Menjaga Keyakinan dan Kasih: Tahun Kelima Merayakan Valentine dalam Perpisahan

Di sebuah wawancara dengan Pusat Informasi Falun Dafa, Sunny Wang menceritakan bahwa Hari Valentine kali ini menjadi peringatan yang menyakitkan—tahun kelima ia harus melewati hari tersebut tanpa suami tercinta, Ren Haifei. Terpisahkan oleh jarak dan kenyataan pahit karena pemenjaraan yang tidak adil. Wang, mantan perawat dan suaminya menunjukkan bahwa kasih sayang serta keyakinan teguh mereka tetap bertahan melawan penganiayaan rezim Tiongkok yang terus mencoba mematahkan semangat mereka.

Setia pada ikatan mereka

Pertemuan pertama Ren dan Wang yang menentukan terjadi di sebuah konferensi berbagi pengalaman latihan oleh para praktisi muda Falun Gong di Dalian pada tahun 1990-an. Keduanya datang sendiri-sendiri. Hubungan yang awalnya hanya pertemanan biasa itu tumbuh menjadi ikatan mendalam. Ren Haifei lahir pada tahun 1975, adalah pemuda ramah, cerdas, dan suka menolong. Sunny Wang calon perawat berusia dua puluhan, sibuk membagi waktu antara belajar dan bekerja demi meraih cita-citanya.

Mereka menjalin persahabatan selama lebih dari sepuluh tahun, saling berbagi pemahaman dan keyakinan pada Falun Gong—sebuah disiplin spiritual yang membentuk perjalanan hidup mereka. Pernikahan mereka diresmikan pada 27 Maret 2012, tanggal yang dipilih karena makna khususnya. Tanggal itu memperingati momen pada tahun 1994 saat Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong, datang ke Dalian untuk memberikan ajarannya.

Wang mengenang bagaimana komitmen bersama mereka terhadap prinsip Sejati, Baik, dan Sabar membantu mereka membangun kehidupan yang didasari oleh nilai-nilai moral yang kuat dan sikap saling mendukung.

Hancur akibat penganiayaan

Namun, keyakinan Ren yang teguh membuatnya menjadi sasaran penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Pengalaman pahit pertamanya dalam penahanan kejam dimulai pada awal 2001, saat ia ditangkap karena membuat materi informasi tentang Falun Gong. Divonis oleh Pengadilan Distrik Ganjingzi, ia menjalani hukuman kejam selama tujuh setengah tahun dalam kondisi brutal—termasuk sel isolasi, mogok makan, dan penyiksaan berat di penjara Liaoyang dan Dalian.

Seperti yang lainnya, Ren disiksa dengan sangat berat. Ia dikurung sendirian di dalam ruangan berukuran sekitar satu meter persegi selama berhari-hari, dengan tangan dan kaki dibelenggu.

Bahkan setelah dibebaskan pada tahun 2008, bayang-bayang penindasan negara tetap menghantui hidupnya. Ren sering menangis saat menceritakan pembunuhan brutal terhadap para praktisi Falun Gong di sekitarnya selama berada di dalam penjara.

Ren ditahan secara ilegal dan disiksa dengan sangat kejam di Penjara Huazi, Kota Liaoyang, Provinsi Liaoning selama masa hukuman penjara pertamanya.

Mimpi buruk itu terulang kembali pada Juni 2020. Ren ditangkap lagi—kali ini oleh petugas yang bahkan tidak menunjukkan identitas resmi saat menangkapnya.

Pihak berwenang tidak hanya menyita sejumlah besar uang tunai dan peralatan komputer berharga dari tempat tinggalnya, tetapi juga memukulinya dengan sadis. Dalam satu hari yang sangat brutal, Ren mengalami gagal jantung dan gagal ginjal. Kesehatannya menurun drastis. Ia dilarikan ke ruang gawat darurat dan menghabiskan 19 hari di Rumah Sakit Xinhua Dalian. Tak lama kemudian, ia dipindahkan ke Pusat Penahanan Yaojia Dalian dan kemudian dikirim ke Penjara Jinzhou di Provinsi Liaoning, tempat ia ditahan hingga saat ini.

Ren masih ditahan di Penjara Jinzhou hingga saat ini.

Pada Oktober 2021, Pengadilan Distrik Ganjingzi menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Ren dan denda sebesar 100.000 yuan. Meskipun pasangan ini sudah mencoba menempuh jalur hukum untuk mengajukan pengadilan ulang, Pengadilan Menengah Dalian tetap dengan putusan tersebut tanpa pemeriksaan yang adil pada Januari 2022. Hal ini menunjukkan bagaimana proses hukum yang benar selalu diabaikan dalam kasus-kasus terkait Falun Gong.

Perjuangan tanpa henti demi kebebasan

Terpisah ribuan mil—Ren Haifei di penjara Tiongkok dan Sunny Wang di New York—ia sangat menderita karena perpisahan fisik tersebut. Namun, Wang menolak menyerah pada keputusasaan. Sejak ia mengetahui penangkapan kembali suaminya, ia mengerahkan segala sumber daya yang dimilikinya.

Menyewa pengacara Tiongkok untuk melacak keberadaan suaminya hanyalah langkah pertama dalam misi penyelamatan panjang yang dipersulit oleh pihak berwenang Tiongkok. Sebelumnya, ia diancam melalui telepon oleh seorang hakim Tiongkok yang menangani kasus Ren. “Kembalilah ke Tiongkok,” kata Hakim Jin kepada Wang. “Aku akan memasukkanmu ke penjara juga.”

Tanpa rasa takut, Wang bersama teman-teman dan sesama praktisi Falun Gong membawa perjuangannya ke tingkat internasional. Pada Juli 2020, mereka mendatangi Markas Besar PBB dan Konsulat Tiongkok di New York untuk mendesak pembebasan Ren. Kemudian, pada 18 Juli 2021, ia menyampaikan kasus ini langsung kepada pejabat pemerintah dengan menghadiri pertemuan warga bersama Anggota Kongres Sean Patrick Maloney untuk meminta bantuan membebaskan suaminya.

Laporan Hak Asasi Manusia tahun 2021 yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS telah mencatat kasus Ren sebagai contoh nyata penangkapan sewenang-wenang dan penahanan tanpa pengadilan yang berkepanjangan. Hal ini membuktikan bahwa pemenjaraan Ren bukan hanya tragedi pribadi, tetapi juga pengingat nyata akan kejamnya pelanggaran HAM yang dialami para praktisi Falun Gong di Tiongkok.

Malam-malam tanpa tidur karena perpisahan

Setiap Hari Valentine, Wang terpaksa menghadapi kekosongan mendalam yang ditinggalkan oleh ketidakhadiran Ren.

“Saya sering teringat kembali pada suara dan senyumnya, saat-saat indah yang kami lalui bersama, serta kebaikan dan kesederhanaan hatinya. Kenangan berharga ini selamanya terukir di hati saya,” akunya.

“Saya terus-menerus mengkhawatirkan kesehatan fisik dan mentalnya, namun saya juga takut mendengar kabar apa pun yang mungkin membenarkan kecemasan terburuk saya. Bertahun-tahun penganiayaan yang kejam telah memberikan dampak buruk mendalam pada hidupnya, dan bayang-bayang mengerikan itu sulit untuk dihilangkan.” —Sunny Wang

Hari Valentine kelima yang mereka lalui terpisah ini membuktikan kesetiaan abadi mereka satu sama lain dan terhadap latihan Falun Gong. Perjalanan hidup mereka didasari oleh rasa saling menghormati, keyakinan yang sama, dan komitmen yang tidak bisa dipatahkan.

Bahkan di tengah penderitaan yang sangat berat, Wang tetap teguh harapannya. Setiap hari yang ia lalui tanpa suaminya bukan hanya menambah rasa sakit karena perpisahan, tetapi juga semakin memperkuat cinta mereka dan keteguhan keyakinan mereka.

‘Harga’ kemanusiaan

Penderitaan Ren Haifei yang berkepanjangan bukanlah sekadar tragedi pribadi; ini adalah masalah hak asasi manusia yang menuntut komunitas internasional agar melawan penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan yang disahkan oleh negara. Penderitaannya mencerminkan apa yang dialami oleh banyak praktisi Falun Gong lainnya: penangkapan sewenang-wenang, kerja paksa, dan bahkan ancaman mengerikan pengambilan organ paksa—sebuah kejahatan yang dituduhkan oleh badan-badan HAM internasional kepada pihak berwenang Tiongkok.

Sementara Sunny Wang berjuang tanpa lelah untuk pembebasan suaminya, kisahnya juga menjadi pengingat yang menyentuh bahwa cinta dan keyakinan dapat bertahan bahkan di masa-masa yang paling gelap sekalipun.

Di Hari Valentine ini, saat dunia merayakan kasih sayang, Wang terus menjaga keyakinan dan cintanya—sebuah titik harapan di tengah kegelapan ketidakadilan. Kesetiaannya yang luar biasa kepada Ren tidak hanya menghormati sucinya ikatan mereka, tetapi juga mengajak kita semua untuk merenungkan betapa mahalnya harga dari penindasan hak asasi manusia serta kuatnya semangat yang bisa dibangkitkan oleh cinta.

Share