Perampasan Organ Paksa
Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa rumah sakit di Tiongkok telah berkolusi dengan kepolisian negara tersebut dalam sebuah skema keji yang dikenal sebagai "perampasan organ". Mereka menahan para tahanan hati nurani secara paksa, yang sering kali dilakukan secara ilegal, memeriksa kecocokan organ mereka, dan kemudian secara sistematis merampas organ mereka yang sehat untuk memasok industri transplantasi organ yang sedang berkembang pesat.
Menurut para saksi mata, jenazah mereka langsung dikremasi.
Sebagian besar tahanan hati nurani yang menjadi sasaran praktik ini diyakini adalah para praktisi Falun Gong. Berdasarkan estimasi tahun 2016 dari jurnalis investigasi Ethan Gutmann, pengacara HAM internasional David Matas, dan mantan anggota parlemen Kanada David Kilgour, jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu orang setiap tahunnya.
Dugaan mengenai pembunuhan massal praktisi Falun Gong demi organ tubuh telah mencuat sejak tahun 2006. Seiring berjalannya waktu—terutama dalam beberapa tahun terakhir—semakin banyak bukti kuat yang mendukung dugaan tersebut. Metodologi analisis bukti yang digunakan kini juga semakin akurat, sehingga masalah ini semakin mendapat perhatian luas dari masyarakat dunia. Di sisi lain, pembelaan dari rezim Tiongkok yang membantah klaim-klaim ini menjadi semakin sulit untuk dipercaya.
Masalah mengenai apakah para praktisi Falun Gong dan tawanan hati nurani lainnya dibunuh demi organ mereka—serta seberapa banyak jumlahnya—menjadi persoalan yang sulit bagi pemerintah dunia, organisasi HAM, dan media-media besar sejak dugaan ini muncul tahun 2006.
Jutaan orang di seluruh dunia, termasuk para ahli, telah menonton film dokumenter seperti Human Harvest atau Hard to Believe serta membaca berbagai laporan yang ada. Mereka menyimpulkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan ini memang benar-benar terjadi. Namun, bagi kementerian luar negeri di negara-negara Barat, masalah ini jauh lebih rumit. Jika mereka mengakui bahwa kejahatan ini nyata, mereka akan dituntut untuk mengambil tindakan tegas.
Tindakan yang dituduhkan ini setara dengan kejahatan kemanusiaan terbesar di abad ke-20, baik dari segi kekejamannya maupun skalanya. Jika dunia internasional mengungkap dan mengakui bahwa kejahatan ini pernah dan masih terjadi di Tiongkok, hal ini akan memicu pertanyaan besar soal legitimasi kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan memaksa pemerintah negara-negara lain untuk memberikan respons yang sangat kuat.
Baru-baru ini, sejumlah perkembangan telah dengan cepat meningkatkan kesadaran terhadap masalah ini dan mulai membunyikan alarm tanda bahaya.

Pada bulan Juni 2022, Perkumpulan Internasional untuk Transplantasi Jantung dan Paru (ISHLT) mengeluarkan kebijakan yang menolak pengajuan apa pun yang “terkait dengan transplantasi dan melibatkan organ maupun jaringan dari donor manusia di Republik Rakyat Tiongkok.”
Pada tanggal 30 Maret 2022, Majelis Rendah Inggris (House of Commons) mengesahkan sebuah amandemen yang didukung pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang Kesehatan dan Perawatan. Amandemen ini memperluas larangan komersialisasi wisata organ hingga ke luar wilayah negara. Secara efektif, warga negara Inggris kini dilarang membeli organ untuk transplantasi dari Tiongkok karena adanya risiko etis.
Amandemen lintas partai ini diajukan oleh Lord Hunt dari Kings Heath dan disusun dengan dukungan yang sangat besar. Amandemen tersebut disahkan melalui Majelis Tinggi (House of Lords) pada 16 Maret 2022 dengan suara mayoritas 203 berbanding 159.
Pada saat pemungutan suara di Majelis Tinggi, Lord Hunt menyatakan:
“Pengambilan organ paksa di Tiongkok adalah kejahatan di mana organ tubuh dirampas secara paksa dari para tawanan hati nurani, yang mengakibatkan korban tewas dalam prosesnya. Organ-organ tersebut kemudian dijual kepada para pejabat Tiongkok, warga negaranya, maupun warga asing untuk keperluan transplantasi. Amandemen ini adalah langkah kecil dari kami untuk membantu menghentikan praktik yang sangat kejam ini.”
Menteri Kesehatan Inggris Edward Agar menambahkan bahwa selain adanya komitmen pemerintah untuk bekerja sama dengan lembaga NHS Blood and Transplant dalam mengedukasi pasien mengenai risiko hukum, kesehatan, dan etika saat membeli organ, amandemen ini juga akan “memberikan peringatan tegas bahwa keterlibatan dalam praktik kejam perdagangan organ di luar negeri tidak akan ditoleransi.”
Rancangan Undang-Undang (RUU) H.R. 6319 tentang Perlindungan Falun Gong diajukan oleh Scott Perry (anggota DPR AS) pada 17 Desember 2021. RUU tersebut telah diserahkan ke Komite Urusan Luar Negeri dan Komite Yudisial untuk diproses lebih lanjut.
Aturan ini bertujuan untuk memberikan sanksi tegas berupa pemblokiran visa dan pembekuan aset bagi warga asing yang terbukti bertanggung jawab, terlibat, atau ikut serta dalam praktik pengambilan organ tubuh secara paksa di Tiongkok.
RUU ini mewajibkan Presiden Amerika Serikat untuk:
Pada 3 Maret 2021, Anggota DPR Christopher H. Smith mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) H.R. 1592 untuk menghentikan praktik perampasan organ secara paksa. RUU tersebut sedang diproses oleh beberapa komite terkait, termasuk komite urusan luar negeri dan hukum.
RUU ini merancang langkah tegas untuk melawan pengambilan organ paksa dan perdagangan organ internasional, di antaranya:
Sehari setelahnya, pada 4 Maret 2021, Senator Tom Cotton juga mengajukan RUU serupa (S. 602) ke tingkat Senat untuk memperkuat upaya tersebut.

Tribunal Independen untuk Pengambilan Organ Secara Paksa dari Tawanan Hati Nurani di Tiongkok dipimpin oleh seorang pengacara senior Inggris dan profesor terkemuka, Sir Geoffrey Nice QC. Nice sebelumnya memimpin penuntutan terhadap Slobodan Milošević di Den Haag dan kemudian bekerja pada kasus-kasus di Mahkamah Pidana Internasional permanen. Tribunal ini terdiri dari sekelompok ahli dari berbagai bidang yang mengevaluasi bukti-bukti perampasan organ di Tiongkok dan memberikan keputusan mengenai apakah kejahatan terhadap kemanusiaan telah terjadi.
“Pengambilan organ secara paksa telah dilakukan selama bertahun-tahun di seluruh wilayah Tiongkok dalam skala yang besar.”
Setelah meninjau berbagai bukti selama sekitar sembilan bulan dan mengadakan persidangan selama tiga hari di London, pada Desember 2018, tribunal tersebut mengeluarkan keputusan sementara yang menyatakan: “Seluruh anggota Tribunal yakin sepenuhnya—secara bulat dan tanpa keraguan sedikit pun—bahwa di Tiongkok, praktik pengambilan organ secara paksa dari para tawanan hati nurani telah terjadi dalam waktu yang lama dan memakan korban yang sangat banyak.”
Pada tahun 2019, China Tribunal memberikan kesimpulan akhir mengenai pengambilan organ paksa tersebut:
Pengambilan organ secara paksa telah dilakukan selama bertahun-tahun di seluruh wilayah Tiongkok dalam skala yang besar, dan praktisi Falun Gong telah menjadi salah satu—dan kemungkinan besar merupakan sumber utama—pasokan organ tersebut…. Tribunal tidak menemukan bukti bahwa infrastruktur besar yang terkait dengan industri transplantasi Tiongkok telah dihentikan. Karena tidak adanya penjelasan yang memuaskan mengenai asal-usul organ yang selalu tersedia tersebut, Tribunal menyimpulkan bahwa pengambilan organ secara paksa masih terus berlanjut hingga hari ini.
China Tribunal, “Judgement,” China Tribunal, June 17, 2019, https://chinatribunal.com/final-judgment/
Putusan akhir disampaikan pada bulan Juni 2019.
Putusan lengkap dirilis pada bulan Maret 2020.
Menanggapi tekanan luar negeri yang semakin besar, pejabat transplantasi Tiongkok berjanji bahwa mulai tahun 2015 mereka tidak akan lagi mengambil organ dari narapidana hukuman mati. Klaim ini sebagian besar diterima oleh lembaga transplantasi internasional. Setelah itu, para pejabat Tiongkok menjadi anggota satuan tugas transplantasi organ Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan para ahli bedah Tiongkok terus menerbitkan tulisan di jurnal medis Barat serta mempresentasikan makalah di berbagai konferensi.
Namun, penelitian ilmiah terbaru mulai meragukan klaim reformasi tersebut.
Sebuah makalah berjudul “Analisis Data Resmi Donor Organ Jenazah Menimbulkan Keraguan atas Kredibilitas Reformasi Transplantasi Organ Tiongkok” menemukan bahwa data Tiongkok mengikuti pola pertumbuhan yang tidak wajar—secara spesifik mengikuti rumus matematika persamaan kuadrat—dengan sangat tepat. Makalah ini disusun oleh Matthew Robertson, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Nasional Australia dan peneliti di Victims of Communism Memorial Foundation; Dr. Raymond L. Hinde, seorang ahli statistik; dan Dr. Jacob Lavee, seorang ahli bedah transplantasi jantung dan profesor bedah.
Lonjakan drastis jumlah operasi transplantasi di Tiongkok berhubungan langsung dengan lonjakan drastis jumlah tahanan praktisi Falun Gong. Melalui Falun Gong, rezim Tiongkok tiba-tiba memiliki pasokan organ yang hampir tidak terbatas untuk diambil.
— Levi Browde, Direktur Eksekutif Falun Dafa Information Center, 2019
Klaim bahwa pertumbuhan donor organ di Tiongkok bisa berjalan sangat mulus dan stabil sangatlah tidak masuk akal. Pada kenyataannya, donor organ sukarela bersifat tidak pasti; pendonor hanya tersedia secara acak dan sering kali pihak keluarga tidak memberikan izin. Saat dibandingkan dengan data dari 50 negara lain, tidak ada satu pun yang polanya seperti itu. Hal ini dikarenakan data transplantasi yang asli tidak mungkin terlihat sempurna seperti rumus matematika. Ini memicu kecurigaan bahwa data Tiongkok bukanlah hasil kegiatan nyata di lapangan, melainkan data palsu yang dibuat menggunakan rumus tertentu.
Untuk membuktikan dugaan pemalsuan tersebut, para peneliti membandingkan data pemerintah dengan data Palang Merah (pusat dan daerah), lalu mencocokkannya dengan data rumah sakit di berbagai provinsi. Mereka menemukan banyak kejanggalan yang hanya bisa terjadi jika ada campur tangan manusia untuk mengubah angka-angkanya.
Bahkan ada satu kasus di mana data Palang Merah mengeklaim bahwa rumah sakit di Tiongkok berhasil mendapatkan lebih dari 21 organ dari hanya satu orang pendonor dalam waktu dua minggu—sebuah hal yang mustahil secara medis. Para peneliti menyatakan, “Pemalsuan dan manipulasi data ini menunjukkan adanya upaya yang disengaja dan sistematis untuk menipu dunia, seolah-olah program donor organ sukarela di Tiongkok telah berjalan dengan sukses.”
Temuan mengenai pemalsuan sistematis pada data resmi donor organ ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang sistem transplantasi organ di Tiongkok. Hal ini mencakup keraguan atas skala sebenarnya dari sistem sukarela yang diklaim oleh para pejabat, serta aktivitas transplantasi nyata yang terjadi di luar sistem resmi tersebut.
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, China Tribunal menyimpulkan pada tahun 2019:
Perampasan organ secara paksa telah terjadi selama bertahun-tahun di seluruh Tiongkok dalam skala yang besar, dan para praktisi Falun Gong adalah salah satu sumber utamanya. Hingga saat ini, tidak ada bukti bahwa infrastruktur besar yang mendukung industri transplantasi di Tiongkok telah dihentikan. Karena tidak ada penjelasan yang masuk akal tentang dari mana organ-organ tersebut berasal sehingga bisa selalu tersedia dengan cepat, Tribunal menyimpulkan bahwa praktik pengambilan organ paksa ini masih terus berlangsung sampai sekarang.
China Tribunal, “Putusan”, China Tribunal, 17 Juni 2019, https://chinatribunal.com/final-judgment/.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan pernyataan pada tahun 2021 bahwa para pakar HAM mereka sangat terkejut oleh temuan-temuan yang kredibel ini.[1]
Berikut adalah kumpulan bukti mengenai perampasan organ secara paksa dari para praktisi Falun Gong:
Pada November 2017, stasiun televisi Korea Selatan, TV Chosun, merilis sebuah film dokumenter rahasia berjudul Sisi Gelap Wisata Transplantasi di Tiongkok: Membunuh untuk Bertahan Hidup. Film ini membahas masalah etika bagi orang yang melakukan transplantasi organ di Tiongkok, serta membongkar fakta betapa cepatnya organ tersedia dan tidak jelasnya asal-usul organ tersebut.

Laporan eksklusif BBC World News tahun 2018 mengenai perdagangan transplantasi organ di Tiongkok telah mengulas klaim bahwa Tiongkok menggunakan praktisi Falun Gong yang ditahan sebagai sumber organ vital ilegal untuk industri transplantasi mereka yang sedang berkembang pesat.
Laporan Bloody Harvest karya David Matas dan David Kilgour memuat bukti rekaman telepon dengan staf dari 15 rumah sakit dan pusat penahanan di Tiongkok. Dalam rekaman itu, mereka mengaku menggunakan atau bisa mendapatkan organ dari praktisi Falun Gong untuk transplantasi. Beberapa dokter bahkan menyebutkan bahwa pengadilan dan aparat keamanan setempat ikut membantu proses penyediaan organ tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa organ dari praktisi Falun Gong jauh lebih sehat daripada organ narapidana biasa.[2]
Baru-baru ini, Organisasi Dunia untuk Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong melakukan ratusan panggilan telepon ke berbagai rumah sakit di Tiongkok selama tahun 2020 dan 2021. Mereka menemukan bukti kuat bahwa industri transplantasi tidak etis milik Partai Komunis Tiongkok (PKT) tetap berjalan meski di tengah pandemi. Laporan ini kembali menegaskan bahwa praktisi Falun Gong masih terus dijadikan sumber organ.[3]
Terkait proses perampasan organ, sebuah penelitian di jurnal medis bergengsi American Journal of Transplantation pada April 2022,[4] menemukan 71 laporan medis di Tiongkok yang secara terang-terangan menunjukkan adanya pembunuhan oleh ahli bedah. Artinya, para “pendonor” tersebut sebenarnya masih hidup saat organ mereka dirampas. Para peneliti yakin bahwa temuan ini hanyalah sebagian kecil dari kasus besar yang selama ini disembunyikan.[5]
Pemerintah Tiongkok mengklaim bahwa mereka telah berhenti mengambil organ dari narapidana hukuman mati pada tahun 2015 dan sejak saat itu hanya menggunakan organ dari donor sukarela. Namun, sebuah makalah penelitian yang diterbitkan oleh BMC Medical Ethics pada tahun 2019 menemukan bahwa kurva pertumbuhan donor sukarela di Tiongkok untuk tiga jenis organ menunjukkan kenaikan ke atas yang sangat mulus dan membentuk persamaan kuadrat yang hampir sempurna, yang menunjukkan bahwa data tersebut telah dipalsukan. Makalah tersebut juga menyimpulkan bahwa “sistem sukarela tampaknya beroperasi bersamaan dengan penggunaan donor tidak sukarela yang berkelanjutan (kemungkinan besar adalah para tahanan) yang salah diklasifikasikan sebagai ‘sukarela.’”[6]
Karena adanya kepercayaan tradisional, sebagian besar warga Tiongkok lebih suka menjaga keutuhan tubuh saat meninggal dunia. Itulah sebabnya donor organ sukarela di sana sangat jarang ditemukan. Sebelum tahun 2009, tercatat hanya ada 120 orang yang mendonorkan organ secara sukarela,[7] sementara menurut mantan wakil menteri kesehatan, Huang Jiefu, dalam beberapa tahun setelahnya pun, sebagian besar organ yang “didonorkan” masih berasal dari narapidana yang dieksekusi mati.[8] Meski Tiongkok mulai membentuk program donor organ nasional pada tahun 2013, hingga akhir 2017 hanya ada 262.500 orang (sekitar 0,02% dari total penduduk) yang terdaftar sebagai donor sukarela.[9] Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, di mana lebih dari 145 juta[10] orang (44% dari populasi AS) sudah terdaftar sebagai donor. Jika kita mengasumsikan rasio tahunan transplantasi yang sama (35.582[11] pada tahun 2017 di AS) dibandingkan dengan jumlah basis donor (145 juta) di AS terhadap Tiongkok, maka Tiongkok seharusnya hanya mampu melakukan sekitar 65 transplantasi setahun dari donor sukarela. Namun, Tiongkok melakukan 16.687 transplantasi pada tahun 2017.[12] Dari manakah sisa organ tersebut berasal?
He Xiaoshun, seorang pakar dari Komisi Donor Organ sekaligus wakil pimpinan Rumah Sakit Universitas Sun Yat-sen, sempat memberikan pernyataan kepada media Southern Weekly pada Maret 2010,[13] “tahun 2000 adalah titik balik bagi industri transplantasi organ di Tiongkok…bayangkan saja, jumlah transplantasi hati pada tahun 2000 melonjak hingga 10 kali lipat dibanding tahun 1999; Lalu pada tahun 2005, jumlahnya meningkat lagi menjadi tiga kali lipat [sejak 2000].” Kenaikan drastis jumlah transplantasi ini terjadi di waktu yang sama dengan dimulainya masa penganiayaan terhadap Falun Gong pada Juli 1999—tepat enam bulan sebelum industri transplantasi tersebut tumbuh sangat pesat. Hal ini mengindikasikan bahwa ada ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan orang sehat yang dijebloskan ke sistem penjara di luar jalur hukum (seperti kamp kerja paksa, pusat penahanan, penjara rahasia, hingga rumah sakit jiwa) untuk dijadikan cadangan organ hidup.
Menurut beberapa organisasi HAM, termasuk Dui Hua Foundation, jumlah eksekusi mati terhadap pelaku kriminal di Tiongkok sebenarnya terus menurun sejak tahun 2000. Lagipula, tidak semua orang bisa menjadi donor organ. Media pemerintah Tiongkok, Guangming Daily, melaporkan pada September 2013,[14] bahwa sekitar 50% calon donor organ di Tiongkok tidak lolos kualifikasi karena kondisi kesehatan organ mereka yang kurang baik. Persentase ini kemungkinan bahkan lebih rendah di kalangan narapidana hukuman mati, mengingat tingginya tingkat penyakit menular seksual dan virus hepatitis di antara mereka.
Namun anehnya, antara tahun 1999 sampai 2006, jumlah pusat transplantasi di Tiongkok justru melonjak drastis, dari 150 menjadi lebih dari 600 lokasi.[15] Perluasan tempat yang begitu besar menunjukkan bahwa pihak berwenang sangat yakin akan adanya pasokan organ yang berlimpah, meskipun saat itu belum ada program donor sukarela. Jumlah eksekusi mati narapidana biasa tidak mungkin bisa menjelaskan keyakinan tersebut, namun sistem laogai (kamp kerja paksa) bisa menjelaskannya. Nyawa para praktisi Falun Gong tidak diberikan perlindungan hukum sedikit pun di Tiongkok, dan dianggap hilang begitu mereka masuk ke dalam sistem laogai.


Meskipun pejabat Tiongkok tidak pernah memberikan angka yang pasti, mereka biasanya menyatakan bahwa Tiongkok melakukan sekitar 10.000 hingga 20.000 operasi transplantasi setiap tahunnya (berdasarkan laporan China Daily[18] tahun 2006). Namun, laporan dari Kilgour, Gutmann, dan Matas yang berjudul “Bloody Harvest/The Slaughter: An Update”[19] menunjukkan bahwa angka tersebut sebenarnya sudah terlampaui hanya oleh beberapa rumah sakit saja. Media di Tiongkok maupun luar negeri melaporkan bahwa beberapa rumah sakit di sana bahkan melakukan ribuan transplantasi setiap tahunnya.
Setelah memeriksa program transplantasi di ratusan rumah sakit secara teliti, Kilgour, Gutmann, dan Matas memperkirakan bahwa jumlah transplantasi sebenarnya di Tiongkok jauh lebih besar, yakni sekitar 60.000 hingga 100.000 per tahun sejak tahun 2000.[20] Padahal, menurut Amnesty International[21] dan Dui Hua Foundation,[22] jumlah eksekusi mati di Tiongkok hanya beberapa ribu orang saja setiap tahun. Karena jumlah donor sukarela sangat sedikit, selisih angka yang sangat besar ini hanya bisa dijelaskan satu hal: organ-organ tersebut diambil dari tahanan hati nurani, yang sebagian besar adalah praktisi Falun Gong. Selama dua dekade terakhir, jumlah korban yang meninggal diperkirakan mencapai ratusan ribu orang.


Ada banyak laporan yang menyebutkan bahwa para praktisi Falun Gong dipaksa menjalani tes darah dan pemeriksaan fisik, seperti MRI, tes urine, dan pemeriksaan lainnya saat berada di kamp kerja paksa atau penjara. Pemeriksaan ini jelas bukan bertujuan untuk menjaga kesehatan mereka, karena pada kenyataannya mereka sering kali mengalami penganiayaan yang berat. Sebaliknya, tes kesehatan ini diduga kuat hanya dilakukan untuk memeriksa kondisi fungsi organ mereka. Hal ini memperkuat dugaan adanya “bank organ hidup” di Tiongkok, di mana organ-organ tersebut bisa diambil kapan saja sesuai dengan permintaan pesanan transplantasi.[23][24][25]
Rumah sakit transplantasi organ di Tiongkok mengklaim bahwa organ yang cocok bisa ditemukan hanya dalam waktu beberapa minggu, bahkan hitungan hari.[26][27][28] Padahal di negara-negara lain, pasien harus menunggu selama bertahun-tahun. Mengingat organ harus segera dipindahkan ke tubuh pasien sesaat setelah diambil dari donor, waktu tunggu yang sangat singkat ini menunjukkan bahwa rumah sakit di Tiongkok memiliki “bank donor” yang berisi orang-orang hidup yang organnya bisa diambil kapan saja sesuai permintaan. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, waktu tunggu untuk transplantasi ginjal dan hati rata-rata mencapai 2 hingga 3 tahun.

Banyak rumah sakit di Tiongkok juga sering melakukan “transplantasi darurat”. Ini berarti organ bisa didapatkan hanya dalam hitungan hari atau bahkan beberapa jam saja. Data dari China Liver Transplant Registry pada tahun 2006 melaporkan bahwa lebih dari 25% transplantasi yang dilakukan adalah kategori “darurat”[29] Waktu tunggu tersingkat yang pernah tercatat hanya 4 jam. Hal ini mengindikasikan adanya “donor” yang memang sedang menunggu untuk dieksekusi demi diambil organnya.
Cara mencocokkan organ di Tiongkok sangat berbeda dengan negara-negara lain. Di negara yang sistem donornya sudah maju, ketika ada seorang donor yang meninggal, semua organ tubuhnya akan diberikan kepada orang-orang yang ada di daftar tunggu, asalkan jenis darah dan jaringannya cocok. Namun di Tiongkok, prosesnya terbalik. Begitu ada pasien yang membutuhkan organ, pihak rumah sakit akan mencari “donor” yang punya jenis darah dan jaringan yang cocok, lalu “donor” tersebut dibunuh untuk diambil organnya. Karena Tiongkok tidak memiliki sistem pembagian organ yang baik, biasanya hanya satu organ saja yang diambil untuk satu pasien. Akibatnya, organ-organ lainnya dari orang tersebut sering kali terbuang sia-sia karena sulit mencari pasien lain yang cocok di saat yang bersamaan.
Berdasarkan laporan China Medicine News pada tahun 2004,[30] “karena tidak adanya jaringan pendaftaran transplantasi, sering kali hanya ginjal saja yang diambil dari seorang donor, sementara organ tubuh lainnya terbuang percuma.” Selain itu, berita dari Guangxi News pada Januari 2013 menyebutkan bahwa hingga awal tahun tersebut, hanya ada dua rumah sakit di Tiongkok yang mampu mengambil dan mencangkokkan beberapa organ sekaligus dari satu orang donor.[31]
Karena cara kerjanya yang seperti ini, bukanlah hal yang aneh jika seorang pasien harus menjalani beberapa kali percobaan transplantasi jika operasi pertamanya gagal. Setiap tahun, ada banyak kasus di mana satu pasien menjalani dua, tiga, bahkan sampai empat kali operasi transplantasi. Shen Zhongyang dari Pusat Transplantasi Oriental Tianjin menyatakan bahwa di tempatnya, kasus transplantasi ulang (kedua kalinya) bagi pasien mencapai 10% hingga 20% dari total operasi. Hal ini terjadi karena penanganan yang salah atau prosedur operasi yang tidak tepat.[32]
Di bawah ini adalah kesaksian dari para praktisi Falun Gong yang menjadi korban perampasan organ secara paksa di Tiongkok.
Videos:
Articles:
Duta Besar Luar Biasa Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback, menyampaikan kepada wartawan di Hong Kong pada 8 Maret 2019: “Dugaan kuat masih berlanjut bahwa pemerintah Tiongkok terus merampas organ dari para tahanan yang ditahan karena keyakinan mereka, seperti praktisi Falun Gong dan etnis Uyghur. … Ini adalah sebuah kemungkinan yang benar-benar mengerikan.”[33]
Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa bentuk penganiayaan ini telah menjadi semakin sistematis dan kini mulai menyasar kelompok lain. Sejak tahun 2017, para mantan tahanan Muslim Uyghur memberikan kesaksian bahwa mereka juga dipaksa menjalani tes darah dan pemeriksaan fisik yang mencurigakan[34] – sangat mirip dengan apa yang dialami oleh para praktisi Falun Gong. Ini berarti ada kemungkinan besar bahwa Muslim Uyghur kini juga semakin banyak digunakan sebagai sumber organ.
Karena PKT belum mendapatkan sanksi atas kejahatan keji ini, perampasan organ terhadap praktisi Falun Gong menjadi sangat penting untuk diperhatikan—bukan hanya karena skalanya yang besar, tetapi juga karena dampak buruk yang bisa ditimbulkannya. Menurut media milik pemerintah PKT, diperkirakan ada sekitar 70 juta[35] hingga 100 juta praktisi Falun Gong dan 11 juta orang Uyghur yang tinggal di Tiongkok.[36] Bahkan dengan perkiraan yang paling sederhana sekalipun, ini berarti PKT mengambil organ dari jutaan tahanan hati nurani tersebut.
Setiap pemerintah atau siapa pun yang bekerja sama secara luas dengan RRT (Republik Rakyat Tiongkok)… sekarang harus menyadari bahwa berdasarkan bukti-bukti yang ada, mereka sebenarnya sedang berurusan dengan sebuah negara kriminal.
Bantu hentikan pengambilan organ secara paksa di Tiongkok dengan cara:
1. Mendukung rancangan undang-undang melalui:
- Meminta senator Anda untuk ikut mendukung (co-sponsor) S. 761 Stop Forced Organ Harvesting Act of 2023
- Meminta senator Anda untuk mengajukan Falun Gong Protection Act ke Kongres.
2. Mengadakan arahan (briefing) dengan cara menghubungi kami di sini.
3. Meningkatkan kepedulian dengan membagikan halaman ini kepada orang lain.
[1] The Office of the High Commissioner for Human Rights, United Nations, “China: UN human rights experts alarmed by ‘organ harvesting’ allegations”, June 14, 2021, https://www.ohchr.org/en/press-releases/2021/06/china-un-human-rights-experts-alarmed-organ-harvesting-allegations; “Reference: AL CHN 5/2021,” June 10, 2021, https://spcommreports.ohchr.org/TMResultsBase/DownLoadPublicCommunicationFile?gId=26382.
[2] David Matas & David Kilgour, “Bloody Harvest: Revised Report into Allegations of Organ Harvesting of Falun Gong Practitioners in China”, Jan. 31, 2007 http://organharvestinvestigation.net/report0701/report20070131.htm#_Toc160145142
[3] https://www.upholdjustice.org/node/523
[4] Matthew P. Robertson, Jacob Lavee, “Execution by organ procurement: Breaching the dead donor rule in China,” The American Journal of Transplantation, April 4, 2022, https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/ajt.16969
[5] Jacob Lavee and Matthew P. Robertson, “In China, New Evidence That Surgeons Became Executioners,” The Wall Street Journal, May 31, 2022, https://www.wsj.com/articles/china-new-evidence-surgeon-doctor-execution-murder-prisoner-organ-harvesting-donor-uyghur-falun-gong-genocide-human-rights-world-health-organization-who-11654012796
[6] Matthew P. Robertson, et al., “Analysis of official deceased organ donation data casts doubt on the credibility of China’s organ transplant reform,” BMC Medical Ethics, November 14, 2019, https://bmcmedethics.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12910-019-0406-6
[7] Interview with Huang Jiefu, January 8, 2015. http://t1.cn-healthcare.com/article/20150108/content-468177.html
[8] Jiefu Huang, et al., “A Pilot Programme of Organ Donation after Cardiac Death in China,” The Lancet, Volume 379, Issue 9818, Pages 862 – 865, 3 March 2012 http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(11)61086-6/abstract
[9] http://www.xinhuanet.com/english/2018-05/07/c_137161402.htm
[10] https://www.organdonor.gov/statistics-stories/statistics.html#glance
[11] http://www.transplant-observatory.org/summary/
[12] Ibid.
[13] “Mystery of Organ donation”, Southern Weekly, Guangzhou, Mar 26, 2010 http://news.163.com/10/0326/10/62MP5K0G00011SM9.html
[14] Chen Haibo, “Many Challenges in Organ Donation”, Guangming Daily, Sep. 3, 2013, http://guancha.gmw.cn/2013-09/03/content_8778961.htm
[15] Bing-Yi Shi, Li-Ping Chen, “Regulation of Organ Transplantation in China: Difficult Exploration and Slow Advance” , The Journal of the American Medical Association, July 27, 2011 http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=1104134
[16] http://web.archive.org/web/20060207021805/http://www.ootc.net/
[17] http://web.archive.org/web/20050317130117/http://www.transorgan.com/about_g_intro.asp
[18] Zhang Feng, “New rule to regulate organ transplants”, China Daily, May 5, 2006, http://www.chinadaily.com.cn/china/2006-05/05/content_582847.htm
[19] David Kilgour, Ethan Gutmann & David Matas, “Bloody Harvest/The Slaughter: An Update”, June 22, 2016, https://endtransplantabuse.org/an-update/.
[20] Ibid.
[21] http://www.amnesty.org/en/death-penalty/death-sentences-and-executions-in-2006
[22] http://online.wsj.com/news/articles/SB10001424052702304724404577298661625345898
[23] Davis Matas, et al., State Organs: Transplant Abuse in China, Woodstock (ON): Seraphim Editions, 2012, p. 49-62.
[24] David Matas & David Kilgour, “Bloody Harvest: Revised Report into Allegations of Organ Harvesting of Falun Gong Practitioners in China”, Jan. 31, 2007 http://organharvestinvestigation.net/report0701/report20070131.htm#_Toc160145138
[25] Ethan Gutmann, “China’s Gruesome Organ Harvest,” The Weekly Standard, November 11, 2008, https://www.washingtonexaminer.com/weekly-standard/chinas-gruesome-organ-harvest
[26] Average waiting time for a liver in Oriental Organ Transplant Center in Tianjin is 2 weeks. http://web.archive.org/web/20060207021805/http://www.ootc.net/
[27] Average waiting time for a liver in Organ Transplant Institute of the People’s Liberation Army in Shanghai is 1 week. http://web.archive.org/web/20050210151434/www.transorgan.com/apply.asp
[28] Waiting time for a liver or kidney in China International Transplantation Network Assistance Center is 1-4 weeks. http://web.archive.org/web/20041023183012/zoukiishoku.com/cn/jueding/index.htm
[29] China Liver Transplant Registry’s 2006 Annual Report. http://goo.gl/56yvai
[30] Wang Le, “Building Organ Transplant Registration Network, and Passing New Law about Brain Death–Solution for lack of Organ Transplant Donors”, China Medicine News, Nov. 15, 2004, http://www.100md.com/html/DirDu/2004/11/15/63/30/56.htm
[31] “Transplant surgeries of using 6 organs from 1 donor are not many in China”, Guangxi News, Jan. 9, 2013, http://news.gxnews.com.cn/staticpages/20130109/newgx50eca3b5-6746649.shtml
[32] “In China, 98% of Organ Transplant Sources Controlled by Parties Other Than Ministry of Health”, Life Weekly, Sina.com, April 7th , 2006, https://archive.is/Ixf9t
[33] Hong Kong: U.S. Ambassador for International Religious Freedom Calls for Ending the Persecution of Falun Gong, Minghui, Mar. 10, 2019, https://en.minghui.org/html/articles/2019/3/10/176103.html
[34] “Uyghurs Forced to Undergo Medical Exams, DNA Sampling”, Radio Free Asia, May 19, 2017, https://www.rfa.org/english/news/uyghur/dna-05192017144424.html
[35] Shanghai TV: 100 Million Around the World Are Learning Falun Dafa (1998), Falun Info TV, https://tv.faluninfo.net/shanghai-tv-100-million-around-the-world-are-learning-falun-dafa/
[36] Welcome to the World Uyghur Congress, World Uyghur Congress, https://www.uyghurcongress.org/en/


