Townhall: ‘Titik Buta Media terhadap Shen Yun’
Oleh Levi Browde , Direktur Eksekutif, Falun Dafa Information Center | 14-03-2025
Catatan Editor: Artikel opini ini awalnya diterbitkan di Townhall dan dimuat ulang di sini atas izin penulisnya.
Tahun lalu, saya menonton pertunjukan Shen Yun. Saya melihat para penari dengan pakaian sutra yang indah meluncur anggun di atas panggung; setiap gerakan mereka seolah membisikkan warisan kuno yang masih terjaga hingga kini.
Gedung teater saat itu penuh sesak—tiketnya kembali terjual habis, sama seperti ribuan pertunjukan lainnya di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Setelah acara selesai, para penonton tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Ada yang bilang “sangat menginspirasi,” “memberi harapan,” hingga “sangat menyentuh.” Komentar ini sama dengan apa yang saya dengar dari penonton di Italia, Taiwan, dan di mana pun Shen Yun tampil. Hal ini menunjukkan betapa pesatnya perkembangan dan kesuksesan Shen Yun.
Anda mungkin berpikir dampak positif sebesar itu akan membuahkan rasa hormat, atau setidaknya rasa penasaran. Namun yang terjadi justru sebaliknya; Shen Yun malah dihujani berita-berita sinis dan upaya untuk menjatuhkannya.
Sejak Agustus 2024, The New York Times saja sudah menerbitkan lebih dari 10 artikel yang menyerang Shen Yun. Mereka menyindir tentang jam latihan yang terlalu lama, aturan yang terlalu keras, hingga menyebar desas-desus tentang “aliran sesat” dan “propaganda.”
Masa sih? Yang benar saja?
Tentu saja, Shen Yun juga menerima sangat banyak pujian. Namun, artikel-artikel serangan ini mencoba menenggelamkan semua pujian itu. Mereka mengalihkan perhatian publik—atau bahkan berusaha menutupi—cerita yang sebenarnya.
Di saat artikel-artikel tersebut secara berlebihan mengkritik Shen Yun, saudara-saudari kita para praktisi Falun Gong di Tiongkok sedang menghitung napas terakhir mereka—ditahan, disiksa, dan meninggal dunia setiap harinya.
Bagi kami, ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah penyambung nyawa.
Ini juga merupakan kisah sukses besar di Amerika yang tidak mampu dilihat oleh media karena mereka buta atau berat sebelah.
Sikap media tersebut sangat merugikan setiap pembaca—juga merugikan puluhan juta orang di Tiongkok yang menderita di bawah penindasan yang tak terbayangkan, yang bagi mereka, Shen Yun adalah seberkas cahaya harapan.
Sisi Tiongkok yang Tidak Diceritakan
Izinkan saya menggambarkan kenyataan yang mereka abaikan.
Saat ini, di dalam jaringan penjara yang luas, penjara gelap, dan pusat pencucian otak di seluruh Tiongkok, para praktisi Falun Gong—orang-orang yang bermeditasi dan berusaha untuk jujur serta baik hati—sedang dikurung di sel, dipukuli, dibiarkan kelaparan, dan disiksa.
Hal ini sedang terjadi detik ini juga, saat Anda membaca kalimat ini.
Sejak tahun 1999, ketika Partai Komunis Tiongkok (PKT) melarang latihan kami, jumlah korbannya sangat mengejutkan: jutaan orang ditahan, puluhan ribu disiksa atau dilecehkan, dan ribuan orang disiksa hingga tewas. Dan itu barulah angka yang berhasil bocor keluar dari ketatnya sensor informasi PKT.
Yang lebih buruk lagi, China Tribunal—sebuah penyelidikan independen tahun 2019 yang dipimpin oleh Sir Geoffrey Nice—memutuskan bahwa perampasan organ telah “dilakukan selama bertahun-tahun di seluruh Tiongkok dalam skala besar.”
Lembaga tersebut memperkirakan ada 60.000 hingga 100.000 transplantasi organ yang dilakukan setiap tahun sejak akhir tahun 2000-an—jauh melampaui klaim konyol rezim tersebut yang hanya menyebut angka 10.000. Mereka menyimpulkan bahwa tahanan hati nurani Falun Gong adalah sumber utama organ-organ tersebut. Mereka juga yakin, puluhan ribu orang telah dibunuh setiap tahunnya demi organ mereka.
Ini adalah fakta berdasarkan kesaksian para penyintas, pengakuan jujur dari orang dalam rumah sakit, dan data nyata—bukan sekadar dugaan.
Seorang teman pernah bercerita bahwa dia seolah mendengar jeritan mereka setiap malam. Saya pun merasakannya. Namun di sinilah kita sekarang, malah membaca artikel New York Times yang sibuk meributkan apakah para penari Shen Yun di Amerika—yang hidupnya jauh lebih baik—mengalami apa yang mereka sebut “penghinaan terhadap bentuk tubuh” (body shaming).
Shen Yun yang Sebenarnya
Shen Yun bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah sebuah perjuangan mendesak yang diwujudkan melalui gerakan.
Setiap lompatan di panggung, setiap nada musik dari orkestra, dan setiap tiket yang terjual membawa pesan yang telah kami suarakan selama puluhan tahun: bahwa kediktatoran di Tiongkok itu jahat, tidak terkendali, dan merupakan ancaman bagi kita semua.
Darah keluarga dan teman-teman kami sedang tertumpah di Tiongkok, sementara kami berjuang keras untuk menyadarkan orang-orang di belahan dunia lain yang hidupnya lebih tenang.
Para penari itu? Mereka tidak bekerja lembur hanya demi mengejar gaji.
Para penari itu? Mereka tidak bekerja lembur hanya demi mengejar gaji.
Mereka mencurahkan seluruh jiwa mereka untuk sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia keindahan budaya yang ingin dimusnahkan oleh rezim PKT, semangat kebebasan yang ingin mereka hancurkan, serta sebuah penindasan yang selama ini diabaikan oleh berita-berita utama.
Dan satu hal lagi yang luput dari perhatian para kritikus: Shen Yun adalah sebuah kesuksesan yang lahir di tanah Amerika, contoh nyata dari “Impian Amerika” (American Dream).
Didirikan oleh para imigran Tiongkok—orang-orang berpendidikan dan berbudaya yang datang ke Amerika secara legal—Shen Yun dibangun benar-benar dari nol. Tidak ada bantuan dana dari pemerintah maupun sponsor perusahaan untuk memulainya. Semuanya murni berkat visi dan kegigihan.
Apa yang dulunya hanya bermula dari secercah harapan, kini telah tumbuh menjadi fenomena global. Sekarang, ada delapan grup pertunjukan yang berkeliling dunia, bahkan di saat grup seni lain justru sedang lesu dan kesulitan biaya. Penonton di mana-mana selalu antusias menyaksikan Shen Yun. Ini adalah bukti nyata tentang apa yang bisa dicapai jika ada kebebasan dan keyakinan.
Apa yang Tidak Dipahami oleh New York Times
The New York Times bisa saja menghitung jam kerja sesuka hati mereka—termasuk mencatat bahwa lebih dari 20 pertunjukan di New York musim lalu ludes terjual—tapi mereka buta terhadap alasan di balik semua itu. Bagi kami, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah soal bertahan hidup dan harapan.
Saya mengerti, bagi orang luar, kerja keras Shen Yun sebagai grup tari elit terlihat sangat berat—dengan ratusan pemain, tur internasional, dan jadwal yang sangat padat. Kelompok ini memang sering disalahpahami.
Tentu saja, media lebih suka mencari sudut pandang yang sensasional: “Tidakkah mereka terlalu lelah? Tidakkah aturannya terlalu ketat? Tidakkah para seniman muda itu dimanipulasi?”
Tapi coba kita lihat gambaran besarnya.
Di bawah kekuasaan PKT, “bekerja terlalu keras” berarti kerja paksa sampai tubuh hancur. “Disiplin” berarti kulit anda disengat tongkat listrik jika tidak mau melepaskan keyakinan. “Dimanipulasi” berarti anda dikeluarkan dari sekolah dan dipaksa hidup miskin hanya karena identitas dan keyakinan anda.
Latihan keras di Shen Yun bukanlah eksploitasi—itu adalah bentuk perlawanan.
Ini adalah cara komunitas kami berkata, “Kami tidak akan hancur.” Ini adalah cara para seniman berkata, “Kami ingin menjadi yang terbaik demi tujuan yang lebih mulia.” Rezim Tiongkok sudah mencoba membungkam kami selama 25 tahun, dan setiap lompatan serta senyuman di atas panggung adalah bukti bahwa mereka [PKT] telah gagal.
Mengapa itu yang tidak dijadikan berita utama? Mengapa media lebih sibuk meributkan jadwal latihan daripada membahas ruang penyiksaan [praktisi di Tiongkok]?
The New York Times telah mengeluarkan banyak “investigasi” yang menyindir sikap kami yang anti-otoriter, bahkan menyebutnya “politis.” Politis? Coba katakan itu pada penari muda yang ayahnya diculik ke penjara Tiongkok hanya karena bermeditasi di rumah, dan meninggal beberapa bulan kemudian karena disiksa. Katakan padanya bahwa menarikan kisah hidup ayahnya adalah tindakan “politis.”
Laporan mereka juga mempermasalahkan soal pendanaan—seolah-olah semangat, hasil penjualan tiket, dan kerja keras para imigran tidak cukup untuk menjelaskan sebuah fenomena yang telah menyentuh jutaan orang.
The New York Times sepertinya tidak mau melihat kenyataan yang sebenarnya.
Selama 25 tahun, rezim komunis Tiongkok memfitnah Falun Gong dengan label “aliran sesat” demi membenarkan pembantaian terhadap kami. Xinhua (media propaganda PKT) menyebarkan kebohongan itu, dan The New York Times seolah-olah ikut menyuarakan narasi yang sama dengan bahasa yang lebih halus.
Tidakkah mereka sadar bahwa jurnalisme memiliki konsekuensi nyata?
The New York Times menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengintai “dapur” Shen Yun daripada mengusut penyiksaan dan perampasan organ manusia yang sudah berlangsung selama seperempat abad—sebuah genosida yang hampir tidak pernah mereka bahas secara mendalam.
Sebaliknya, liputan berani dari Wall Street Journal tentang isu ini berhasil memenangkan Penghargaan Pulitzer. Memang, reporter mereka jadi dilarang masuk ke Tiongkok, tapi menyuarakan kebenaran memang butuh keberanian. Menyerang seniman imigran di negeri sendiri jauh lebih mudah daripada menantang penguasa zalim.
Taruhan yang Sebenarnya
Lembaga independen China Tribunal di London memaparkan fakta yang sangat menyakitkan: “Sangat banyak orang telah tewas melalui [proses] kematian yang sangat mengerikan tanpa alasan apa pun.”
Mereka yang selamat dari Tiongkok menceritakan pengalaman mereka saat ditahan; mereka dipaksa menjalani tes darah, rontgen, dan berbagai pemeriksaan medis yang tidak lazim. Itu semua bukan untuk mengecek kesehatan, melainkan persiapan untuk “meja jagal”.
Seorang dokter bernama Enver Tohti memberikan kesaksian bahwa ia pernah membedah seorang pria yang masih hidup untuk mengambil kedua ginjal dan hatinya. Ia ingat betul bagaimana darah masih berdenyut karena jantung orang itu masih berdetak saat pembedahan dilakukan.
Itulah kenyataan pahitnya: Organ tubuh manusia dirampas secara paksa demi bisnis transplantasi bernilai miliaran dolar, sementara rezim Tiongkok selalu membantah semuanya.
Shen Yun tidak hanya menghibur—ia menggugah kesadaran kita. Ia menyinari fakta-fakta kelam ini, di saat hanya sedikit pihak yang berani melakukannya. Salah satu buktinya: Seorang mantan koresponden New York Times, Didi Kirsten Tatlow, bersaksi di pengadilan bahwa upayanya untuk melaporkan kasus perampasan organ paksa ini justru ditekan dan dilarang oleh editornya di New York Times.
Di dalam gedung teater, saya sudah melihatnya berkali-kali—para penonton menangis dan bertanya-tanya mengapa mereka selama ini tidak tahu tentang perampasan organ paksa dan kamp-kamp penjara tersebut. Seorang wanita berkata kepada saya bahwa ia baru merasakan harapan lagi setelah sekian tahun, setelah melihat sesuatu yang begitu murni sanggup bertahan di tengah kegelapan.
Inilah yang tidak dipahami oleh New York Times: Shen Yun bukan tentang kami. Ini tentang mereka—saudara-saudari kami yang ditahan, disiksa, dan dibunuh. Ini juga tentang anda semua, disadari atau tidak. Jangkauan rezim PKT tidak hanya berhenti di Tiongkok; pengaruh mereka masuk ke ponsel anda, barang-barang yang anda beli, hingga ke beranda berita anda.
Bagi saya, ini bukan sekadar teori. Ini adalah masalah pribadi. Saya telah melihat Shen Yun tumbuh dari nol hingga menjadi sebesar sekarang. Dan saya sadar, setiap hari kita memilih untuk diam, maka akan semakin banyak orang yang kehilangan nyawa. Para kritikus menuduh kami terlalu “politis” dan menganggap seni tidak seharusnya “berceramah”.
Namun, memilih untuk diam juga merupakan sikap politis—itu artinya kita membiarkan pengaruh jahat PKT merayap tanpa hambatan sementara kita sibuk bersantai dan bermain media sosial.
Shen Yun adalah kekuatan untuk kebaikan. Ia menembus segala kebohongan dan menunjukkan budaya indah yang ingin dihapus oleh rezim tersebut—sebuah semangat yang tidak akan pernah bisa mereka matikan.
Itulah alasan mengapa kami terus berjuang. Itulah alasan mengapa kami tidak akan pernah berhenti.
Kita sedang berada dalam peperangan, dengan keindahan dan kebenaran sebagai senjata utama. Setiap pertunjukan yang tiketnya terjual habis adalah sebuah kemenangan bagi kita semua.
Di Pihak Manakah Anda?
Jadi, untuk The New York Times dan semua media yang membuang-buang ruang tulisan hanya untuk mencari-cari kekurangan Shen Yun: Kalian bukan sekadar salah menilai—kalian secara tidak langsung telah membantu kejahatan itu terjadi.
Lihatlah lebih dalam. Kalian sibuk menghitung pohon yang tumbang, padahal seluruh hutan sedang terbakar hebat.
Kami memang tidak sempurna—memangnya siapa yang sempurna?—tapi kami sedang berjuang demi menyelamatkan nyawa, bukan demi mengejar berita utama. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menyebarkan kebaikan di dunia yang sedang kacau ini.
Bayangkan jika sumber daya media yang besar itu digunakan untuk membongkar kekejaman, ketidakadilan, dan sensor ketat rezim Tiongkok, alih-alih ikut menyebarkan—dan memperkuat—fitnah mereka.
Bayangkan jika para penulis itu bisa melihat tetesan darah di balik keindahan seni ini—organ hati yang dirampas paksa di Henan, jeritan yang dibungkam di Beijing—atau perjuangan para imigran ini untuk mengangkat kisah-kisah tersebut ke panggung dunia.
Kami tidak punya waktu untuk mendengarkan gangguan ini. Rakyat kami sedang sekarat. Masa depan dunia kita sedang dipertaruhkan.
Shen Yun terus menari, bukan karena itu mudah dilakukan, tetapi karena misi ini sangat mendesak.
Keluarlah dari zona nyaman anda dan cobalah mendengarkan.
Kebenaran yang sesungguhnya sudah berteriak kencang selama ini.










