Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong — Penjara Rahasia untuk Menyiksa Praktisi Falun Gong

Berdasarkan laporan asli dari Minghui.org

“Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong,” yang juga dikenal sebagai “Sekolah Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong” dan “Pusat Pencucian Otak Sanshui,” adalah sebuah penjara rahasia yang dioperasikan di Distrik Sanshui, Kota Foshan, oleh Kantor 610 Provinsi Guangdong. Tujuan utama institusi ini adalah melakukan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong yang teguh, dengan menggunakan teknik-teknik brutal untuk memaksa mereka melepaskan keyakinannya.

Latar belakang

Sekolah Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong didirikan pada Mei 2001, khusus untuk penganiayaan praktisi Falun Gong yang bekerja di kantor-kantor provinsi dan lembaga pendidikan tinggi. Institusi ini diperluas pada April 2003 menjadi Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong, yang berafiliasi dengan Administrasi Pendidikan Ulang melalui Kerja Provinsi. Sistem kamp kerja paksa dihentikan pada 2013, dan sejak itu institusi ini beroperasi langsung di bawah Biro Kehakiman Provinsi Guangdong—seluruh pegawainya adalah polisi dari biro tersebut dan direkturnya ditunjuk oleh biro. Pusat ini juga berafiliasi dengan Pusat Administrasi Narkoba Provinsi Guangdong.

Saat ini pusat tersebut mempekerjakan lebih dari 100 orang, termasuk asisten dan personel keamanan. Sekitar 60 hingga 70 di antaranya adalah polisi.

Operasi bergaya mafia

Menurut statistik, setidaknya 1.240 praktisi telah mengalami penganiayaan di pusat tersebut hingga Agustus 2012. Jumlah praktisi yang dibawa ke pusat tersebut meningkat setelah sistem kamp kerja paksa dihentikan pada 2013. Diperkirakan lebih dari 3.000 praktisi telah mengalami penganiayaan di pusat tersebut selama 20 tahun terakhir.

Para praktisi biasanya ditangkap oleh departemen keamanan tempat mereka bekerja, dan rekan kerja mereka ditugaskan untuk memantau mereka. Praktisi yang pernah pergi ke Beijing untuk mengajukan banding atas hak berlatih Falun Gong, pernah ditahan sebelumnya, atau dianggap teguh dalam latihan, dikirim ke pusat tersebut untuk mengalami penganiayaan. Tidak ada prosedur hukum atau bukti yang diperlukan untuk memasukkan praktisi ke pusat pencucian otak ini, dan masa penahanannya pun tidak ditentukan.

Jika pihak berwenang tidak memiliki bukti untuk menuntut praktisi, atau jika praktisi menolak untuk “ditransformasi” setelah masa hukumannya berakhir, mereka akan terus dikirim ke pusat tersebut untuk mengalami penganiayaan lebih lanjut.

Pencucian otak dengan kekerasan

Berikut rincian proses pencucian otak…

Pusat tersebut akan membuat profil untuk setiap praktisi. Profil ini berisi analisis mendalam mengenai alasan praktisi berlatih Falun Gong serta tipe kepribadian mereka. Selain itu, profil tersebut juga merinci riwayat penganiayaan yang dialami praktisi. Praktisi yang tetap teguh dalam latihan dan mereka yang menolak untuk “ditransformasi” setelah masa hukumannya berakhir akan dikategorikan sebagai “Sulit untuk ‘ditransformasi'” dan menjadi target khusus.

Para praktisi tersebut ditahan dalam isolasi dan dua asisten ditugaskan untuk memantau mereka selama 24 jam penuh. Para asisten tersebut menggunakan kombinasi tipu daya dan kekerasan untuk memaksa praktisi melepaskan keyakinan mereka. Praktisi tidak diperbolehkan meninggalkan kamar mereka dan tidak ada privasi karena setiap kamar dilengkapi dengan kamera pengawas. Makanan pun diantarkan oleh asisten tersebut.

Durasi tahap “pendidikan korektif” bervariasi. Tahap ini berakhir setelah para praktisi menulis pengalaman belajar dan “Lima Pernyataan”, yaitu: surat jaminan untuk berhenti berlatih, surat penyesalan atas keterlibatan dalam Falun Gong, surat pernyataan memutuskan hubungan dengan Falun Gong, surat kecaman untuk mengkritik Falun Gong, dan surat pengakuan.

Setelah praktisi menulis “Lima Pernyataan”, para asisten mengajukan permohonan agar praktisi dipindahkan ke ‘Tahap Penguatan”. Praktisi memasuki tahap penguatan setelah tim korektif dan pihak otoritas di pusat pencucian otak memberikan persetujuan.

Pada tahap ini, praktisi memiliki sedikit kebebasan dan dapat berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan olahraga, namun mereka tetap harus menjalani pencucian otak. Praktisi dipaksa untuk memberikan kritik mendalam terhadap Falun Gong, mengikuti ujian, serta menulis pengalaman mingguan mengenai materi yang telah dipelajari dan proses mereka saat “ditransformasi”. Praktisi juga dipaksa untuk mengkhianati sesama praktisi yang dekat dengan mereka. Pihak otoritas kemudian menggunakan informasi tersebut untuk melakukan penindasan terhadap lebih banyak praktisi.

Tahap ini berakhir ketika pusat pencucian otak menilai praktisi telah memenuhi syarat untuk lanjut ke tahap berikutnya.

Tim tersebut harus mengajukan permohonan agar praktisi dapat memasuki “Tahap Penilaian”.

Pada tahap ini, departemen pendidikan mengajukan permohonan “sertifikasi” kepada direktur untuk mendapatkan persetujuan. Pusat pencucian otak kemudian memberi tahu Kantor 610 setempat di tempat tinggal praktisi untuk menjemput praktisi tersebut, yang akan diizinkan pergi setelah lulus pemeriksaan sertifikasi.

Taktik Brutal

Saat praktisi pertama kali tiba di pusat pencucian otak, petugas polisi bersikap ramah dan pengertian saat berbincang dengan mereka. Tujuannya adalah membangun kedekatan palsu dan mencegah praktisi melakukan perlawanan. Kemudian, seorang staf berinteraksi dengan praktisi sementara seorang asisten memutar video yang memfitnah Falun Gong.

Pihak otoritas kemudian menunjukkan wajah aslinya dan mulai melakukan kekerasan terhadap praktisi begitu mereka mulai melawan upaya pencucian otak.

Wu Chaoqi seorang pria asal Kota Maoming ditangkap petugas Kantor Polisi Tianyuan pada 16 Januari 2017 karena memasang stiker informasi mengenai penganiayaan Falun Gong. Ia ditahan selama sebulan di Pusat Penahanan Distrik Tianhe sebelum dibawa ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong. Di sana, ia ditempatkan di sebuah ruangan dan diawasi dua asisten selama 24 jam.

Penyiksaan: Dipaksa menonton video yang memfitnah Falun Gong.

Seorang asisten memutar video yang memfitnah pendiri Falun Gong dengan volume tinggi. Saat Wu menolak menonton, kedua asisten menyeretnya ke kursi dan memaksanya duduk. Mereka juga pernah menyeretnya turun dari tempat tidur saat ia mencoba bermeditasi.

Cao Liping seorang wanita asal Kota Lechang ditangkap pada 13 April 2018 karena mengupayakan pembebasan suaminya, Liang Jianjun, yang ditangkap karena berlatih Falun Gong. Di Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong, petugas mengatakan bahwa semua orang di pusat pencucian otak pasti “diubah”, bahkan ada yang baru “diubah” setelah ditahan satu setengah tahun. Mereka mengancam akan mengirimnya ke pusat penahanan, penjara, pengadilan, atau rumah sakit jiwa jika ia menolak untuk “diubah” pada bulan Juni.

Polisi sering memaki dan mendorong Cao hingga ia merasa cemas. Setelah pulang, kondisi mental dan fisik Cao memburuk. Daya ingatnya menurun dan ia kesulitan mengingat peristiwa masa lalu.

Praktisi langsung diberi makan secara paksa begitu melakukan aksi mogok makan. Salah satu ujung selang sengaja diruncingkan untuk menusuk tenggorokan atau lambung. Terkadang, potongan daging ikut terbawa keluar melalui hidung saat selang ditarik.

Penyiksaan: Pemberian makan secara paksa

Zou Xuemei, wanita dari Kota Zhanjiang ditangkap pada Februari 2004 dan dibawa ke Pusat Pencucian Otak Qizhong. Ia dipindahkan ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong karena melawan penindasan tersebut. Saat Zou melakukan mogok makan, selang yang ujungnya diruncingkan dimasukkan ke hidungnya hingga ia mulai berdarah. Zou berteriak kesakitan saat selang itu dimasukkan ke lambungnya. Wakil direktur mengancam akan memberinya makan secara paksa sekali sehari. Jika ia menolak makan atau menolak untuk “diubah”, mereka mengancam akan memberinya makan secara paksa dua atau tiga kali sehari.

Luo Dongsheng , pria dari Kota Meizhou dipindahkan dari Pusat Penahanan Meizhou ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong pada 18 Februari 2011. Selama lima bulan berikutnya, ia melakukan tiga kali mogok makan dengan total 70 hari untuk memprotes penyiksaan. Para penjaga memberinya makan secara paksa setiap tiga hingga empat hari. Mereka menggunakan pemberian makan secara paksa sebagai cara untuk menyiksanya, dengan menarik selang naik-turun melalui hidungnya secara kasar hingga menyebabkan pendarahan. Ia muntah setiap kali dilakukan. Saat itu ia baru berusia 40 tahun dan mengalami penurunan berat badan yang drastis.

Dikenal sebagai teknik bela diri, “Sentuhan Maut” memengaruhi titik-titik saraf tubuh dan dapat melumpuhkan seseorang atau bahkan menyebabkan kematian. Pusat pencucian otak menggunakan “Sentuhan Maut” untuk menyiksa praktisi yang teguh dalam latihan mereka.

Yang Zai, wanita  dari Kota Zhanjiang ditangkap pada September 2003 dan dibawa ke Pusat Pencucian Otak Suixi. Ketika ia menolak untuk melepaskan keyakinannya, ia dipindahkan ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong pada akhir tahun 2003 dan ditahan selama tiga bulan.

Yang Zai menceritakan bahwa ia sering dipukuli oleh tiga asisten. Sambil memukulinya, para asisten itu juga menekan titik-titik saraf di kepala, jantung, dan tangannya, yang membuatnya kehilangan kesadaran. Ia juga merasa pusing. Saat itu, tangan, kaki, kepala, dan banyak bagian tubuhnya memiliki bekas luka hitam dan tubuhnya bengkak. Wajahnya berubah menjadi kuning kehitaman. Ia juga kehilangan nafsu makan.

Otoritas secara sistematis meracuni asupan makanan para praktisi atau menyuntikkan zat kimia yang tidak teridentifikasi untuk memaksa mereka “berubah keyakinan” saat berada dalam kondisi mengigau. Sejumlah praktisi dilaporkan tewas akibat efek keracunan kronis setelah dibebaskan dari tahanan.

Pihak kepolisian mencampurkan zat beracun ke dalam asupan makanan Liang Xiaoxia wanita asal Kota Maoming saat ia ditahan di Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong. Liang tidak menyadari hal tersebut pada saat itu. Setelah kembali ke rumah, ia mengalami gangguan mental dan kebingungan. Liang menghancurkan seluruh perabotan rumah tangga, termasuk peralatan masak, kompor gas, penanak nasi, dan kipas angin, serta membuang bahan makanan yang ada. Keluarga akhirnya terpaksa berutang untuk membiayai pengobatan medisnya.

Pada 28 Mei 2007, agen Kantor 610 Kabupaten Mei bersama aparat kepolisian menerobos kediaman Liu Dong’e wanita asal Kota Meizhou dan menangkapnya secara paksa. Aparat melumpuhkan korban dengan menahannya ke lantai sebelum memborgol dan membawanya ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong.

Selama mogok makan dalam tahanan, Liu menerima asupan nutrisi secara paksa oleh sepuluh petugas. Seorang instruktur kemudian menganiaya Liu dengan menghantam kepala dan tubuhnya menggunakan tumit sepatu. Setelah dipindahkan ke rumah sakit jiwa dan disuntik zat kimia misterius, Liu mengalami pembengkakan kepala, kebutaan, dan luka lebam di sekujur tubuh. Ia dibebaskan tiga bulan kemudian dalam kondisi sekarat akibat penyiksaan sistematis.

Kematian dan Cedera Berat

Wu Baimei, seorang pengusaha wanita berusia 48 tahun asal Kota Foshan yang memiliki beberapa perusahaan, dijebloskan ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong pada 9 November 2011. Meski suaminya telah mengajukan permohonan pembebasan, pihak otoritas berdalih bahwa kasus Wu berada di bawah yurisdiksi Pemerintah Pusat karena keterkaitannya dengan praktisi di berbagai provinsi, sehingga otoritas setempat tidak memiliki wewenang untuk membebaskannya.

Wu dibebaskan pada 27 Maret 2012, namun tewas secara misterius dua hari berselang. Saat ditemukan, bibir dan kuku korban membiru. Selain itu, perut korban mengalami pembengkakan yang sangat ekstrem.

Saat dibebaskan, kondisi fisik korban tampak pucat. Keesokan harinya, ia mengeluhkan nyeri dada namun tidak segera mendapat penanganan medis. Pada 29 Maret, saat berada di supermarket bersama suaminya, korban tiba-tiba mengalami pelemahan otot kaki hingga kehilangan kemampuan untuk melangkah. Korban sempat berujar, “Saya tidak kuat lagi,” sebelum jatuh pingsan. Meski segera dilarikan ke rumah sakit, korban tidak pernah sadarkan diri dan dinyatakan tewas pada pukul 21.00 malam di hari yang sama.

Wu Yuyun lansia 60 tahun, seorang wanita pensiunan guru dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kota Jiangmen, Provinsi Guangdong, ditangkap dan dijebloskan ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong pada 14 Agustus 2003. Saat seluruh taktik indoktrinasi paksa gagal untuk ‘mengubah keyakinan’ korban, otoritas secara sengaja meracuni asupan makanannya. Ketika kondisi kesehatan Wu memburuk akibat racun tersebut, pihak kepolisian tidak memberikan penanganan medis. Sebaliknya, mereka membawa praktisi lain ke kamar Wu untuk menyaksikan penderitaannya sebagai bentuk intimidasi. Setelah kondisinya menjadi sangat kritis, korban dipulangkan dan akhirnya tewas pada September 2004.

Yang Xueqin lansia usia 65 tahun, seorang wanita pensiunan pejabat dari Departemen Perhubungan Provinsi Guangdong, ditahan saat sedang bekerja pada Agustus 2002. Korban kerap dikepung oleh belasan petugas yang berupaya melakukan indoktrinasi paksa terhadapnya. Selain itu, Yang mengalami perampasan waktu tidur dan hukuman berdiri dalam waktu lama. Korban dilaporkan tewas pada September atau Oktober tahun yang sama.

Pasca-kematian Yang, koresponden Minghui menghubungi otoritas terkait di Departemen Perhubungan dan Kantor 610. Pihak Departemen Perhubungan menyatakan bahwa korban tewas akibat pendarahan otak, sementara Kantor 610 mengeklaim bahwa Yang tewas karena mogok makan saat sedang menjalani kelas hukum. Petugas tidak memberikan penjelasan mengapa korban melakukan mogok makan ataupun alasan mengapa penanganan medis tidak segera diberikan.

bruises on ms fen hua
Kondisi memar pada tubuh Wen Fenhua saat ia dibebaskan dari tahanan

Wen Fenhua, wanita warga Kabupaten Jiexi, ditangkap pada 24 Juni 2004 dan dijebloskan ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong. Saat itu, Wen baru saja melahirkan dan harus menyusui bayinya. Setelah suaminya dan ibu mertuanya berulang kali menuntut pembebasannya—dengan merujuk pada hukum Tiongkok yang melarang penahanan terhadap ibu menyusui—Wen akhirnya dibebaskan pada hari berikutnya.

Pada 30 Mei 2005, Wen ditangkap kembali oleh sekelompok petugas yang dipimpin oleh Wakil Sekretaris Komite Politik Jiexi, Chen Jihua, Kepala Cabang Pertama Departemen Kepolisian, Lin Shaoxin, serta agen Kantor Pemerintah Mianhu, Guo Lewei, bersama belasan petugas kepolisian lainnya. Penangkapan dilakukan dengan dalih bahwa anak Wen telah berusia satu tahun. Korban kemudian kembali dijebloskan ke Pusat Pendidikan Hukum Provinsi Guangdong.

Sekitar pukul 22.00 pada 17 Juni, Kepala Kantor Keamanan Publik, Huang, mendatangi kediaman Wen dan memerintahkan suaminya untuk membuka pintu dengan dalih bahwa Wen sedang dalam perjalanan pulang. Sang suami membuka pintu namun tidak mendapati istrinya. Huang kemudian menyatakan bahwa Wen berada di dalam mobil van. Sang suami memeriksa van tersebut dan melihat seorang wanita tengah membantu Wen untuk duduk. Wen tampak bersandar pada dinding kendaraan dalam kondisi tidak mampu bergerak. Meski suaminya memanggil namanya berulang kali, Wen hanya mampu menjawab satu kali dengan suara yang sangat lemah. Perlu bantuan empat orang—suami, dua pria lain, dan seorang wanita—untuk menggotongnya masuk ke dalam rumah.

Ketika suami korban menanyakan kondisi istrinya, Huang berdalih bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh aksi mogok makan yang dilakukan korban. Dengan susah payah, Wen menyangkal klaim tersebut dengan menyatakan, “Saya makan.” Setelah dibaringkan, tubuh Wen sudah terlalu lemah untuk menopang dirinya sendiri.

Selama dua hari berikutnya, Wen membutuhkan bantuan untuk makan dan ke kamar mandi. Korban juga harus dibantu saat hendak membalikkan badan, dengan mata yang terus tertutup. Ketika dipanggil, ia hanya mampu merespons dengan gumaman yang sangat lemah. Selain itu, ditemukan banyak bekas memar pada kaki Wen, dengan beberapa luka yang masih mengeluarkan darah. Pergelangan tangan serta punggung tangannya dipenuhi bekas suntikan dan luka parut berwarna biru gelap. Sangat besar kemungkinan bahwa korban telah disuntik dengan zat obat yang tidak diketahui.

Wen memiliki empat anak—yang termuda baru berusia satu tahun—serta orang tua berusia di atas 70 tahun. Kini, ia tidak lagi mampu mengurus keluarga yang sepenuhnya bergantung padanya akibat kondisi fisik yang hancur pasca-penahanan.

Share