Apa Hubungan Antara Falun Gong dan The Epoch Times?
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa media telah menyalahartikan hubungan antara Falun Gong dan surat kabar The Epoch Times. Mereka menggambarkan koran tersebut sebagai “corong” atau mewakili pandangan politik Falun Gong. Meskipun benar bahwa The Epoch Times didirikan oleh sekelompok kecil individu yang berlatih Falun Gong, koran tersebut tidak mewakili ajaran spiritual ini, juga tidak berbicara atas nama komunitas praktisi global yang sangat beragam.
Kenyataannya:
Falun Gong (atau Falun Dafa) adalah sebuah latihan meditasi dan spiritual yang berakar dari tradisi Tiongkok. Ajarannya berfokus pada penerapan nilai Sejati, Baik, dan Sabar, serta belajar melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi. Latihan ini murni tidak berpolitik dan lebih mengutamakan perkembangan spiritual diri sendiri. Ian Johnson, seorang jurnalis pemenang Penghargaan Pulitzer, menggambarkan Falun Gong sebagai “disiplin yang tidak berpolitik dan berorientasi ke dalam diri, bertujuan untuk membersihkan jiwa dan meningkatkan kesehatan.”
Sebaliknya, The Epoch Times adalah media independen. Segala kebijakan redaksi, sikap politik, dan keputusan organisasi mereka dibuat secara mandiri. Hal-hal tersebut tidak mewakili ajaran Falun Gong maupun suara seluruh praktisinya.
Meskipun banyak praktisi Falun Gong menghargai liputan mendalam The Epoch Times mengenai penganiayaan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), hal ini tidak berarti koran tersebut bertindak sebagai perwakilan atau “corong” bagi latihan ini. Falun Gong tidak memiliki pemuka agama, tidak ada sistem keanggotaan, dan tidak punya struktur organisasi pusat. Praktisinya tersebar di lebih dari 100 negara dengan latar belakang yang berbeda-beda, sehingga tidak ada satu organisasi pun—termasuk The Epoch Times—yang bisa mengeklaim mewakili mereka semua.
Nina Shea, seorang pakar senior dan direktur Pusat Kebebasan Beragama di Hudson Institute, menyampaikan hal senada dalam wawancara baru-baru ini dengan The Diplomat. Menurut artikel tersebut, ia mencatat bahwa “banyak kelompok agama lain, seperti Katolik Roma, memiliki media cetak yang secara organisasi tidak terkait langsung dengan kepercayaan mereka masing-masing. Menyamakan pandangan The Epoch Times dengan pandangan Falun Gong… adalah hal yang tidak adil.”
Falun Gong Bukanlah Gerakan Politik
Ada kesalahpahaman umum bahwa Falun Gong mendorong ideologi politik tertentu yang diberitakan oleh The Epoch Times. Narasi ini secara keliru menyamakan ajaran spiritual Falun Gong dengan pilihan politik pribadi orang-orang yang bekerja di The Epoch Times. Kenyataannya, para praktisi Falun Gong hanyalah merespon penganiayaan kejam yang dilakukan oleh rezim komunis otoriter. Caranya adalah dengan mengungkap pelanggaran HAM yang dilakukan PKT, membantah propaganda bohong rezim tersebut, dan menjelaskan bahwa ideologi komunis memang tidak bisa menerima ajaran spiritual apa pun. Upaya untuk mengungkap kejahatan kemanusiaan ini bukanlah tindakan politik, melainkan sebuah kewajiban moral.
Menyebut The Epoch Times sebagai wakil resmi Falun Gong hanya akan membuat orang semakin salah paham tentang ajaran inti latihan ini. Yang lebih berbahaya, hal ini bisa membuat suara para korban pelanggaran HAM menjadi terabaikan. Penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok sangatlah kejam dan masih terjadi sampai sekarang. Upaya media seperti The Epoch Times untuk melaporkan kejahatan ini sangat penting guna membongkar berita bohong dari pemerintah Tiongkok.
Meskipun begitu, ajaran Falun Gong sendiri tetap berfokus pada peningkatan spiritual dan tidak mencampuri urusan politik. Jadi, menghubungkan latihan ini dengan sikap politik sebuah perusahaan media independen adalah cara yang salah dalam memahami Falun Gong dan komunitas praktisinya.
Tonton di TV:


