Sebanyak 67 Praktisi Falun Gong Dilaporkan Meninggal pada Paruh Pertama Tahun 2021
Para praktisi Falun Gong yang dianiaya hingga tewas pada paruh pertama tahun 2021.
Berdasarkan Laporan Asli dari Minghui.org
Pada paruh pertama tahun 2021, kematian 67 praktisi Falun Gong dilaporkan ke Minghui.org. Hingga 30 Juni 2021, total 4.660 kematian telah didokumentasikan. Namun, karena sensor informasi yang ketat di Tiongkok, jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.
Kematian yang baru dikonfirmasi pada paruh pertama tahun 2021 meliputi 1 kasus yang terjadi pada tahun 2017, 2 kasus pada tahun 2018, 2 kasus pada tahun 2019, 20 kasus pada tahun 2020, dan 42 kasus pada tahun 2021. 20 kasus tambahan yang dikonfirmasi pada tahun 2020 meningkatkan jumlah total kematian pada tahun 2020 dari 83 menjadi 103.

Demografi

Para praktisi berasal dari 22 provinsi dan kota. Empat provinsi dengan jumlah kematian terbanyak yang dilaporkan adalah Liaoning (11), Jilin (9), Heilongjiang (8), dan Henan (4). Provinsi-provinsi ini termasuk di antara lima wilayah dengan jumlah kematian tertinggi pada tahun 2020.
Tiga dari empat praktisi yang meninggal di Provinsi Henan meninggal dalam tahanan. Sepuluh praktisi lainnya dari Shandong (3), Mongolia Dalam (1), Jiangsu (1), Liaoning (1), Sichuan (1), Yunnan (1), Zhejiang (1) dan Heilongjiang (1), juga meninggal dalam tahanan.
Dari 67 praktisi, 36 di antaranya adalah perempuan. Para praktisi tersebut bekerja di berbagai profesi, termasuk seorang pensiunan perwira militer, seorang guru, seorang insinyur, dan seorang akuntan. Kecuali 14 praktisi yang usianya tidak diketahui, usia 53 praktisi tersebut berkisar antara 46 hingga 85 tahun, dengan usia rata-rata 64 tahun.

Berikut adalah cuplikan dari beberapa kasus.
Kematian dalam Tahanan
Saat Yao Xinren masih koma setelah menderita stroke, pihak berwenang mencabut alat bantu hidupnya dan memindahkannya dari unit perawatan intensif rumah sakit ke panti jompo tanpa peralatan medis yang memadai. Pria berusia 51 tahun itu meninggal seminggu kemudian, meninggalkan istri dan anaknya.

Yao, seorang warga Kota Longkou, Provinsi Shandong, menderita stroke sekitar pukul 21.00 pada tanggal 22 April 2020, hampir sepuluh bulan setelah penangkapannya pada tanggal 3 Juli 2019. Ia menjalani kraniotomi pada pagi hari tanggal 23 April di Rumah Sakit Rakyat Kota Longkou. Dokter juga melakukan trakeotomi dua hari kemudian dan memasangnya pada ventilator.
Ketika istri Yao pergi ke rumah sakit untuk menanyakan keadaannya, polisi menolak memberikan informasi apa pun kepada dokter atau perawat tentang suaminya. Mereka juga menolak menunjukkan rekaman CCTV Yao, terkait apa yang terjadi padanya di pusat penahanan.
Meskipun Yao tetap koma setelah operasi, polisi tetap berada di luar unit perawatan intensif untuk memantau kondisinya selama sembilan bulan berikutnya dan mencegah orang lain mendekatinya.
Pada tanggal 4 Februari 2021, polisi dan staf rumah sakit memindahkan Yao dari unit perawatan intensif dan membawanya ke Pusat Lansia Dongjiang, yang tidak memiliki peralatan yang memadai untuk merawatnya.
Kolonel Pensiunan Meninggal di Penjara, Keluarga Menduga Adanya Tindak Kejahatan
Keluarga Gong Piqi menerima telepon dari seorang sipir penjara pada malam hari tanggal 12 April 2021, dan diberitahu bahwa pensiunan kolonel berusia 66 tahun dari Kota Qingdao, Provinsi Shandong, baru saja dibawa ke rumah sakit untuk resusitasi. Beberapa saat kemudian, sipir tersebut menelepon lagi dan memberi tahu keluarga bahwa Gong telah meninggal dunia karena stroke.

Ketika keluarga Gong pergi ke rumah sakit keesokan paginya, dokter dan pihak berwenang penjara menolak mengizinkan mereka melihat jenazahnya. Setelah keluarga memprotes, kakak laki-laki dan keponakan Gong diizinkan melihat jenazahnya dengan syarat tidak mengambil foto atau video. Kakak laki-laki Gong mencatat bahwa kepalanya terluka dan bengkak serta ada darah di telinganya.
Gong ditangkap dalam penangkapan massal pada Oktober 2017. Ia kemudian dijatuhi hukuman 7,5 tahun penjara dengan denda 20.000 yuan pada 20 Juli 2018. Sejak 2020, dengan alasan pandemi, pihak berwenang Penjara Provinsi Shandong memutuskan kontak antara Gong dan keluarganya. Akibatnya, keluarganya tidak mengetahui bagaimana keadaannya di penjara.
Minghui.org kemudian mengkonfirmasi bahwa mulai paruh kedua tahun 2020, para penjaga memaksa para tahanan untuk bekerja dari pukul 5 pagi hingga 7 atau 9 malam tanpa istirahat sama sekali. Ketika Gong dan praktisi lainnya menolak melakukan kerja paksa tanpa bayaran, mereka ditahan di sebuah ruangan untuk menonton film yang menjelekkan Falun Gong. Pada saat itu, Gong sudah mengalami tekanan darah tinggi dan merasa pusing terus-menerus.
Kematian setelah Pelecehan dan Penyiksaan Jangka Panjang
Seorang Insinyur Meninggal Dunia akibat Kelelahan Fisik dan Mental setelah 12 Tahun Dipenjara
Seorang insinyur di Kota Qiqihar, Provinsi Heilongjiang, meninggal pada 20 Mei 2021, setahun setelah dibebaskan dari hukuman penjara kedua. Kematiannya begitu mendadak sehingga orang tua dan saudara perempuannya tidak dapat menemuinya sebelum ia meninggal.
Li Shunjiang ditangkap pada Maret 2017 dan kemudian dijatuhi hukuman tiga tahun. Setelah dibawa ke Penjara Fengtun pada November 2018, ia dipaksa melakukan kerja paksa tanpa upah. Ketika ia memprotes penyiksaan tersebut, ia diborgol dalam posisi yang terpelintir sehingga menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Akibat penyiksaan tersebut, ia menderita efusi pleura dan dirawat di rumah sakit.
Ketika keluarga Li mengunjunginya pada September 2019, ia kekurangan berat badan dan terlalu lemah untuk berjalan. Seorang penjaga menggendongnya keluar dan memberi tahu keluarga bahwa Li telah menjalani operasi pengangkatan cairan dari paru-paru dan rongga dadanya di rumah sakit penjara.
Penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi itu sangat merusak kesehatannya. Dengan tinggi 5 kaki 10 inci, berat badan Li turun dari 170 pon yang sehat menjadi kurang dari 90 pon. Dia tidak bisa berjalan sendiri, kehilangan nafsu makan, dan menderita sesak napas.
Saat dibebaskan pada Maret 2020, ia sangat kurus dan terus-menerus batuk. Namun terlepas dari kondisinya, ia harus merawat istrinya, Chen Li, dan ibu mertuanya, yang keduanya berada dalam kondisi sangat buruk setelah dianiaya karena keyakinan mereka. Kelelahan secara fisik, mental, dan finansial, Li meninggal pada Mei 2021. Ia berusia awal 50-an.
Saat ditahan karena keyakinannya pada Falun Gong, Master Li Hongwei mengalami penyiksaan brutal yang sangat merusak kesehatannya. Setelah dibebaskan dengan alasan kesehatan, Li berjuang dengan masalah kesehatan selama tiga setengah tahun sebelum meninggal dunia pada tanggal 8 Juni 2021. Beliau berusia 58 tahun.

Li, mantan karyawan Biro Real Estat di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, mulai berlatih Falun Gong pada tahun 1998 dan penyakit diabetes parah serta perlemakan hatinya sembuh melalui latihan tersebut.
Karena tetap teguh dalam imannya setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999, ia dijatuhi hukuman kerja paksa selama satu tahun setelah penangkapan pada tahun 2006 dan empat setengah tahun penjara setelah penangkapan pada tahun 2016.
Selama dalam tahanan, ia terus-menerus dipukuli atau disiksa dengan pentungan listrik. Ketika keluarganya mengunjunginya pada 21 September 2017, dua orang harus menggendongnya keluar. Celana kanannya tergulung, memperlihatkan bisul besar berwarna ungu dan hitam di betis kanannya. Penglihatannya sangat buruk sehingga bahkan dengan wajahnya menempel pada sekat kaca, ia tidak dapat melihat anggota keluarganya yang berada di seberangnya dengan jelas.
Setelah itu, karena diabetes yang parah, ia menjadi sangat pusing, kurus kering, dan lemah. Ia mengalami kelumpuhan di sisi kanan tubuhnya dan selalu merasa haus.
Meskipun Li dibebaskan dengan alasan medis pada 27 Desember 2017, kesehatannya terus memburuk, hingga akhirnya ia meninggal dunia pada 8 Juni 2021.
Artikel Asli: https://en.minghui.org/html/articles/2021/7/3/193937.html










