Sakit Parah, Seorang Wanita Tetap Dipenjara hingga Masa Tahanan Berakhir, Meninggal 12 Hari Setelah Dibebaskan

Oleh  Seorang koresponden Minghui di Provinsi Heilongjiang | 02-09-2018

Zhao sebelum penangkapan terakhirnya dan setelah dibebaskan dari penjara, sangat kurus dan kehilangan satu gigi depan yang copot karena dipaksa menelan obat-obatan yang tidak diketahui jenisnya.

Zhao sebelum penangkapan terakhirnya dan setelah dibebaskan dari penjara, sangat kurus dan kehilangan satu gigi depan yang copot karena dipaksa menelan obat-obatan yang tidak diketahui jenisnya.

Keluarga Zhao Chunyan harus memanggil ambulans untuk menjemputnya ketika ia dibebaskan dari penjara pada 16 Juli 2018. Ia kehilangan lebih dari sepertiga berat badannya dan tidak mampu berjalan. Warga Kota Jixi itu meninggal pada 28 Juli, pada usia 65 tahun..

Kematian Zhao adalah akhir tragis dari tahun-tahun penyiksaan tanpa henti yang dideritanya karena menolak untuk meninggalkan Falun Gong, sebuah disiplin spiritual yang dianiaya oleh rezim komunis Tiongkok. Ia telah berulang kali ditangkap karena keyakinannya dan menjalani dua kali kerja paksa dengan total hampir empat tahun antara tahun 2000 dan 2011. Ia terakhir kali ditangkap pada 11 Juli 2013 dan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara tiga bulan kemudian tanpa proses hukum yang semestinya. Seorang hakim setempat hanya membacakan vonis terhadapnya di pusat penahanan setempat.

Zhao dimasukkan ke Penjara Wanita Provinsi Heilongjiang pada November 2013. Dia dan praktisi Falun Gong lainnya yang dipenjara sering dipaksa untuk menginjak atau duduk di atas kertas yang bertuliskan nama pendiri Falun Gong. Para narapidana bahkan terkadang menyelipkan kertas itu ke dalam celananya.

Narapidana Du Xiaoxia memaksa Zhao untuk duduk tanpa bergerak di bangku kecil dari jam 5 pagi hingga jam 10 malam setiap hari selama lebih dari dua bulan berturut-turut. Para penjaga tidak hanya tidak menghentikan Du, tetapi malah mendorongnya dan narapidana lain untuk melanjutkan penganiayaan terhadap Zhao dengan menjanjikan pengurangan masa hukuman

Zhao memberi tahu keluarganya, “Pada 6 Februari 2014, narapidana Tiao Yanru menghasut narapidana lain, bernama Wang Ning, untuk memukuli saya dengan gantungan baju. Wang memukul saya begitu keras sehingga dia mematahkan dua gantungan. Dia juga menyikat wajah saya dengan sikat plastik. Wajah saya menjadi sangat bengkak. Keesokan harinya, Tian memukuli saya berulang kali dengan tabung kardus, mengatakan bahwa tabung itu tidak akan meninggalkan luka luar, seperti halnya gantungan atau sikat. Dia juga tidak mengizinkan saya tidur atau menggunakan toilet. Saya sempat lari ke toilet, tetapi diseret kembali. Saya terpaksa buang air kecil di celana.”

Menurut orang dalam, Zhao tidak diizinkan tidur selama 20 hari berturut-turut, dimulai pada 6 Februari 2014. Dia menjadi sangat kebingungan dan telah ditipu untuk menandatangani namanya pada sebuah pernyataan untuk melepaskan keyakinannya. Setelah dia sadar kembali, dia menulis pernyataan dengan penuh khidmat pada 6 Maret 2014 untuk membatalkan pernyataan sebelumnya. Narapidana Tian menolak menerima pernyataannya tersebut dan mempertanyakan dari mana dia mendapatkan pena dan kertas untuk menulis pernyataan barunya. Zhao kemudian menulis ulang pernyataannya di dinding. Para penjaga penjara menuduhnya mengotori dinding dan memerintahkan narapidana untuk menyiksanya lebih lanjut.

Zhao menceritakan apa yang terjadi padanya, “Pada bulan Maret 2014, Wang Ning menjambak rambut saya dan menuangkan baskom demi baskom air dingin ke kepala saya. Saat itu bulan Maret dan udaranya masih sangat dingin. Baju dingin saya basah kuyup dan saya tidak bisa berhenti menggigil. Namun dia tidak mengizinkan saya berganti pakaian dan memerintahkan saya untuk berdiri di sana tanpa bergerak. Dia dan narapidana lain sering menyeret saya ke ruangan tanpa kamera pengawas. Mereka kemudian memukuli saya bersama-sama. Saya bahkan tidak ingat sudah berapa kali saya dipukuli.”

Zhao juga mengingat bagaimana dia diberikan obat-obatan yang tidak diketahui yang merusak kesehatannya, “Mereka bilang saya sakit dan perlu minum obat. Mereka mencungkil mulut saya dan mencabut salah satu gigi saya. Penjaga Xiao Shufen (nomor lencana 230355) mengawasi saya dengan ketat setiap hari. Dia memastikan obat-obatan tersebut dicekokkan ke mulut saya dua kali setiap hari. Saya diare setiap kali setelah diberi obat. Tiba-tiba, saya mendapati diri saya tidak bisa menahan apa pun di dalam perut. Tian Yanru menuduh saya menolak makan. Saya katakan itu semua adalah penyiksaan mereka terhadap saya yang menyebabkan begitu banyak kerusakan pada kesehatan saya.”

Zhao terus muntah dan menjadi semakin lemah. Dia akhirnya dikirim untuk pemeriksaan pada Oktober 2016 dan didiagnosis menderita kista hati. Dia menjalani operasi untuk mengangkat kista tersebut.

Keluarganya telah mencoba mengunjunginya berkali-kali sejak ia dipenjara, tetapi selalu ditolak. Namun, pada akhir Oktober 2016, keluarganya menerima pemberitahuan mendesak yang meminta mereka untuk segera pergi ke Rumah Sakit Zhongxin Kota Harbin. Mereka pergi dan melihat Zhao tidak bisa makan atau berjalan. Dia kesulitan bernapas dan berbicara.

Wang Shanshan, yang saat itu menjabat kepala Bangsal Penjara Sembilan tempat Zhao dipenjara, kemudian mengirim pesan teks kepada putra Zhao, berkali-kali meminta uang untuk menutupi biaya pengobatan ibunya. Pemuda itu memberikan uang tunai kepada Wang dan rekan penjaganya, Zhu Xueming, selama setiap kunjungan berikutnya. Kedua penjaga itu tidak membebaskan Zhao seperti yang dijanjikan, bahkan setelah putranya membayar total 26.000 yuan kepada mereka. Mereka kemudian menuntut 260 yuan per hari untuk biaya perawat Zhao, atau keluarga Zhao harus merawatnya. Putra Zhao mengatakan dia akan merawat ibunya, tetapi kedua penjaga itu berubah pikiran dan menolaknya.

Zhao tetap dipenjara sampai masa hukumannya berakhir. Penjaga Wang dan Xue menuntut 60.000 yuan sebagai ganti pembebasannya, tetapi keluarganya dengan tegas menolak untuk membayar. Wang dan Xue kemudian menahan 5.000 yuan yang masih dimiliki Zhao di rekeningnya

Artikel asli: http://en.minghui.org/html/articles/2018/8/3/171377.html

Share