran rakyat,” kata Browde.

Ia menjelaskan mengenai alasan mengapa para orang tua memilih terus berlatih Falun Gong ketika sebenarnya mereka bisa berhenti agar keluarga mereka tetap utuh.

“Falun Gong adalah hal mendasar bagi jati diri spiritual mereka, jadi Anda telah meminta mereka untuk membunuh jiwa mereka. Selain itu, mereka tidak sepenuhnya dibiarkan begitu saja jika mereka ‘melepaskan’ keyakinan tersebut. Sering kali, mereka harus bergabung dengan PKT untuk ‘mengonversi’ orang lain … jadi ini tidak sekadar melepaskan jati diri mereka.”

Setelah Penjara

“Penantian panjang itu akhirnya berakhir di tahun 2009. Keluarga ini kembali berkumpul setelah Wang menghirup udara bebas. Saat itu, Li sudah lebih dulu keluar sejak November 2006, sementara Fuyao kini telah tumbuh menjadi remaja berusia 14 tahun.”

“Nasib malang belum beranjak; Wang tak lagi bisa kembali menekuni profesinya sebagai guru. Begitu pula dengan Li, yang sudah lebih dulu dipaksa menanggalkan posisinya sebagai pembaca berita sejak pertama kali ia diringkus aparat.”

Mereka kemudian merintis bisnis perencanaan pernikahan. Namun, toko itu bukan sekadar tempat mengurus pesta; ia menjadi ‘mimbar gelap’ bagi keduanya untuk membagikan kisah persekusi yang mereka alami. Di sana, mereka berupaya mematahkan propaganda anti-Falun Gong yang selama ini dijejalkan media pemerintah ke benak masyarakat Tiongkok

“Satu-satunya alasan kami tidak dijebloskan kembali ke penjara adalah karena kepala biro keamanan domestik setempat adalah kawan lama keluarga kami. Ia tahu betul bahwa saya dan suami adalah orang baik,” tutur Wang. “Meski ia melindungi kami, ia sendiri terus-menerus ditekan habis-habisan oleh atasannya untuk menyiksa kami.”

Wang mengungkapkan bahwa keputusan untuk angkat kaki dari Tiongkok bukan semata demi keselamatan keluarga mereka. Ada beban moral yang mengganjal: mereka tak ingin posisi sang kawan—si pejabat keamanan itu—terancam atau terseret dalam masalah lebih jauh gara-gara terus melindungi mereka.

“Di lubuk hati yang paling dalam, saya selalu dihantui ketakutan bahwa keluarga kami akan tercerai-berai lagi. Kami hidup dalam kecemasan—khawatir polisi tiba-tiba mengetuk pintu, khawatir anggota keluarga lain ditangkap, dan yang paling menyesakkan, khawatir jika putri kami juga ikut diseret ke penjara,” tutur Wang lirih.

Meraih Kebebasan

Pada tahun 2014, mereka melihat kesempatan untuk melarikan diri dan mencari suaka di Amerika.

“Detik-detik yang paling mendebarkan terjadi saat mereka berada di kantor imigrasi untuk mengajukan paspor. Di salah satu tahapan akhir, mereka harus menyerahkan sidik jari untuk dipindai ke dalam sistem komputer. Di sanalah segalanya dipertaruhkan.”

Para petugas itu mendadak kaku dan saling lempar pandang,” kenang Li. “Lalu, salah satu dari mereka melakukan panggilan telepon. Entah siapa yang berada di ujung telepon sana, namun ia memerintahkan mereka untuk meloloskan paspor kami.”

Mereka tiba di Amerika pada tanggal 15 Juli 2014.

“Begitu kaki kami berpijak di tanah Amerika, seluruh ketakutan itu menguap seketika. Kecemasan dan kegelisahan yang selama ini menghantui, hilang tak berbekas. Akhirnya, kami menemukan kedamaian,” tutur Wang.
“Namun, trauma psikologis itu sungguh sulit terkikis. Saat saya menghirup udara bebas dan menikmati hak serta kebebasan berkeyakinan di sini, hati saya tetap terasa berat mengenang saudara-saudara kami di Tiongkok,” ucap Wang dengan nada getir.

“Kabar buruk kembali datang dari tanah air mereka. Keluarga ini mendengar berita bahwa 20 praktisi Falun Gong ditangkap di kampung halaman mereka, Tianjin, pada 7 Desember 2016.”

“Mendengar kabar itu, Wang tak tinggal diam. Ia segera menelepon pusat-pusat penahanan setempat, menekan para pejabat di sana agar segera membebaskan rekan-rekannya.”

“Saya mengenal beberapa di antara mereka. Saya ingin melakukan apa pun yang saya bisa untuk membantu menyelamatkan mereka, agar mereka tak perlu melewati penderitaan yang pernah saya alami,” ucap Wang penuh harap.

“Kini di New York, Wang menghabiskan sebanyak mungkin waktunya di titik-titik keramaian turis. Ia sibuk membagikan selebaran berisi fakta penindasan kepada para pelancong yang datang dari daratan Tiongkok, berharap mata mereka terbuka.”

“Li, yang kini berusia 45 tahun, akhirnya kembali ke dunianya. Ia kini berkarier di NTD Television—sebuah stasiun televisi yang menyiarkan berita dan program tanpa sensor tentang Tiongkok ke seluruh dunia, bahkan menembus daratan Tiongkok via satelit. Sebagai media saudara dari The Epoch Times, tempat ini terasa seperti rumah yang sempurna bagi Li.”

“Langkah Li diikuti oleh sang putri, Fuyao. Ia memilih menapak jalan yang sama dengan sang ayah dengan mendalami dunia penyiaran dan narasi. Kini, Fuyao telah bergabung bersama ayahnya di NTD dan resmi menjadi seorang pembaca berita.”

Setiap kali saya mengerjakan berita tentang penindasan Falun Gong di Tiongkok, gambar-gambar itu terasa begitu menyayat hati; mereka membangkitkan kembali begitu banyak kenangan pahit,” tutur Fuyao. “Namun, justru karena hal-hal mengerikan ini masih terus terjadi, kami memikul tanggung jawab besar untuk mengungkapnya ke mata dunia”

Fuyao menikah tahun lalu, dan kini mereka berempat tinggal di sebuah apartemen sederhana di Queens, New York. Di rumah yang penuh kebahagiaan itu, ikatan keluarga mereka terasa begitu erat. Wang sesekali merapikan helai rambut dari mata Fuyao; Li dan Wang sesaat saling menggenggam tangan. Mereka masih sering saling menatap satu sama lain, seolah masih sulit memercayai bahwa kebersamaan ini bukanlah sebuah mimpi.

Namun, meski kedamaian telah rengkuh, kenangan pahit itu tak pernah benar-benar pergi jauh.

Wang mencoba menjelaskan apa yang ia rasakan: “Terkadang, saat sedang sendirian dan mengenang kembali masa-masa di penjara, saya sadar bahwa jika bukan karena keyakinan saya pada Falun Dafa, saya tidak akan mungkin bisa bertahan. Rasa sakit itu… bukan hanya soal fisik. Itu adalah jenis rasa sakit yang berbeda”

“Anda bukan orang jahat, Anda bahkan hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, rezim itu menggunakan cara-cara yang paling biadab dan keji—hal yang tak mampu dibayangkan oleh orang baik sekalipun,” ungkap Wang. “Mereka menyerang psikis Anda, berusaha menghancurkan Anda hingga ke dasar jiwa. Tujuannya bukan sekadar menyiksa fisik, melainkan merusak mental hingga Anda kehilangan akal dan tak lagi memiliki harapan untuk hidup.

Menurut data dari Pusat Informasi Falun Dafa, seorang praktisi Falun Gong tewas dalam tahanan polisi setiap tiga hari sekali—dan angka itu hanya mencakup kasus-kasus yang telah terverifikasi

Irene Luo berkontribusi dalam laporan ini..

Artikel asli dari The Epoch Times dapat dibaca di sini: http://www.theepochtimes.com/n3/2213514-life-after-torture/

Share