Wanita Heilongjiang Tewas dalam Tahanan Beberapa Minggu Setelah Ditangkap karena Berlatih Falun Gong
Pusat Tahanan Jixi (Minghui.org)
Wang Shuzhi (Wanita) adalah warga Kota Jixi, Provinsi Heilongjiang, yang berusia 59 tahun. Ia tewas di Pusat Tahanan Kota Jixi pada 19 Juli 2025, kurang dari dua bulan setelah ditangkap karena berlatih Falun Gong, sebuah disiplin spiritual yang telah mengalami penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) sejak 1999. Menurut Weiquanwang—situs web yang menghimpun laporan penganiayaan dari aktivis akar rumput dan penganut agama di Tiongkok—ia tewas setelah mengalami penganiayaan selama berminggu-minggu, termasuk pemberian makan secara paksa saat melakukan mogok makan, dan dikembalikan ke tahanan dari rumah sakit hanya dua hari sebelum kematiannya.
Penangkapan Sewenang-wenang dan Penganiayaan
Wang ditangkap pada 22 Mei, di tengah penindasan yang semakin intensif terhadap praktisi Falun Gong di Distrik Hengshan, Kota Jixi. Kampanye tersebut, yang dipelopori oleh Komite Urusan Politik dan Hukum kota serta Kantor 610, telah menetapkan distrik tersebut sebagai zona percontohan untuk peningkatan pengawasan dan penindasan. Polisi menawarkan hadiah kepada warga setempat yang melaporkan praktisi, dan lebih dari 10 orang mengalami intimidasi atau rumah mereka digeledah.
Meskipun kesehatannya buruk, Wang dibawa ke Pusat Tahanan Kota Jixi, yang awalnya menolak untuk menerimanya. Polisi dari Departemen Kepolisian Distrik Hengshan kemudian menahannya di sebuah lokasi yang dirahasiakan dan seminggu kemudian polisi berhasil memaksa pusat tahanan tersebut untuk menerima Wang.
Sebagai bentuk protes atas penahanan ilegal tersebut, Wang memulai aksi mogok makan dan dicekok paksa—sebuah tindakan hukuman yang sering dilaporkan oleh para tahanan Falun Gong. Kondisinya memburuk dengan cepat. Pada 13 Juli, ia dibawa ke Rumah Sakit Rakyat Kota Jixi untuk perawatan darurat, namun dikembalikan ke tahanan hanya empat hari kemudian, pada 17 Juli. Pada pukul 3 pagi tanggal 19 Juli, ia tewas di pusat tahanan tersebut.
Penganiayaan Sebelumnya
Sejak dimulainya penganiayaan oleh PKT terhadap Falun Gong pada 1999, Wang telah berulang kali menjadi target karena keyakinannya, menurut laporan Minghui.org.
Pada Mei 2008, ia ditangkap karena menggunakan uang kertas yang berisi pesan tentang Falun Gong. Rumahnya digeledah, dan ia dikirim ke kamp kerja paksa di Harbin untuk jangka waktu yang tidak diketahui.
Pada 9 November 2018, Wang ditahan saat mengunjungi saudara perempuannya dan baru dibebaskan setelah melakukan aksi mogok makan sebelas hari kemudian.
Pada 3 Agustus 2019, ia ditangkap kembali saat menyebarkan materi tentang Falun Gong dan ditahan di sel tahanan setempat. Ia kembali melakukan aksi mogok makan dan dibebaskan pada 8 Agustus.
Dalam upaya untuk menghindari intimidasi yang terus-menerus, Wang pindah ke Distrik Hengshan. Namun, penindasan yang semakin intensif pada tahun 2025 menyebabkan penangkapan terakhirnya dan akhirnya ia tewas dalam tahanan.
Keluarga Wang Menjadi Target
Wang adalah bungsu dari tiga bersaudara. Mereka semua berlatih Falun Gong dan mengalami penganiayaan yang terus-menerus.
Kakak tertua Wang Shuzhi, Wang Shugui, ditangkap pada tahun 2018, rumahnya digeledah, dan kemudian dijatuhi hukuman 19 bulan penjara serta denda 10.000 yuan pada tahun 2020. Saudara perempuan yang tengah, Wang Shuxiang, ditangkap berkali-kali antara tahun 2019 dan 2025, serta hidup dalam persembunyian selama bertahun-tahun untuk menghindari penganiayaan lebih lanjut. Pada Februari 2025, ia ditahan kembali dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara hanya dua minggu sebelum Wang Shuzhi tewas.
Ibu mereka yang sudah lanjut usia, Teng Guilan, berulang kali mengajukan petisi kepada pihak berwenang untuk pembebasan putri-putrinya, namun tidak membuahkan hasil.
Tewasnya Wang mempertegas risiko berkelanjutan yang dihadapi oleh jutaan praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok setelah 26 tahun penganiayaan, terutama saat otoritas lokal meningkatkan upaya untuk memenuhi target penindasan PKT.
Menurut statistik yang dilaporkan oleh Minghui.org, setidaknya 15 praktisi Falun Gong dikonfirmasi telah tewas akibat penganiayaan atau perlakuan yang salah pada bulan Juli 2025 saja.








