Ibu dari Chen Xiao
Chen Xiao belum menerima kabar dari ibunya sejak sang ibu ditahan pada tahun 2020 karena melakukan latihan Falun Gong.
Ringkasan Kasus
Tan Zezhen – Jenis Kelamin: Perempuan, Usia: 76 tahun
Status Saat Ini: Ditahan sejak 19 Desember 2020 (lama masa hukuman tidak diketahui)
Penahanan Sebelumnya: Tan bersama putri dan menantunya telah ditangkap berkali-kali karena keyakinan mereka.
Lokasi Terakhir yang Diketahui: Pusat Penahanan No. 1 Kota Beihai
Tempat Tinggal Keluarga: Australia
Latar Belakang Pribadi
Pada 19 Desember 2020, pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok (PKT) menahan dua wanita lansia, Tan Zezhen dan Xu Shanping, di Guangxi. Keduanya ditangkap karena membagikan informasi mengenai Falun Dafa, sebuah latihan spiritual yang memadukan meditasi dan ajaran moral untuk kesehatan jiwa dan raga.
Sejak saat itu, Chen Xiao—seorang warga negara Australia—masih menunggu kabar tentang ibunya, Tan Zezhen (76 tahun), yang ditahan di Tiongkok..
Meski Minghui melaporkan pada 2021 bahwa Tan berada di Pusat Penahanan No. 1 Kota Beihai, hingga kini Chen Xiao belum mendapat informasi resmi apa pun dari pihak penjara. Sejak penangkapan tahun 2020 tersebut, keluarga Tan tidak pernah menerima dokumen hukum atau diberitahu di mana ia berada. Selain itu, belum ada kejelasan apakah Tan sudah dijatuhi hukuman atau belum.

Sekarang sebagai warga negara Australia, Chen Xiao dapat dengan bebas melakukan latihan Falun Gong. Namun, saat masih di Tiongkok, Chen Xiao ditangkap berkali-kali dan dikirim ke kamp kerja paksa serta pusat pencucian otak. Chen dan suaminya sama-sama menjadi sasaran penganiayaan oleh PKT, yang mengakibatkan kehidupan keluarga mereka menjadi sulit, dan anak mereka sering kali tumbuh besar terpisah dari orang tuanya..
Saat Chen Xiao masih dalam tahanan, ibunya dibawa ke kamp kerja paksa untuk masa hukuman satu tahun. Karena menolak melepaskan keyakinannya setelah satu tahun, masa hukumannya diperpanjang satu tahun lagi. Selama dua tahun penahanan tersebut, Tan mengalami pelecehan secara verbal maupun fisik, namun ia tidak pernah melepaskan keyakinannya pada Falun Dafa. Dalam tujuh bulan terakhir masa tahanannya, ia melakukan protes terhadap penahanan ilegal tersebut saat berada di penjara, hingga akhirnya ia dibebaskan.
Sejak latihan ini mulai dianiaya oleh rezim Komunis Tiongkok pada tahun 1999, kehidupan Tan menjadi kacau balau. Chen menjelaskan bahwa dalam 25 tahun penganiayaan ini, rumah ibunya telah digeledah lebih dari 20 kali, dan selama penggeledahan tersebut, barang-barang pribadinya disita.
Penyiksaan yang dialami wanita lanjut usia ini telah berlangsung sebentar-sebentar dalam waktu yang lama. Chen mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ibunya telah “menjalani dua masa hukuman kamp kerja paksa selama total tiga tahun sembilan bulan. Ia juga berulang kali ditahan di pusat-pusat pencucian otak, mengalami berbagai macam penyiksaan fisik dan tekanan mental.”
Ayah Chen, yang kini berusia 80 tahun, harus berjuang menjalani hidup tanpa istrinya dan terus merasa sangat khawatir akan keselamatan istrinya tersebut.
Saat ditanya mengenai pengaruh Falun Gong bagi ibunya, Chen menjelaskan bahwa sejak mengikuti latihan ini, kesehatan ibunya membaik secara luar biasa dan ia menjadi sosok yang “ceria serta penuh semangat hidup.” Ia juga merasa bahwa seluruh keluarganya telah mendapatkan manfaat besar setelah menerapkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Kini, Chen sangat mencemaskan keadaan ibunya. Ia merasa takut jika ibunya akan mengalami nasib tragis yang sama dengan rekan yang dipenjara bersamanya, Xu Shanping, yang ditangkap bersama Tan, meninggal dunia pada 6 Juli 2024, hanya dua hari setelah dibebaskan dari penjara. Tubuh Xu menjadi sangat kurus kering akibat penyiksaan dan perlakuan buruk di dalam penjara, serta menderita penyakit serius selama masa penahanannya.
Urutan Peristiwa
19 Desember 2020 – Penahanan Terkini
Otoritas PKT menahan Tan dan Xu karena menyebarkan informasi tentang Falun Dafa. Xu meninggal dunia dua hari setelah dibebaskan dari penjara akibat kondisi medis parah yang dialaminya, sementara belum ada informasi resmi mengenai status Tan.
11 September 2005 – Kasus pelecehan pertama yang didokumentasikan oleh pihak berwenang
Tan bersama tiga wanita lainnya menaiki sebuah van untuk mengunjungi kerabat mereka di penjara yang dihukum karena melakukan latihan Falun Gong. Mereka dihentikan oleh petugas polisi yang telah menunggu berjam-jam untuk menahan mereka. Polisi kemudian menginterogasi para wanita tersebut selama berjam-jam dan memerintahkan mereka untuk melapor ke polisi ke mana pun mereka pergi.
Berita & Aksi
Chen Xiao mengirimkan surat kepada Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong
Selama berada di Australia, Chen Xiao telah menjadi suara yang vokal dalam menyuarakan dukungan terhadap Falun Gong. Ia mendesak pemerintah Australia untuk menggunakan jalur diplomatik guna membantu menangani kasus ini. Dalam surat yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Penny Wong, ia menekankan bahwa tekanan internasional dapat memberikan perbedaan besar dalam upaya pembebasan ibunya, serta menarik perhatian terhadap penderitaan para tahanan lain yang mengalami penganiayaan di Tiongkok.
Dalam surat tersebut, ia mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam: “Tanpa bantuan segera, saya khawatir ibu saya tidak akan mampu bertahan melewati cobaan berat ini. Perhatian anda terhadap masalah ini akan sangat berarti bagi keluarga kami untuk bisa berkumpul kembali.”


