Opini: Di Hari Perempuan Internasional, Jangan Lupakan Para Perempuan yang Dipenjara di Tiongkok

Oleh  Crystal Chen | 08-03-2023

Catatan Redaksi: Pusat Informasi Falun Dafa membagikan artikel ini dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Artikel ini ditulis oleh Crystal Chen, seorang praktisi Falun Gong sekaligus penyintas penyiksaan. Chen berhasil melarikan diri dari Tiongkok dan kini menetap di Amerika Serikat. Penulis tidak memiliki afiliasi formal dengan Pusat Informasi ini.

Tiongkok merupakan rumah bagi populasi terbesar tahanan politik dan agama di dunia. Mulai dari etnis Uyghur dan Tibet, hingga para pengunjuk rasa dan praktisi Falun Gong, kantor-kantor polisi, penjara, dan pusat penahanan lainnya di Tiongkok dijejali oleh ratusan ribu—bahkan mungkin lebih—orang yang dirampas kebebasannya hanya karena apa yang mereka katakan, apa yang mereka yakini, atau siapa jati diri mereka.

Satu hal yang luput dari perhatian publik adalah fakta bahwa banyak dari tahanan tersebut merupakan perempuan.

Sebagian dari mereka adalah lansia atau orang tua dari anak remaja. Sebagian lainnya merupakan perempuan muda di usia produktif—rentang 20 hingga 30 tahun—yang kariernya terhenti akibat represi Partai Komunis Tiongkok. Banyak di antaranya meninggalkan anak-anak yang masih kecil di rumah. Selama berada dalam tahanan, mereka mengalami pelecehan, penyiksaan fisik, hingga kekerasan seksual yang dilakukan oleh polisi, penjaga, bahkan sesama narapidana.

Saya tahu persis rasanya, karena saya adalah salah satu dari mereka. Saat itu saya berusia 27 tahun, bekerja sebagai asisten eksekutif perusahaan di Tiongkok selatan, ketika tiba-tiba saya ditetapkan sebagai musuh negara.

Saat itu tahun 1999. Saya dan ibu saya telah berlatih Falun Gong selama beberapa tahun. Latihan meditasi dan spiritual ini—dengan gerakan qigong yang tenang serta ajaran yang mengedepankan prinsip sejati, baik, dan sabar—sangat populer kala itu. Titik-titik meditasi Falun Gong tersebar di berbagai taman di penjuru Guangzhou. Di tempat kerja saya pun, beberapa rekan melakukan latihan yang sama. Bahkan, media pemerintah dan lembaga negara saat itu memberikan dukungan penuh bagi Falun Gong.

Pada 20 Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara mendadak berbalik arah; mereka melarang Falun Gong dan meluncurkan kampanye brutal untuk memberangusnya. Saya pergi ke Beijing untuk melakukan aksi damai demi menuntut hak saya untuk bermeditasi. Namun, saya justru ditahan di sebuah stadion olahraga bersama puluhan ribu orang lainnya. Saya terguncang, namun saat itu, skala kekejaman dari persekusi ini masih jauh di luar imajinasi saya.”

Setelah peristiwa itu, hidup saya jungkir balik. Saya kehilangan pekerjaan, rumah saya digeledah, dan harta benda saya disita. Saya ditangkap dan dijebloskan ke kamp kerja paksa. Di sana, para penjaga mengancam akan menyiksa saya jika saya tidak meninggalkan keyakinan saya terhadap Falun Gong.

Sejak hari pertama, saya telah membulatkan tekad: saya tidak akan pernah melepaskan keyakinan saya.

Saat ditahan di sebuah pusat penahanan di Provinsi Hebei, petugas memborgol tangan saya ke pipa radiator dengan posisi ujung jari kaki nyaris tidak menyentuh lantai. Saya dibiarkan dalam kondisi tersebut selama tiga hari. Dalam posisi tergantung itu, seorang kepala polisi melakukan pelecehan dengan meraba-raba tubuh saya. Di pusat penahanan lain, seorang penjaga mengancam akan memindahkan saya ke lokasi berbeda untuk diperkosa.

Beruntung, saya luput dari kengerian tersebut. Namun, perempuan lain tidak seberuntung saya; mereka menjadi korban kekerasan seksual di tangan aparat kepolisian. Saya menyaksikan sendiri banyak perempuan disiksa secara keji hanya karena mereka berlatih Falun Gong. Ibu saya sendiri disengat dengan tongkat listrik di bagian ketiak dan paha bagian dalam hingga pingsan. Penjaga menyiramkan air ke tubuhnya agar efek sengatan listrik semakin fatal. Ia bahkan mencium aroma kulitnya yang terbakar, menyisakan bekas luka permanen hingga kini.

Penyiksaan terburuk yang saya alami terjadi di sebuah pusat penahanan di Guangzhou. Saat saya menolak untuk berhenti berlatih Falun Gong, direktur lembaga tersebut membawa empat penjaga laki-laki ke dalam sel saya. Mereka menindih saya ke lantai beton dan mulai melakukan cekok paksa (force-feeding) dengan campuran garam murni—sebuah tindakan yang bisa merenggut nyawa saya.

Belakangan, saya dijatuhi hukuman dua tahun penjara di kamp kerja paksa—bahkan tanpa melalui proses persidangan sedikit pun.

Pada 2004, saya memutuskan untuk melarikan diri ke Thailand melalui Burma. Itu adalah perjalanan yang sangat mencekam. Namun, di setiap langkah, orang-orang asing yang bersimpati membantu saya bertahan hidup. Seorang pemuda menyembunyikan saya di kapalnya untuk menghindari tentara Burma, lalu memandu saya menembus hutan belantara.

Tanpa bantuannya dan bantuan orang-orang lainnya, saya tidak akan pernah bisa mencapai Thailand, dan akhirnya menapakkan kaki di Amerika.

Saya merasa sangat bersyukur atas kebaikan luar biasa yang ditunjukkan oleh orang-orang asing tersebut, juga oleh semua pihak yang telah membantu saya menetap di Amerika. Hal ini menyadarkan saya bahwa meskipun saya harus mengalami berbagai pelanggaran hak asasi di Tiongkok, masih ada harapan dalam nilai-nilai kemanusiaan yang kita miliki bersama.

Pada Hari Perempuan Internasional ini, kita tidak boleh melupakan para perempuan di pelosok Tiongkok yang masih mendekam di penjara dan pusat penahanan hanya karena mereka berusaha memperjuangkan hak-hak dasar secara damai. Nyawa mereka terancam. Sejak 2019, sejumlah ibu dari warga Amerika keturunan Tiongkok—yang dipenjara karena latihan Falun Gong seperti saya dulu—telah meninggal dunia dalam tahanan.

PKT mencoba merampas segalanya dari saya—nyawa saya hingga keyakinan saya yang paling mendalam—namun mereka gagal. Kini, Partai tersebut tengah mencoba melakukan hal yang sama terhadap perempuan-perempuan lain yang tak terhitung jumlahnya. Kita harus menghentikan mereka.

Sejak tiba di Amerika Serikat, Crystal Chen telah mendedikasikan dirinya bekerja di berbagai media massa dan organisasi hak asasi manusia. Saat ini, ia menetap di Houston, Texas, bersama suaminya. Kisah hidupnya merupakan salah satu dari sekian banyak kesaksian yang diangkat dalam film dokumenter pemenang penghargaan, Avenues of Escape.

Simak kisah lengkap perjalanan dan keteguhan hati Crystal di bawah ini.

Share