Lansia 85 Tahun Kembali Dijatuhi Hukuman Akibat Latihan Falun Gong
Pengadilan kabupaten yuncheng, provinsi shandong (minghui/diedit oleh faluninfo)
Februari 2025, Pengadilan Wilayah Yuncheng menjatuhkan vonis satu tahun penjara dan denda sebesar 5.000 yuan terhadap Wang Xiangling (85), seorang warga Provinsi Shandong, karena berlatih Falun Gong.
Berdasarkan laporan Weiquanwang, situs yang menghimpun laporan pelanggaran hak asasi manusia dari para aktivis di seluruh China, menyoroti kasus ini sebagai bentuk eskalasi penindasan yang mengkhawatirkan. Langkah hukum ini menambah panjang daftar penindasan otoritas setempat terhadap para praktisi Falun Gong dari kalangan lanjut usia (lansia) di wilayah tersebut
Pola Penganiayaan
Kasus yang menimpa Wang Xiangling merupakan bagian dari kampanye penindasan yang lebih luas terhadap praktisi Falun Gong. Pada 11 Juli 2024, otoritas di Wilayah Juye melancarkan aksi penangkapan massal yang berujung pada penahanan enam praktisi serta penggeledahan paksa di kediaman mereka. Para tahanan tersebut seluruhnya merupakan warga lanjut usia dengan rentang usia yang bervariasi. Selain Wang Xiangling yang kini berusia 80-an, daftar tahanan mencakup Ma Xiuqin (70-an), serta Xu Baoqin, Liu Qiuxia, dan Cao Xiuzhi yang rata-rata berusia 60-an. Sementara itu, praktisi termuda dalam kelompok tersebut adalah Wang Yanling yang berusia 50-an.
Operasi ini mencerminkan kian intensifnya upaya otoritas setempat dalam menekan Falun Gong—sebuah latihan spiritual yang menghadapi penganiayaan sejak dimulainya penindasan secara nasional pada Juli 1999.
Hidup yang Berubah berkat Latihan Falun Gong
Sebelum penindasan bermula, Wang menjalani kehidupan yang terbebani oleh penyakit kronis. Pada Juli 1998, saat ia mulai menekuni latihan Falun Gong, kondisi artritis reumatoid akut, penyakit kulit yang menyakitkan, serta gangguan penglihatan yang ia derita sangat melumpuhkan aktivitasnya. Dikenal sebagai sosok perempuan penyakitan yang kesulitan menjalani tugas sehari-hari, ia akhirnya menemukan harapan dalam ajaran sejati, baik, dan sabar.”
Menurut laporan yang terdokumentasi di Minghui, kondisi kesehatannya membaik secara drastis setelah ia mulai menjalankan latihan Falun Gong. Transformasi ini menjadikannya sosok yang tangguh dan penuh kasih di lingkungannya. Ia bahkan merawat ibu mertuanya di rumah hingga akhir hayat, sebuah bentuk pengabdian dan kebaikan yang membuahkan pujian dari pihak keluarga mertuanya.”
Riwayat Penindasan oleh Negara
Sejak Partai Komunis Tiongkok memulai penganiayaan terhadap Falun Gong pada 1999, Wang telah berulang kali menjadi sasaran represi negara.
Akhir 1999 & 2000: Pasca digelarnya penindasan secara nasional, ia melakukan perjalanan ke Beijing untuk mengajukan petisi guna menentang penganiayaan tersebut. Pada Desember 2000, kepolisian Daxing di Beijing memukulinya dan menahannya selama enam hari. Tak lama kemudian, petugas dari Kantor 610 Kabupaten Juye menculiknya secara paksa, yang berujung pada penahanan ilegal selama empat bulan serta denda sewenang-wenang sebesar 9.000 yuan.
April 2001–2004: Wang dikirim ke kamp kerja paksa di Desa Wang. Di sana, ia dipaksa menjalani kerja paksa yang melelahkan dari fajar hingga tengah malam selama tiga tahun. Kondisi ini menyebabkannya menderita nyeri fisik yang parah serta masalah kesehatan yang berkepanjangan.
2015–2016: Menunjukkan keberanian yang luar biasa, ia mengajukan gugatan hukum atas nama pribadi terhadap mantan pemimpin PKT Jiang Zemin pada Juli 2015. Tindakan perlawanan ini dibalas dengan penindasan lebih lanjut ketika otoritas setempat kembali menahannya pada Oktober 2016.
Februari 2018: Siklus represi kembali berulang saat ia sekali lagi dijatuhi hukuman satu tahun penjara oleh Pengadilan Kabupaten Juye. Selain itu, ia juga diperas sebesar 5.000 yuan karena menyuarakan desakan untuk mengakhiri penganiayaan tersebut.
Vonis terbaru pada Februari 2025 menandai babak baru dalam sejarah panjang langkah-langkah hukuman yang bertujuan untuk membungkam suaranya terkait latihan spiritual yang ia jalani. Saat ini, ia mendekam di Pusat Penahanan Kota Heze. Wang telah mengajukan banding atas kasusnya ke Pengadilan Kota Heze.
Perjuangan demi Kebebasan Mendasar
Penganiayaan berulang yang dialami Wang mempertegas kampanye penindasan yang lebih luas terhadap para praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok. Terlepas dari usianya yang telah lanjut, keteguhan komitmennya terhadap keyakinannya telah menjadikannya simbol perlawanan yang kuat terhadap apa yang digambarkan oleh banyak pengamat internasional sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang disponsori negara.
Dunia internasional telah lama menyatakan keprihatinan mendalam atas perlakuan terhadap para praktisi Falun Gong, terutama ketika orang lanjut usia yang rentan menjadi sasaran. Penganiayaan yang terus berlanjut ini menuntut adanya pengawasan ketat serta akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh otoritas Tiongkok.
Ketangguhan Wang Xiangling dalam menghadapi penganiayaan yang tak berkesudahan tetap menjadi pengingat nyata akan besarnya pengorbanan manusia akibat penindasan terhadap keyakinan, serta perjuangan yang tak kunjung padam demi kebebasan mendasar.









