Pada Peringatan ke-24 Tewasnya Praktisi Falun Gong Pertama dalam Tahanan dan Upaya Penutupan Kasus, Kekejaman Mematikan Terus Berlanjut
Chen Ying, praktisi Falun Gong pertama yang tewas selama penganiayaan terhadap latihan tersebut pada 16 Agustus 1999
Praktisi Falun Gong pertama yang tewas selama penganiayaan terhadap Falun Gong adalah Chen Ying, seorang remaja putri berusia 17 tahun yang ditangkap karena melakukan aksi bela hak untuk latihan Falun Gong di Beijing, dan tewas saat berupaya melarikan diri dari tahanan polisi pada 16 Agustus 1999.
Dua puluh empat tahun kemudian, kasus-kasus tragis praktisi Falun Gong yang tewas karena keyakinan mereka oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus bermunculan. Sementara itu, otoritas Tiongkok terus berupaya menghindari tanggung jawab dengan melabeli kasus tewasnya para praktisi tersebut secara keliru sebagai bunuh diri atau akibat masalah kesehatan.
Kematian Tragis Remaja Putri Berusia 17 Tahun
Beberapa hari setelah sekolah Chen di Kota Jiamusi, Provinsi Heilongjiang, menganugerahinya penghargaan siswa teladan, siswi kelas sepuluh tersebut melakukan perjalanan jauh hampir 1.000 mil ke Beijing pada 22 Juli 1999 untuk membela haknya dalam bebas latihan Falun Gong. Ia termasuk di antara praktisi Falun Gong pertama yang melakukan aksi bela hak menyusul penangkapan massal terhadap para praktisi dua hari sebelumnya pada 20 Juli 1999.
Pada 29 Juli, seminggu setelah Chen mendatangi Kantor Banding Dewan Negara, polisi Beijing menahan remaja putri berusia 17 tahun tersebut secara sewenang-wenang. Polisi menahan Chen Ying di sebuah kantor polisi di Beijing hingga seorang komisaris dari Kantor Polisi Kota Jiamusi datang untuk mengawalnya kembali ke kampung halamannya untuk dimasukkan ke dalam tahanan. Di dalam kereta tujuan Qinhuangdao dari Beijing pada 16 Agustus, polisi menganiaya dan mengancam Chen saat ia diborgol ke rak bagasi.
Setelah berjam-jam mengalami intimidasi, Chen berupaya melarikan diri dari tahanan dan melompat dari jendela toilet kereta. Ia sempat berusaha kabur dengan berjalan kaki, namun kemudian jatuh tak sadarkan diri akibat luka-luka yang dialaminya saat melompat. Saat Chen dalam keadaan koma, polisi membawanya ke Rumah Sakit Fengrun di Provinsi Hebei, di mana mereka mengambil keputusan untuk mencabut alat bantu hidupnya tanpa persetujuan pihak keluarga.
Chen tewas pada malam itu, 16 Agustus 1999, dan menjadi praktisi Falun Gong pertama yang kehilangan nyawa dalam apa yang kini menjadi penganiayaan selama 24 tahun yang telah menyebabkan tewasnya lebih banyak orang lagi.
Laporan Palsu oleh Otoritas dan Media Pemerintah
Tiga hari setelah kematian Chen, China Central Television (CCTV) melaporkan secara keliru bahwa Chen Ying, ‘yang telah linglung dan telah berulang kali mencoba bunuh diri, tewas setelah melompat dari kereta saat keluarganya sedang lengah.’ Manipulasi kasar terhadap peristiwa dan karakterisasi keliru terhadap praktisi Falun Gong ini akan menjadi hal umum dalam kasus-kasus kematian Falun Gong; selama 24 tahun terakhir, banyak kasus tewasnya praktisi Falun Gong dalam tahanan dilaporkan sebagai bunuh diri atau akibat masalah kesehatan demi mengalihkan tanggung jawab apa pun dari otoritas Tiongkok.
Terlebih lagi, dalam kasus-kasus seperti ini, kematian tersebut telah digunakan untuk menyusun narasi propaganda yang mendehumanisasi praktisi Falun Gong dengan melabeli mereka sebagai penderita sakit jiwa.
Praktik ini menjadi semakin umum setelah pertemuan pada November 1999, di mana para pemimpin Kantor 610 memanggil 3.000 pejabat PKT ke Balai Agung Rakyat dan mengumumkan kebijakan baru pemerintah terhadap Falun Gong: “merusak reputasi mereka, membangkrutkan mereka secara finansial, dan menghancurkan mereka secara fisik”.
Dalam banyak kasus, para praktisi Falun Gong yang sebelumnya ditahan di Tiongkok melaporkan bahwa penjaga penjara dan petugas polisi melontarkan pernyataan saat melakukan penyiksaan bahwa tidak masalah jika praktisi tersebut tewas, karena hal itu akan dianggap sebagai bunuh diri.
Demikian pula, banyak kasus yang juga dianggap sebagai akibat penyebab alami, seperti dalam kasus Pang Xun, seorang penyiar radio berusia 30 tahun dari Sichuan. Otoritas Penjara Leshan Jiazhou mengklaim Pang tewas akibat hipertiroidisme, namun rekaman video jenazahnya dengan jelas menunjukkan bahwa ia tewas dipukuli, sementara pihak keluarganya melaporkan bahwa ia tidak memiliki riwayat penyakit serius.

5.000 Kasus Tewasnya Praktisi yang Terdokumentasi
Dalam sebuah tonggak sejarah yang tragis, jumlah kasus tewasnya praktisi yang didokumentasikan oleh Minghui melampaui 5.000 pada Juni 2023. Hampir 24 tahun setelah tewasnya Chen Ying, profesor purnabakti An Fuzi tewas di Penjara Wanita Provinsi Jilin pada 22 Mei 2023, menyusul dua tahun masa tahanan. Tewasnya An, seorang Wanita etnis Korea yang tinggal di Tiongkok, menandai salah satu kasus terbaru yang terdokumentasi yang membawa total angka tersebut melampaui 5.000.
Mengingat besarnya kesulitan dan risiko yang terlibat dalam mendokumentasikan kasus-kasus penganiayaan Falun Gong—baik bagi individu yang melaporkan maupun bagi anggota keluarga korban yang sering menghadapi intimidasi—angka ini dipastikan menunjukkan jumlah korban tewas yang jauh lebih tinggi.










