Praktisi Falun Gong Tunanetra Dihukum, Lalu Menghilang dari Rumahnya di Yunnan
Yang Xiaoming, 56 tahun, kehilangan penglihatannya akibat penganiayaan dan divonis tujuh tahun penjara karena keyakinannya. Ia hilang dari kediamannya di Kunming pada akhir Maret 2026. (Minghui.org)
Seorang wanita tunanetra asal Kota Kunming, Provinsi Yunnan, hilang secara misterius, memicu kekhawatiran serius terkait penindasan dalam tahanan terhadap praktisi Falun Gong yang rentan di Tiongkok.
Yang Xiaoming, kelahiran 1969, divonis tujuh tahun penjara pada 2023 dan denda 20.000 yuan karena berlatih Falun Gong. Mengingat kondisi kesehatannya, ia sempat diizinkan tinggal di rumah setelah vonis dijatuhkan. Namun, pada akhir Maret 2026, seorang rekan yang gagal menghubunginya merasa curiga. Saat mendatangi kediaman Yang, rekan tersebut menemukan pintu pengaman luar terkunci, sementara pintu kayu bagian dalam terbuka, sebuah kursi terguling, dan barang-barang berserakan di atas meja. Yang, yang tinggal sebatang kara, telah raib. Rekannya meyakini bahwa ia telah dibawa paksa untuk mulai menjalani masa hukuman penjara.
Laporan mengenai hilangnya korban pertama kali diterbitkan oleh Minghui.org pada 6 April, disusul oleh Weiquanwang pada 8 April, dan kemudian oleh Bitter Winter pada 16 April.
Puluhan tahun penganiayaan
Yang mulai berlatih Falun Gong pada pertengahan 1990-an dan meyakini latihan tersebut telah memulihkan penglihatannya setelah bertahun-tahun menderita penyakit mata. Setelah Partai Komunis Tiongkok melancarkan penindasan nasional terhadap latihan tersebut pada Juli 1999, ia berulang kali menjadi sasaran penganiayaan negara.
Pada tahun-tahun awal kampanye tersebut, pihak berwenang bertindak melampaui penahanan dengan menekan suaminya saat itu—ketika ia bekerja di Sekolah Tinggi Kedokteran Kunming—untuk memaksanya aborsi. Suaminya menceraikannya tidak lama kemudian. Antara 2001 hingga 2008, Yang dua kali dijebloskan ke kamp kerja paksa selama total lima tahun. Selama masa itu, ia mengalami pemukulan dan penyiksaan lainnya yang merusak penglihatannya secara permanen. Pada akhir 2012, ia mengalami kebutaan total.
Keterbatasan fisiknya tidak menghentikan penindasan yang terus berlanjut. Pada 28 Mei 2022, polisi menerobos masuk ke rumahnya dan melakukan penangkapan. Ia ditahan semalam dalam kondisi kejam—dilaporkan dalam keadaan terbelenggu serta dilarang makan, minum, maupun ke toilet—sebelum dipindahkan ke pusat penahanan. Namun, pihak pusat penahanan menolak menerimanya karena alasan medis. Meski dibebaskan dengan jaminan, proses hukum terhadapnya tetap berjalan. Pada November 2022, ia kembali dipanggil untuk pemeriksaan, dan pada Desember ia resmi menerima dakwaan.
Pada 1 Februari 2023, polisi kembali mendobrak pintunya dan membawanya paksa ke Pengadilan Distrik Xishan. Pada 14 Maret, Hakim Zhu Dandan menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara. Mengingat kebutaan dan kondisi kesehatannya yang terus memburuk, ia tidak segera dijebloskan ke penjara dan diizinkan tetap berada di rumah.
Komunikasi selanjutnya dengan otoritas yudisial tidak memberikan harapan keringanan. Pada 1 Juni 2023, petugas dari Pengadilan Distrik Xishan dan Pengadilan Menengah Kota Kunming mendatangi rumahnya. Yang menegaskan bahwa latihan Falun Gong tidak melanggar hukum dan menuntut pengembalian barang-barangnya yang disita. Petugas mengindikasikan bahwa vonis awal tetap berlaku dan mendesaknya membayar denda—yang ia tolak dengan alasan tidak memiliki penghasilan dan merasa tidak bersalah. Pada paruh kedua tahun 2024, petugas kembali datang mengancam akan memenjarakannya, namun pergi tanpa melakukan penahanan.
Praktisi rentan jadi sasaran penindasan
Hilangnya Yang tampaknya merupakan bagian dari operasi penindasan yang lebih luas di Provinsi Yunnan. Menurut keterangan orang dalam, arahan yang dikeluarkan setelah pertengahan 2024 memerintahkan pemenjaraan para praktisi yang telah divonis namun masih berada di rumah karena faktor usia atau penyakit. Laporan menunjukkan bahwa banyak praktisi—termasuk lansia dan orang yang sakit parah—ditahan secara paksa, menjalani pemeriksaan medis, dan dipindahkan ke penjara tanpa mempedulikan kondisi kesehatan mereka. Dalam beberapa kasus yang terdokumentasi, pihak keluarga menerima pemberitahuan kondisi kritis tak lama setelah orang yang mereka cintai dipenjarakan.
Salah satu kasus serupa melibatkan Zhang Zhenyi, mantan guru matematika berusia 79 tahun, yang dimasukkan ke Penjara Wanita Kedua Provinsi Yunnan pada 2 April 2026. Ia menjalani hukuman dua tahun yang dijatuhkan pada 2025 karena berlatih Falun Gong. Sebelumnya, Zhang telah dinyatakan tidak layak menjalani penahanan dalam berbagai evaluasi medis. Namun, otoritas tetap bersikeras, dan setelah pemeriksaan ketiga pada 30 Maret, ia ditahan, dipindahkan terlebih dahulu ke pusat penahanan lalu ke rumah sakit, sebelum akhirnya resmi dijebloskan ke penjara.
Kasus Yang Xiaoming menunjukkan terus berlanjutnya praktik pemenjaraan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok—termasuk mereka yang berada dalam kondisi paling rentan. Hal ini memicu pertanyaan mendesak mengenai proses hukum, kepantasan vonis, serta perlakuan terhadap tahanan dengan kondisi medis serius, terutama ketika penindasan negara sebelumnya telah menyebabkan cacat permanen.








