12 Hal yang Perlu Diketahui Tentang “Investigasi” New York Times Terhadap Shen Yun dan Falun Gong
12 Hal yang Perlu Diketahui Tentang “Investigasi” New York Times Terhadap Shen Yun dan Falun Gong
Diterbitkan 26 Agustus 2024,
Diperbarui 2 Januari 2025.
Sejak Agustus 2024, The New York Times (NYT) telah menerbitkan serangkaian artikel mengenai perusahaan tari Shen Yun, yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong, serta mengenai Falun Gong itu sendiri. Artikel-artikel tersebut secara keliru menggambarkan Shen Yun sebagai lingkungan yang penuh kekerasan dan memperlakukan para pemainnya seolah-olah “mudah dibuang” demi keuntungan finansial pihak lain, serta menyebut para praktisi Falun Gong sebagai kelompok fanatik yang tertipu. Gambaran surat kabar tersebut tidak hanya asing bagi para pemain dan mantan pemain Shen Yun serta sebagian besar praktisi Falun Gong, tetapi juga bagi para dokter, pengacara, dan pakar Tiongkok yang mengenal baik komunitas ini.
Untuk memahami bagaimana distorsi tersebut bisa muncul di surat kabar Amerika yang begitu terkemuka, Falun Dafa Information Center (FDIC) meneliti berbagai aspek pelaporannya. Berdasarkan wawancara dengan lebih dari 100 pemain dan mantan pemain Shen Yun selama setahun terakhir, komunikasi email antara jurnalis dan narasumber, keterangan dokter medis yang rutin menangani para pemain Shen Yun, serta kebocoran informasi pemerintah Tiongkok, kami mengidentifikasi berbagai elemen yang meragukan.
Kami menemukan bahwa NYT mengabaikan berbagai upaya baik dari Shen Yun dan pihak lain yang ingin memberikan informasi yang berlawanan dengan narasi awal mereka. Mereka menggunakan sumber-sumber yang sangat bermasalah dan sampel yang sangat kecil untuk membangun alur cerita tertentu, mengabaikan beragam pendapat pakar, menyembunyikan informasi penting dari pembaca, serta melanjutkan pola lama selama puluhan tahun dalam memutarbalikkan keyakinan para praktisi Falun Gong secara kasar.
Temuan-temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai alasan mengapa NYT melakukan pelaporan yang melanggar etika jurnalistik, sekaligus secara nyata merugikan kelompok minoritas agama yang tengah menghadapi penganiayaan di Tiongkok. Sangat meresahkan melihat sejauh mana pemberitaan NYT ini justru mendukung tujuan-tujuan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Berikut ini kami uraikan 12 hal yang perlu diketahui pembaca mengenai liputan NYT tersebut.
Artikel-artikel NYT didasarkan pada kesaksian yang dipilih secara sepihak dari segelintir orang yang merasa tidak puas, lalu digunakan untuk melontarkan berbagai tuduhan tanpa bukti pendukung. Artikel-artikel tersebut juga dipenuhi dengan ketidakakuratan.
Artikel-artikel mengenai Shen Yun tersebut terutama hanya mengandalkan sampel kecil yang tidak representatif dari mantan pemain dan praktisi Falun Gong untuk melontarkan tuduhan luas tentang adanya pelanggaran. Selama hampir dua dekade beroperasi, sudah lebih dari 1.000 individu yang pernah tampil atau bekerja dengan Shen Yun. Dalam artikel bulan Agustus 2024, para jurnalis mengklaim telah berbicara dengan 80 orang, termasuk 25 mantan pemain Shen Yun. Namun, artikel NYT hampir sepenuhnya hanya bergantung pada keterangan dari tujuh mantan pemain, dan secara total hanya mengutip 13 orang—sebuah proporsi yang sangat kecil dari komunitas yang luas tersebut. Ini jauh dari sampel yang representatif atau adil, namun klaim yang dibuat atau disiratkan tentang Shen Yun dan Falun Gong dalam artikel itu sangat luas dan bertolak belakang dengan ratusan kesaksian publik dari para seniman dan mantan seniman di berbagai platform dan situs web. Secara khusus, lebih dari 750 pemain dan mantan pemain Shen Yun telah menandatangani petisi yang menyebut artikel NYT sebagai “distorsi kasar dan narasi palsu tentang pekerjaan kami, keyakinan kami, serta cara hidup kami.” Lebih dari 800 anggota keluarga, yang sebagian besar adalah orang tua pemain Shen Yun, juga menandatangani petisi yang sama.
Falun Dafa Information Center telah mengonfirmasi kepada belasan mantan seniman yang memiliki kesan sangat positif terhadap pengalaman mereka di Shen Yun dan sangat mudah ditemui—mereka mengaku tidak pernah dihubungi oleh para reporter tersebut. Sebaliknya, sedikitnya belasan mantan seniman yang pernah diminta keluar dari Shen Yun atau pergi dengan hubungan yang buruk, semuanya justru dihubungi oleh para reporter. Dengan hanya satu pengecualian, 13 testimoni yang akhirnya naik cetak semuanya bersifat negatif; bukan karena itulah kenyataan hidup di Shen Yun, melainkan karena tampaknya itulah yang dicari oleh surat kabar tersebut. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa para jurnalis tidak sedang melakukan investigasi jujur mengenai kondisi para penari Shen Yun, melainkan sengaja mengejar sudut pandang negatif.
Pola serupa terlihat jelas dalam artikel bulan Desember mengenai keuangan Shen Yun. Seluruh isi tulisan tersebut tampak bertujuan untuk secara keliru menggambarkan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan Falun Gong sebagai mesin pencari uang bagi Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong, padahal tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu. Artikel tersebut hanya mengandalkan segelintir anekdot dan transaksi keuangan independen yang sebagian besar tidak ada kaitannya dengan operasional Shen Yun, yang kemudian digunakan untuk menyiratkan adanya keuntungan finansial tanpa bukti kuat. Meskipun demikian, editor NYT tetap memilih judul yang tidak akurat, yaitu “Kesuksesan Grup Tari Tiongkok Memperkaya Pemimpin Gerakannya,” untuk artikel yang dipasang di halaman depan edisi cetak.
Sebenarnya, Master Li telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama dan menyebarkan prinsip-prinsip ajaran spiritual yang berakar pada tradisi Buddha kepada masyarakat umum. Beliau tidak menerima penghasilan apa pun dari organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan Falun Gong, termasuk Shen Yun yang merupakan organisasi nirlaba. Seluruh buku dan video panduan Falun Gong juga tersedia secara gratis di internet dalam lebih dari 50 bahasa, dan semua konferensi Falun Gong bebas biaya untuk dihadiri. Sangat jelas bahwa keuntungan finansial bukanlah motivasinya. Namun, pembaca berita NYT tidak akan mendapatkan pemahaman mengenai konteks penting ini.
Kepalsuan dan distorsi dalam artikel-artikel NYT bukanlah sekadar kesalahan kecil. Sebagaimana dirinci lebih lanjut di bawah ini, para jurnalis surat kabar tersebut sengaja menghilangkan informasi yang sangat penting dan relevan. Sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa ada upaya terencana dalam menulis, menyunting, dan menerbitkan berita yang hanya memberikan gambaran negatif, tidak akurat, serta tidak adil terhadap Shen Yun dan Falun Gong. Tampaknya dalam berbagai tahapan pelaporan, staf NYT telah mengambil keputusan untuk terus mengejar alur cerita yang sudah mereka susun sejak awal.
Hasilnya adalah sebuah laporan luas yang melontarkan berbagai tuduhan terhadap sebuah perusahaan Amerika dan kelompok minoritas yang tertindas, yang hampir seluruhnya didasarkan pada segelintir sumber yang memiliki konflik kepentingan yang jelas, motif tersembunyi, koordinasi sebelumnya, bahkan hubungan dengan Youtuber yang dibekingi Beijing serta kampanye pengaruh asing PKT yang telah terdokumentasi dengan baik. Terlebih lagi, hal ini tetap dilakukan meskipun sudah ada peringatan yang berulang kali, adanya informasi yang kontradiktif, serta akses ke fakta-fakta yang sebenarnya bisa menghasilkan penggambaran yang lebih akurat dan adil.
Tampaknya telah terjadi kegagalan berlapis dalam proses peninjauan internal di NYT yang seharusnya menjamin keakuratan, keadilan, dan kredibilitas pelaporan—termasuk dalam memastikan agar mereka tidak ditunggangi oleh operasi pengaruh asing dari aktor-aktor jahat.
NYT gagal mengungkapkan adanya konflik kepentingan yang nyata dari para narasumber, termasuk hubungan mereka dengan pemerintah Tiongkok.
Integritas metode dalam tulisan tersebut semakin diragukan jika kita melihat lebih dekat latar belakang para narasumber utamanya. Setidaknya tiga dari enam mantan penari Shen Yun yang foto dan kutipannya muncul berulang kali dalam artikel pertama The Times (terbit Agustus 2024) memiliki hubungan tersembunyi dengan Beijing Dance Academy (BDA). BDA merupakan organisasi yang didanai negara Tiongkok dan menjadi satu-satunya pesaing global utama bagi Shen Yun beserta sekolah-sekolah afiliasinya. Menurut situs resmi BDA dalam bahasa Mandarin, PKT sangat mengakar di dalam akademi tersebut. Kepemimpinan institut ini hampir seluruhnya diisi oleh anggota Partai Komunis Tiongkok (10 dari 11 orang di tim pimpinan), bahkan beberapa pimpinan sekolah menjabat di bagian propaganda dan Departemen Kerja Front Persatuan.
Tiga dari enam narasumber utama NYT pernah pergi ke Tiongkok untuk bekerja sama dengan BDA. Selain itu, salah satu narasumber mengelola studio tari di Taiwan yang berkolaborasi dengan pengajar dari BDA. Unggahan Facebook publik studio tersebut menyebutkan bahwa penari itu “belajar di bawah bimbingan guru-guru Departemen Tari Klasik BDA,” pernah berkolaborasi dengan pengajar BDA, dan mengirimkan murid-muridnya ke akademi tersebut. Berdasarkan keterangan orang tua murid di studio tersebut, pada Maret 2024, murid dari keluarga yang melakukan latihan Falun Gong diminta keluar dan uang kursusnya dikembalikan. Semua pertentangan kepentingan ini sama sekali tidak disebutkan dalam artikel tentang Shen Yun tersebut.
Selain itu, narasumber yang sama tersebut sempat menjaga komunikasi yang positif dengan Fei Tian College selama lebih dari satu tahun setelah meninggalkan Shen Yun. Ia bahkan berupaya untuk kembali bergabung dengan perusahaan tersebut, namun narasinya berubah drastis menjadi berlawanan setelah menjalin hubungan dengan BDA.[1] (Lihat Lampiran A untuk lini masa dan contoh pesan-pesan tersebut). Ini adalah orang yang sama yang pada bulan November mengajukan gugatan hukum terhadap Shen Yun dengan tuduhan pelanggaran hak tenaga kerja dan bahkan “perdagangan manusia.” Seorang pengacara yang ahli dalam menangani gugatan hukum yang tidak berdasar menyatakan bahwa penambahan tuduhan yang mencolok seperti itu adalah taktik khas “lawfare” (perang hukum). Dalam taktik ini, gugatan hukum lebih ditujukan untuk menciptakan berita utama di media massa daripada sebagai argumen hukum murni.
Para reporter NYT sebenarnya sudah diperingatkan mengenai kemungkinan adanya pertentangan kepentingan ini. Berbulan-bulan sebelum artikel itu terbit, para reporter NYT juga telah diberi tahu bahwa Shen Yun menyimpan bukti komunikasi dari beberapa narasumber mereka. Dalam pesan-pesan tersebut, para narasumber justru mengungkapkan pandangan yang sangat positif tentang Shen Yun setelah mereka keluar, yang mana hal itu sangat bertolak belakang dengan narasi yang mereka sampaikan kepada surat kabar tersebut saat ini.
NYT memiliki sejarah panjang dalam menyajikan pemberitaan yang menyimpang mengenai Falun Gong.
NYT memiliki rekam jejak selama 25 tahun yang terdokumentasi dalam pemberitaan yang sangat bermasalah mengenai Falun Gong. Sebuah studi yang diterbitkan organisasi kami pada bulan Maret, yang menganalisis 159 artikel NYT sejak tahun 1999, menunjukkan kelemahan yang konsisten dalam laporan surat kabar tersebut mengenai Falun Gong dan penganiayaan yang dialaminya. Studi tersebut menemukan bahwa 76 persen artikel dari tahun 1999 hingga 2002 mengandung ketidakakuratan fakta atau penggambaran negatif tentang latihan spiritual ini. Hal tersebut secara keliru mengikuti klaim PKT bahwa Falun Gong telah “dihancurkan” di Tiongkok. Padahal, meskipun terdapat dokumen publik mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang terus terjadi—termasuk lebih dari 5.000 kematian yang terdokumentasi—NYT belum melaporkan masalah-masalah ini lagi sejak tahun 2016.
Bahkan, salah satu mantan koresponden surat kabar tersebut di Beijing, Didi Kirsten Tatlow, bersaksi di hadapan China Tribunal pada tahun 2019 bahwa para editor di NYT melarangnya menyelidiki bukti penyalahgunaan transplantasi organ yang menargetkan praktisi Falun Gong dan tahanan hati nurani lainnya, padahal ia telah menemukan petunjuk-petunjuk penting. Para editornya juga melontarkan komentar-komentar yang merendahkan tentang Falun Gong (Lampiran G).
Oleh karena itu, meskipun praktisi Falun Gong terus mengalami kekejaman yang mengerikan di Tiongkok, pemberitaan NYT mengenai Falun Gong justru menjadi semakin memusuhi. Mereka menyerang organisasi-organisasi yang didirikan oleh praktisi Falun Gong dan terus menyebarkan kebohongan lama. Pada praktiknya, pelaporan ini tidak hanya menyesatkan publik Amerika, tetapi juga menelan mentah-mentah narasi PKT dan sejalan dengan ambisi rezim tersebut untuk menjatuhkan nama Falun Gong serta membungkam kritik terhadap penindasan mereka.
Faktanya, percakapan FDIC dengan banyak penari saat ini, serta pesan email dari mantan seniman kepada reporter NYT, menunjukkan alasan utama mengapa para calon narasumber ragu untuk berbicara kepada NYT. Hal itu bukan karena takut akan pembalasan dari pihak Falun Gong—seperti yang dikesankan dalam artikel tersebut (padahal Falun Gong memiliki rekam jejak panjang tanpa kekerasan dan ajarannya menegaskan bahwa latihan ini harus selalu bersifat sukarela). Sebaliknya, mereka ragu karena sejarah panjang surat kabar tersebut yang sering memutarbalikkan dan salah menggambarkan sosok praktisi Falun Gong serta apa yang mereka yakini. (Lampiran C)
Dari segi waktu dan isi, laporan NYT sejalan dengan upaya global baru dari para pejabat tinggi Tiongkok untuk menghentikan Shen Yun dan melenyapkan Falun Gong secara global.
Penelitian kami menunjukkan bahwa penindasan lintas negara jangka panjang oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong di luar Tiongkok telah mengalami perubahan drastis selama setahun terakhir. Dengan kendali langsung dari tingkat tertinggi partai—termasuk Xi Jinping sendiri—rezim ini meluncurkan kampanye baru untuk menjatuhkan nama baik komunitas Falun Gong di Amerika Serikat dan menyabotase Shen Yun. Berdasarkan berbagai kebocoran informasi dari sumber internal PKT, tujuan utama rezim ini adalah menghasut masyarakat serta pemerintah AS agar menentang Falun Gong dan Shen Yun. Hal ini dilakukan untuk melemahkan mereka sebagai kekuatan yang menyuarakan perbedaan pendapat dan visi alternatif bagi masa depan Tiongkok.
Kebocoran informasi ini juga mengungkap taktik-taktik spesifik yang digunakan—mulai dari mendukung Youtuber pro-Beijing, menggerakkan agen di dalam komunitas Falun Gong untuk membuat klaim palsu, menggunakan taktik lawfare (perang hukum) guna memicu penyelidikan pemerintah AS, hingga menyusupkan berita ke media-media yang tidak terlihat memiliki hubungan dengan rezim tersebut.
Buktinya, sejauh ini kampanye tersebut sudah terlihat nyata dalam bentuk serangan fisik, ancaman bom palsu, gugatan hukum yang tidak berdasar, serta segelintir penghasut yang menyebarkan klaim menyesatkan di media sosial dan media berita besar. Puluhan insiden yang dicatat oleh Falun Dafa Information Center pada tahun 2024 sangat mirip dengan rencana yang sebelumnya telah dibocorkan oleh narasumber dari aparat keamanan rezim, sehingga memperkuat kebenaran dari peringatan tersebut.
Entah disengaja atau tidak, pemberitaan NYT sangat cocok dengan pola-pola tersebut. Selama 25 tahun terakhir, di saat jutaan orang ditahan, disiksa, atau dibunuh di seluruh Tiongkok, NYT belum pernah mencurahkan waktu dan sumber daya sebesar ini untuk berita terkait Falun Gong. Namun anehnya, sekarang surat kabar tersebut justru mengerahkan kemampuan “investigasi” mereka untuk menyerang para korban penganiayaan tersebut, tepat ketika para pejabat Tiongkok menyatakan niat mereka untuk memicu berita negatif melalui agen-agen PKT dan berbagai tipu muslihat lainnya.
Terlebih lagi, surat kabar ini mencurahkan sumber daya yang sangat tidak proporsional untuk berita-berita ini; menugaskan dua reporter khusus selama lebih dari setahun, menerbitkan setidaknya sembilan artikel dalam waktu lima bulan, menjadikannya laporan utama di edisi cetak, hingga menerjemahkannya untuk situs web bahasa Mandarin mereka. Sangat aneh dan meresahkan bahwa NYT tidak pernah memberikan upaya sebesar itu untuk mendokumentasikan pelanggaran HAM berat PKT terhadap praktisi Falun Gong, namun kini justru sangat bersemangat mencoba mengungkap apa yang mereka sebut sebagai “rahasia gelap” di dalam Falun Gong.
Seorang Youtuber bekingan PKT—yang pernah mengancam akan melakukan kekerasan terhadap Shen Yun dan juga terdakwa kasus senjata ilegal di AS—punya hubungan dekat dengan para narasumber NYT dan secara blak-blakan mengakui kolaborasinya dengan jurnalis NYT.
Pada awal Agustus, FDIC menerbitkan laporan mendalam mengenai rencana Kementerian Keamanan Publik Tiongkok untuk memperluas kampanye disinformasi terhadap Falun Gong dan Shen Yun di luar negeri. Dokumen bocoran yang kami analisis secara khusus menyebutkan dukungan bagi seorang Youtuber asal Tiongkok yang punya rekam jejak menghina Falun Gong dan mengancam akan melakukan kekerasan terhadap Shen Yun. Pria tersebut kini menghadapi dakwaan kepemilikan senjata ilegal di Amerika Serikat, dan penegak hukum federal bahkan telah mengeluarkan peringatan mengenai ancaman yang ia timbulkan terhadap pusat pelatihan Shen Yun di New York. Dalam video-videonya, pria ini sering mengamuk dan menyebut dirinya sebagai “predator puncak”, serta memperingatkan para penari Shen Yun agar “takut” padanya dan harus “mendatangi saya dengan berlutut.” Menurut dokumen yang bocor, Kementerian Keamanan Publik berkomitmen memberikan “dukungan penuh” kepada orang ini, sementara dokumen lainnya membahas upaya untuk memuat konten “fitnah” tentang Falun Gong di media arus utama luar negeri.
Tak lama setelah artikel NYT terbit, pada 18 Agustus, Youtuber ini sesumbar di platform X: “Sayalah yang memperkenalkan orang-orang [mantan penari] kepada New York Times, terutama untuk wawancara-wawancara awal.” Setidaknya tiga dari enam narasumber utama NYT sebelumnya pernah tampil di kanal Youtube miliknya. Berdasarkan bukti pesan dari mantan penari Shen Yun yang mereka hubungi, beberapa narasumber tersebut juga aktif mencari orang lain untuk diwawancarai oleh kanal Youtube pria itu sekaligus oleh reporter NYT. Pola ini terus terlihat dalam laporan-laporan NYT berikutnya.
Setidaknya dua narasumber yang dikutip dan fotonya ditampilkan dalam artikel NYT tanggal 29 Desember mengenai keuangan Shen Yun memiliki hubungan dengan Youtuber yang tercantum dalam dokumen Kementerian Keamanan Publik tersebut. Salah satu dari mereka juga merupakan mantan penari yang menjalin hubungan dengan Beijing Dance Academy setelah keluar dari Shen Yun (lihat poin #3), sebuah pengalaman yang ia ceritakan secara terbuka di kanal YouTuber tersebut. Namun, tidak ada satu pun dari keterkaitan dengan pihak partai-negara ini yang diungkapkan kepada pembaca.
Ini bukan satu-satunya titik temu. Sejak Januari 2024, Youtuber yang tinggal di AS tersebut sudah menyebutkan di kanalnya bahwa ia berkomunikasi dengan NYT. Dalam setidaknya 14 unggahan berikutnya di Youtube dan X, ia berulang kali menyinggung soal artikel NYT sebelum artikel itu terbit, bahkan mengklaim bahwa laporan tersebut akan membuat Falun Gong dan Shen Yun “hancur”. Dalam dua unggahan di X setelah artikel tersebut terbit, Youtuber ini menceritakan bagaimana ia membantu mengatur wawancara untuk NYT dan memengaruhi isi laporannya (Lihat Lampiran B untuk kumpulan unggahan YouTuber ini).
Dalam sebuah unggahan tanggal 4 Agustus, Youtuber tersebut memaparkan “tiga medan utama” untuk “menghancurkan” Shen Yun secara struktur maupun finansial: “sistem hukum, media berpengaruh seperti The New York Times, dan komunitas daring berbahasa Mandarin.” Tujuan-tujuan ini sangat sejalan dengan strategi yang diuraikan dalam dokumen PKT yang bocor: yaitu untuk membungkam dan memfitnah praktisi Falun Gong di Amerika Serikat dengan memicu berita negatif di media besar serta mendorong penyelidikan oleh aparat penegak hukum.
Sebelum artikel The Times diterbitkan, kami telah memberikan informasi kepada para jurnalis mengenai rencana Kementerian Keamanan Publik, serta memperingatkan mereka bahwa mereka mungkin telah terjebak dalam kampanye manipulasi media yang dilakukan oleh PKT. Tampaknya peringatan-peringatan tersebut tidak dihiraukan.
Artikel-artikel tersebut sangat memutarbalikkan keyakinan dan komunitas Falun Gong, serta menunjukkan bias dan ketidaktahuan terhadap aspek budaya maupun agama.
Dalam apa yang tampak sebagai bentuk prasangka anti-agama yang nyata, NYT menggambarkan sistem kepercayaan Falun Gong sebagai sesuatu yang layak diolok-olok. NYT mendramatisasi keyakinan Falun Gong yang sebenarnya umum terdapat di berbagai tradisi agama, seperti pandangan bahwa penderitaan adalah konsekuensi dari dosa atau karma, keyakinan akan adanya Pencipta alam semesta yang maha pengasih, serta upaya membina jiwa demi keselamatan spiritual. Ketidakmampuan atau ketidakinginan NYT untuk menempatkan ajaran Falun Gong dalam konteks teologis—khususnya tradisi Buddha dan Tao—menunjukkan ketidaktahuan akan agama, sikap intoleran, dan bias yang nyata.
Gambaran yang mereka bangun—tentang sekelompok pengikut buta yang ditipu agar menyumbangkan seluruh tabungan hidup mereka—sangatlah jauh dari kenyataan yang dialami oleh sebagian besar praktisi Falun Gong. Sebagai sebuah keyakinan, Falun Gong justru tidak seketat dan tidak sekontrol agama-agama lain pada umumnya. Tidak ada pemuka agama, tidak ada gereja, tidak ada kewajiban iuran atau sumbangan wajib, serta tidak ada keanggotaan formal maupun upacara pindah agama. Falun Gong bersifat gratis dan terbuka bagi semua orang. Siapa pun bisa membaca ajaran spiritualnya secara gratis di internet dan mempelajari gerakan latihan melalui video daring atau di tempat latihan yang dikelola sukarelawan. Meminta sumbangan tidak diperbolehkan dalam komunitas Falun Gong. Master Li telah menegaskan dalam ajarannya bahwa praktisi Falun Gong tidak boleh memberikan hadiah kepada anggota keluarganya, dan mereka yang memiliki pekerjaan tetap tidak seharusnya menyumbangkan dana ke Shen Yun.
Selain itu, praktisi Falun Gong tidak mengikuti ajaran Master Li hanya atas dasar kepercayaan buta. Jika memang begitu, Falun Gong tidak akan mungkin bisa bertahan dari salah satu penganiayaan agama paling brutal dan kejam dalam sejarah modern. Namun, NYT justru berusaha menggambarkan Falun Gong sebagai kelompok sesat dan Shen Yun sebagai skema besar pencari keuntungan, dengan mengabaikan kenyataan serta tulisan para ahli mengenai hakikat Falun Gong. Seperti halnya penganut agama lain, para pengikut Falun Gong memiliki pengalaman spiritual pribadi dan pengalaman hidup yang memperkuat keyakinan mereka.
Komunitas ini juga sangat beragam. Berbeda dengan penggambaran NYT, banyak praktisi yang berpendidikan sangat tinggi, bahkan memiliki gelar lanjutan di bidang sains dari universitas-universitas ternama. Mereka telah menonton pertunjukan Shen Yun dan merasa tergerak secara pribadi. Mereka juga melihat para penonton—dari berbagai latar belakang agama—mengungkapkan apresiasi yang mendalam atas pesan harapan dan spiritualitas pertunjukan tersebut yang menginspirasi. Hal inilah yang memicu semangat kesukarelawanan untuk mendukung upaya tersebut, baik dengan menyelenggarakan pertunjukan maupun menjual tiket. Praktisi Falun Gong bukanlah orang fanatik bodoh yang sedang ditipu oleh seorang guru, sebagaimana yang dikesankan oleh penggambaran mengejek dari NYT.
NYT juga menggambarkan praktik budaya standar dari sekitar tiga miliar orang sebagai sesuatu yang aneh. Salah satu artikel menceritakan para siswa yang menyapa Master Li Hongzhi sebagai “Shifu” (berarti “guru” atau “master”), “sambil mengatupkan tangan dan membungkuk.” Hal yang gagal mereka sampaikan kepada pembaca adalah bahwa ini merupakan cara menyapa yang sangat umum di seluruh budaya Asia, dan tidak terbatas pada lingkungan spiritual saja. Di tempat-tempat latihan bela diri di seluruh dunia, para murid menyapa guru atau “master” mereka dengan cara yang sama. Faktanya, di sekolah-sekolah Fei Tian dan Shen Yun, para penari juga akan membungkuk kepada instruktur tari atau koreografer saat mereka memasuki studio tari.
Para jurnalis secara sengaja mencari cerita-cerita negatif dan mengabaikan penjelasan panjang dari para mantan pemain Shen Yun yang membantah narasi buruk NYT.
Korespondensi email yang diserahkan kepada FDIC menunjukkan bahwa artikel-artikel tersebut menyajikan narasi yang berat sebelah dan negatif, padahal ada bukti yang bisa membantah hal tersebut. Catatan email menunjukkan bahwa beberapa orang yang dihubungi oleh NYT sebenarnya menceritakan pengalaman positif mereka selama di Shen Yun, atau memberikan informasi yang bertolak belakang dengan isi artikel yang diterbitkan (Lampiran C). Namun, komentar-komentar mereka hampir seluruhnya dihilangkan dari tulisan tersebut.
Bahkan, setelah artikel itu terbit, pemain biola Eugene Liu—salah satu narasumber yang kutipannya digunakan dalam artikel untuk mempermasalahkan upah seniman pelajar—mengunggah serangkaian pernyataan di platform X. Ia menjelaskan bahwa komentarnya telah diambil di luar konteks dan menyatakan: “Perbandingan yang lebih tepat adalah seperti di dunia perkuliahan, di mana atlet mahasiswa (yang sebagian besar mendapat beasiswa penuh) tidak dibayar untuk bertanding.” Selain itu, Liu menyebut masa-masanya di Shen Yun sebagai pengalaman yang “sangat berharga” dan menegaskan bahwa “waktu saya di sana benar-benar positif.” Liu menambahkan:
“Karena lingkungan sehat yang dibangun di sana, saya mampu menghindari kebiasaan buruk yang banyak menimpa orang-orang seusia saya, seperti kecanduan internet dan game, serta penyalahgunaan narkoba yang merajalela. … Saya tidak pernah merasa kekurangan materi, dan yang terpenting, misi Shen Yun telah memenuhi kebutuhan spiritual saya.”
Komentar-komentar tersebut tidak pernah masuk ke dalam artikel. Dalam sebuah wawancara berikutnya, Liu menyampaikan kesannya bahwa dua wartawan NYT itu sejak awal sudah menganggap Shen Yun sebagai sesuatu yang “jahat”. Ia juga menyebut bahwa “Ada banyak hal yang sengaja mereka hilangkan karena dianggap tidak mendukung narasi mereka.”
Selain itu, beberapa orang yang dihubungi oleh NYT telah memperingatkan para jurnalis bahwa narasumber yang mereka wawancarai mungkin punya kepentingan tertentu. Seorang mantan penari yang dihubungi pihak koran itu memberi tahu wartawan bahwa sumber-sumber yang mereka gunakan tidak dapat dipercaya dan saling bekerja sama. Atau setidaknya, ingatan mereka tentang masa-masa di Shen Yun sudah saling memengaruhi, sehingga kemungkinan besar ceritanya dilebih-lebihkan. Ia mendesak para jurnalis untuk “melakukan riset mendalam agar benar-benar memahami latar belakang mereka,” dan mengingatkan bahwa “beberapa orang punya latar belakang yang rumit di Tiongkok.”
“Orang-orang ini sudah saling kenal dan mengobrol selama bertahun-tahun. Jadi, meskipun ada beberapa orang yang menceritakan kisah yang sama, menurut saya itu tidak membuktikan apa pun,” ujarnya kepada jurnalis (Lampiran C, email #1). Komentar lain dari orang ini sebenarnya sempat dimasukkan ke dalam artikel terakhir (dan menjadi satu-satunya testimoni positif tentang Shen Yun). Hal ini menunjukkan bahwa jurnalis tersebut sebenarnya menganggapnya cukup kredibel, namun peringatan-peringatannya yang lain tetap saja tidak dipedulikan.
Artikel-artikel tersebut secara keliru menyiratkan bahwa para seniman Shen Yun dilarang mencari perawatan medis atau dipersulit untuk mendapatkan pengobatan yang diperlukan.
Tema utama dari laporan NYT adalah klaim bahwa para seniman Shen Yun tidak mendapatkan perawatan medis. Namun, hal ini jelas tidak benar. Salah satu artikel mereka menyebutkan empat penari dan dua pemusik yang tetap tampil meski sedang cedera atau keseleo. Dalam setiap kasus itu, artikel tersebut sendiri mencatat bahwa individu-individu tersebut memang tidak mencari atau meminta bantuan medis. Padahal, pihak Shen Yun sudah menawarkan kepada wartawan NYT untuk mewawancarai beberapa artis yang pernah berobat dan menerima perawatan medis, namun tawaran itu diabaikan oleh para jurnalis (Lampiran D).
Selain itu, salah satu mantan penari yang namanya muncul di artikel tersebut sudah menjelaskan kepada NYT bahwa meskipun dulu ia memilih untuk tidak berobat secara maksimal saat cedera lutut, “hal itu tidak mencerminkan sikap Shen Yun terhadap cedera secara keseluruhan.” Ia menegaskan bahwa “banyak penari Shen Yun yang sebenarnya berobat ke dokter… dan itulah yang dilakukan oleh sebagian besar dari mereka.” (Lampiran C, Email #1). Sayangnya, komentar ini tidak dimasukkan ke dalam laporan NYT. Fakta bahwa penari tersebut akhirnya sembuh total dan masih terus tampil selama beberapa tahun setelah cedera itu juga sengaja dihilangkan.
Selama sepuluh bulan terakhir, FDIC telah mewawancarai lebih dari 100 penari Shen Yun untuk menyusun laporan tentang penindasan lintas negara yang menargetkan mereka. Berdasarkan temuan kami, meskipun ada penari yang mengalami cedera saat latihan atau pertunjukan, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa dilarang oleh perusahaan untuk berobat. Sebaliknya, para artis ini menyatakan bahwa perusahaan memberikan akses ke perawatan medis standar tinggi, namun tetap menghormati keputusan pribadi setiap penari dalam memilih jenis pengobatan yang mereka inginkan.
“Sama seperti atlet atau penari profesional lainnya, saat merasakan pegal dan sakit, terkadang kita memang harus terus berjuang,” jelas Penari Utama Piotr Huang dalam sebuah wawancara. “Tetapi, jika itu bisa menyebabkan cedera permanen atau terasa terlalu sakit, tentu saja kami tidak akan tampil. Kami punya tanggung jawab kepada penonton dan hanya ingin memberikan yang terbaik. Karena itu, kami tidak akan pernah tampil dengan cedera serius, dan pihak Shen Yun pun tidak akan membolehkannya.”
Beberapa dokter yang praktik di sekitar kantor pusat Shen Yun di New York menyatakan bahwa mereka rutin menangani para penari dari sana. Menurut Dr. Jingduan Yang, CEO Northern Medical Center, ia dan rekan-rekannya secara berkala melakukan pemeriksaan medis untuk para penari Shen Yun. Setiap tahunnya, mereka menangani 10 hingga 20 rontgen serta 15 hingga 20 pemindaian MRI khusus untuk para penari. Pihak pengelola Shen Yun juga mencatat adanya berbagai tindakan operasi selama bertahun-tahun, mulai dari operasi putus tendon Achilles, ACL, hingga cedera lainnya.
The New York Times (NYT) memunculkan kembali tuduhan ini dalam artikel bulan Desember, dengan mengangkat kisah sedih seorang praktisi Falun Gong di Shen Yun yang meninggal akibat kanker. Namun, koran tersebut tidak memuat laporan dari perwakilan Shen Yun bahwa orang tersebut sebenarnya sudah berkali-kali disarankan untuk berobat, dan bahkan akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh staf Shen Yun. Keputusan untuk menolak perawatan medis sebelumnya adalah murni pilihan pribadi individu tersebut, bukan mencerminkan kebijakan Shen Yun atau ajaran Falun Gong. Faktanya, ajaran Falun Gong tidak melarang orang minum obat, meskipun banyak orang yang merasa kesehatannya membaik setelah menekuni latihan ini. Master Li sendiri telah berulang kali menyampaikan dalam ajaran-ajarannya yang terbuka untuk umum agar para pengikutnya mencari pengobatan medis jika memang diperlukan.
Artikel-artikel tersebut secara salah menggambarkan praktik dan latihan yang sebenarnya standar di banyak sekolah di AS sebagai sesuatu yang jahat dan menindas.
Demi memperkuat narasi bahwa lingkungan Shen Yun itu kejam atau mengekang, NYT menggambarkan beberapa kebijakan yang seolah-olah menindas. Padahal, kebijakan tersebut sebenarnya adalah standar umum di dunia pendidikan, atau setidaknya praktik yang semakin lazim dilakukan di berbagai sekolah di Amerika Serikat.
Pusat latihan Shen Yun di Hudson Valley, New York, terletak di satu lokasi dengan sekolah berasrama resmi, yaitu Fei Tian Academy of the Arts. Di sana, para siswa belajar untuk mendapatkan ijazah SMA sambil mengasah kemampuan seni mereka. Tempat ini juga menjadi lokasi Fei Tian College yang sudah terakreditasi secara resmi.
Dalam laporannya, NYT menggunakan nada menyalahkan saat menyebutkan bahwa siswa tidak boleh meninggalkan kampus tanpa izin. Padahal, ini adalah aturan standar di sekolah berasrama, bahkan di sekolah umum sekalipun. Sekolah memiliki tanggung jawab hukum atas keselamatan siswanya, termasuk jika terjadi kecelakaan saat siswa keluar area sekolah di jam pelajaran. SMA mana yang membolehkan muridnya keluyuran keluar kampus tanpa izin?
Mengenai kondisi kampus yang “dijaga ketat” seperti yang ditulis artikel tersebut, faktanya sekitar 61 hingga 65 persen sekolah umum di Amerika Serikat memang menggunakan jasa keamanan bersenjata. Hal yang sama juga berlaku di sebagian besar sekolah berasrama dan kampus swasta, bahkan yang lokasinya di pedesaan. Alih-alih dianggap sebagai ciri khas “kompleks” yang tertutup dan mengekang, pengamanan ini justru menunjukkan kepedulian sekolah terhadap keselamatan dan kesejahteraan siswa. Perlindungan seperti ini sangatlah penting bagi komunitas yang sering menjadi sasaran penindasan lintas negara oleh PKT atau ancaman kekerasan fisik. (Lampiran C, email #3)
Artikel tersebut juga secara keliru menyiratkan bahwa keluarga dilarang mengunjungi para siswa. Faktanya, banyak siswa di Fei Tian Academy of the Arts yang sering bertemu keluarga mereka, baik karena kerabat mereka tinggal di dekat sana atau sedang berkunjung ke kampus. Bagi siswa yang hanya bisa bertemu keluarga saat masa liburan, hal itu bukan karena adanya aturan yang membatasi, melainkan karena keluarga mereka tinggal jauh, bahkan sering kali berada di luar negeri.
Surat kabar tersebut juga menyoroti bahwa artis muda tidak diizinkan membawa ponsel pintar dan waktu penggunaan internet mereka dibatasi. Ini memang kebijakan di Fei Tian, sama seperti yang diterapkan di banyak sekolah dan rumah tangga di seluruh Amerika. Pembatasan waktu layar untuk hiburan di sekolah kini sudah menjadi hal yang sangat umum. Bahkan, NYT sendiri baru-baru ini memuat rekomendasi untuk melarang penggunaan ponsel pintar di sekolah dan memperketat batasan usia media sosial. Setelah lebih dari sepuluh tahun muncul berbagai penelitian yang mengkhawatirkan dan meningkatnya keresahan orang tua, negara bagian seperti California, Florida, dan New York kini mulai melarang ponsel pintar di ruang kelas. Dalam hal ini, sekolah Fei Tian justru selangkah lebih maju dengan mengizinkan siswa menggunakan ponsel lipat atau ponsel biasa (dumb phone) agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga—sebuah praktik yang sekarang mulai ditiru oleh sekolah-sekolah lain. Namun, NYT malah melaporkan hal ini sebagai bukti adanya “sisi gelap.”
Artikel The Times bahkan menganggap aturan menjaga berat badan bagi penari sebagai tindakan yang semena-mena. Padahal, hal itu adalah standar umum bagi penari profesional, atlet, dan model. Tujuannya bukan cuma soal penampilan, tapi juga untuk mengurangi risiko cedera, karena berat badan berlebih bisa memberi tekanan tambahan pada sendi dan tulang. Menurut kesaksian setidaknya satu mantan penari yang pernah satu grup dengan narasumber The Times, para penari tetap disarankan untuk makan cukup agar punya energi saat mencoba menurunkan berat badan, bahkan mereka juga diberikan edukasi tentang nutrisi yang benar.
Artikel NYT bahkan menggambarkan persyaratan pengendalian berat badan bagi para penari sebagai tindakan yang tidak semestinya. Namun, hal itu umum terjadi di kalangan penari profesional, atlet, dan model. Hal ini bukan hanya untuk alasan estetika, tetapi juga untuk mengurangi risiko cedera, karena berat badan berlebih dapat memberi tekanan tambahan pada persendian dan tulang. Menurut seorang mantan penari yang berada di kelompok yang sama dengan beberapa narasumber NYT, bahkan ketika mencoba menurunkan berat badan, para penari disarankan untuk makan cukup agar memiliki energi yang memadai dan diberi informasi tentang nutrisi yang tepat.
Artikel-artikel tersebut secara sistematis menggunakan bahasa dan pencitraan yang bersifat manipulasi emosional.
Artikel-artikel yang terbit bulan Agustus tersebut menggunakan bahasa dan visual yang manipulatif secara emosional untuk menggiring opini pembaca. Para wartawan menyebut pusat latihan Shen Yun sebagai sebuah “kompleks tertutup” (compound) sampai tujuh kali dalam satu artikel saja, dan menjuluki para pengelolanya sebagai “anak buah setia” (lieutenants). Padahal, pusat latihan Shen Yun tidak memiliki tembok yang mengelilinginya—yang sebenarnya merupakan ciri utama dari sebuah “kompleks tertutup”. Pemilihan kata-kata ini bukan tanpa sengaja; semuanya dirancang untuk menimbulkan rasa takut dan kesan adanya pengekangan, agar pembaca menghubungkannya dengan kelompok-kelompok seperti Branch Davidians di Waco, Texas, dan memberi kesan bahwa Shen Yun dan Falun Gong adalah aliran sesat.
Foto-foto yang digunakan dalam berita tersebut juga jauh dari kata netral. Foto para mantan penari, poster-poster Shen Yun, hingga pusat latihan mereka semuanya ditampilkan dengan suasana musim dingin yang gelap dan suram, memperlihatkan ekspresi wajah yang sedih. Pilihan visual ini sangat berbeda jauh dengan foto-foto asli orang yang sama di media sosial mereka. Foto-foto suram ini sengaja dipadukan dengan teks untuk mendramatisasi cerita, sehingga memperkuat citra negatif yang ingin dibangun. (Lampiran E)
Pesan terselubung ini sengaja dibuat untuk menciptakan suasana penuh kecurigaan dan rasa tidak tenang terhadap Shen Yun dan Falun Gong. Dengan memakai bahasa yang provokatif dan penuh prasangka, artikel tersebut secara halus menggiring opini bahwa kelompok-kelompok ini tertutup, bersifat seperti aliran sesat, dan berpotensi berbahaya. Padahal, artikel itu tidak memberi tahu pembaca bahwa para ahli agama Tiongkok terkemuka yang telah menulis buku tentang Falun Gong sepakat bahwa komunitas ini bukanlah aliran sesat. Mereka justru menyatakan bahwa “label aliran sesat hanyalah pengalihan isu” yang diciptakan oleh PKT untuk mencari pembenaran atas penganiayaan yang mereka lakukan. (Lampiran F)
Pendekatan semacam ini tidak hanya memutarbalikkan persepsi pembaca, tetapi juga merusak citra aspek budaya dan spiritual positif dari Shen Yun dan Falun Gong dengan menyelimuti mereka dalam rasa takut dan ketidakpercayaan. Melalui taktik ini, artikel tersebut jelas-jelas menggunakan cara-cara dasar tulisan propaganda untuk menjatuhkan pihak lain. Artikel tersebut lebih memilih untuk memanipulasi pembaca daripada berusaha menyajikan laporan yang seimbang dan objektif.
Artikel-artikel tersebut menutupi fakta penganiayaan PKT terhadap Falun Gong—termasuk penyalahgunaan transplantasi organ yang telah terdokumentasi dengan baik serta penindasan lintas negara yang menargetkan Shen Yun.
Dalam sebagian besar artikel tersebut, para wartawan hanya menyinggung sekilas tentang penindasan di Tiongkok. Mereka terkesan mengecilkan skalanya dengan menggunakan istilah yang tidak jelas seperti “banyak” untuk menyebut jumlah praktisi Falun Gong yang ditahan. Padahal, para ahli telah berulang kali memperkirakan bahwa ada ratusan ribu, bahkan jutaan praktisi Falun Gong yang ditahan oleh rezim tersebut—jumlah yang jauh lebih besar daripada sekadar kata “banyak”. Bahkan saat menggambarkan kampanye lintas negara PKT untuk menyabotase Shen Yun, surat kabar tersebut sangat meremehkan skalanya dengan hanya memberi satu contoh diplomat yang menekan pihak penyelenggara. Padahal, laporan FDIC bulan Januari mencatat ada 130 insiden upaya penyensoran dan serangan fisik di lebih dari 38 negara yang dilakukan oleh rezim tersebut dan kaki tangannya terhadap Shen Yun.
Para wartawan itu juga mengutip satu orang ahli yang membantah adanya program perampasan organ secara sistematis dari tahanan Falun Gong. Masalahnya, orang ini bukanlah bagian dari sekian banyak peneliti, jurnalis, pengacara, dan dokter yang telah memberikan kesaksian di Kongres, menyusun laporan LSM, atau menulis artikel ilmiah di jurnal medis tentang penyalahgunaan transplantasi organ di Tiongkok. Para ahli lain justru menemukan bukti bahwa praktisi Falun Gong telah dibunuh secara sistematis untuk dirampas organ tubuhnya. Bukti-bukti tersebut juga dinyatakan kredibel oleh panel spesialis China Tribunal tahun 2019, sembilan Pelapor Khusus PBB, Kongres AS, dan Parlemen Eropa. Mengapa NYT tidak mengutip satu pun dari para ahli, organisasi, atau badan pemerintah yang karyanya sudah dipublikasikan dan sangat mudah ditemukan ini, malah justru memilih satu orang yang membantahnya?
NYT melewatkan fakta yang sebenarnya, dan PKT adalah pihak yang diuntungkan dari situasi ini.
Entah disengaja atau tidak, pemberitaan ini sangat kental dengan pengaruh PKT dan mengulang kembali poin-poin pembicaraan media pemerintah Tiongkok yang selalu menjelek-jelekkan Falun Gong, serta memicu kebencian, pengucilan sosial, dan kekerasan. Sangat mengerikan melihat surat kabar terkemuka Amerika Serikat mengikuti pola pikir tersebut dan membawa diskriminasi anti-Falun Gong ke tanah Amerika.
NYT tampaknya berusaha memutarbalikkan sesuatu yang seharusnya diapresiasi—yaitu semangat kerelawanan dan kelompok tari kelas dunia yang kreatif yang membawa pesan keyakinan serta harapan bagi jutaan orang—menjadi seolah-olah sebuah skema eksploitasi demi mencari uang. Mereka melakukan hal ini tanpa memedulikan dampak buruk dari tindakan mereka.
Laporan yang tidak bertanggung jawab ini telah merugikan para praktisi Falun Gong, termasuk mereka yang berada di Tiongkok, di mana rezim di sana menerjemahkan dan menyebarkan artikel-artikel lama surat kabar tersebut untuk memicu kebencian dan kekerasan. Di luar Tiongkok, pemberitaan semacam ini pasti akan memperkuat upaya diplomatik Tiongkok dalam menekan gedung-gedung teater agar membatalkan pertunjukan, sekaligus mengancam keselamatan fisik para senimannya.
Namun, dampak dari penyimpangan fakta oleh NYT ini jauh lebih luas. Hal ini merugikan calon penonton di Amerika Serikat dan seluruh dunia yang sebenarnya bisa mendapatkan manfaat dari keindahan seni dan pesan optimis Shen Yun. Selain itu, hal ini juga merugikan para pembaca yang mungkin saja tertarik untuk merasakan bagaimana latihan spiritual dan meditasi seperti Falun Gong dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.
Sementara itu, kaki tangan PKT memanfaatkan artikel-artikel tersebut untuk melontarkan ancaman kekerasan dan mengirimkan email palsu kepada para pejabat yang selama ini mendukung Shen Yun. Sebuah pesan yang masuk ke situs web Shen Yun pada 19 Agustus menuntut agar kritik Shen Yun terhadap laporan NYT (seperti pernyataan tanggapan resmi mereka) segera dihapus. Jika tidak dihapus dalam sebulan, pesan tersebut mengancam:
“Para karyawan Shen Yun Performing Arts, staf sekolah Fei Tian, beserta anggota keluarga mereka kemungkinan besar akan mengalami kecelakaan mobil yang aneh, rumah mereka akan terbakar secara misterius, atau mungkin diserang oleh gangster New York. Kami harap Anda bisa bertanggung jawab atas keselamatan mereka dan keluarga mereka.”
Ini adalah salah satu dari setidaknya 20 ancaman bom, penembakan massal, atau kekerasan seksual yang ditujukan kepada para seniman atau gedung pertunjukan Shen Yun sepanjang tahun 2024. Untungnya, tidak ada ancaman yang berujung pada kekerasan fisik yang nyata, namun dampak psikologis dan tekanan terhadap pihak teater agar membatalkan pertunjukan benar-benar terjadi.
Dalam dua kejadian lainnya, ada orang yang menyamar sebagai mantan penari Shen Yun dan mengirim email kepada anggota parlemen di Kanada dan Swedia agar mereka berhenti mendukung Shen Yun. Email-email tersebut menggunakan bahasa yang hampir sama, menyertakan tautan ke artikel The New York Times (NYT), serta membuat klaim tentang pelecehan dan trauma. Karena curiga, para anggota parlemen tersebut membagikan pesan itu kepada praktisi Falun Gong setempat. Setelah dikonfirmasi ke pihak Shen Yun, ternyata nama-nama tersebut tidak pernah ada dalam daftar mantan penampil maupun siswa mereka.
PKT benar-benar telah menemukan sekutu yang tak terduga dalam diri NYT untuk menyukseskan kampanye terbaru mereka dalam melenyapkan Falun Gong dari panggung dunia.
Tentang Falun Dafa Information Center
Falun Dafa Information Center (FDIC) adalah organisasi nirlaba yang berlokasi di New York. Organisasi ini bertugas mendokumentasikan penganiayaan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap para praktisi Falun Gong di Tiongkok maupun di luar negeri, sekaligus melakukan advokasi bagi para korban. Didirikan pada musim gugur tahun 1999, hasil riset dan staf InfoCenter ini telah dirujuk oleh berbagai media berita utama, memberikan kesaksian di hadapan Kongres, serta dikutip dalam laporan-laporan dari kelompok hak asasi manusia, Departemen Luar Negeri AS, Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS (USCIRF), hingga Komisi Eksekutif Kongres untuk Tiongkok (CECC), dan lembaga lainnya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai misi, sejarah, dan staf kami, silakan kunjungi halaman Tentang Kami.
Catatan Akhir
[1] Sebelum berhubungan dengan BDA, narasumber ini sempat mengirim beberapa pesan kepada mantan profesornya di Fei Tian College. Dalam salah satu pesannya, ia meminta untuk bergabung kembali dengan Shen Yun. Setahun setelah itu, ia mengirim email yang mengungkapkan rasa syukur dan pujian atas pengalamannya selama di Shen Yun. Ia bahkan mengundang sang profesor ke acara pernikahannya pada tahun 2021. (Lihat Lampiran A)
Lampiran
Lampiran-lampiran berikut ini disediakan untuk membagikan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Falun Dafa Information Center (FDIC) sebagai dasar analisis dan kesimpulan terkait laporan terbaru The New York Times (NYT) mengenai Falun Gong dan Shen Yun. Lampiran-lampiran ini disusun sesuai dengan referensi yang disebutkan di dalam teks laporan tersebut.


