Wanita Lansia di Shaanxi Tewas dalam Tahanan saat Menjalani Hukuman Delapan Tahun karena Berlatih Falun Gong

Penjara Wanita Provinsi Shaanxi (Minghui)

Penjara Wanita Provinsi Shaanxi (Minghui)

Cao Ping (曹萍), praktisi wanita berusia 74 tahun asal Kota Ankang, Provinsi Shaanxi, tewas di Penjara Wanita Provinsi Shaanxi pada April 2026, dua tahun setelah mendekam untuk menjalani hukuman delapan tahun akibat keyakinannya. Keluarga tidak diberi tahu penyebab kematiannya. Mereka hanya diizinkan melihat jenazah sebentar, mendapati luka memar besar di bagian kaki, lalu dipaksa menyetujui kremasi dengan segera. Kasus ini dilaporkan masing-masing oleh Minghui.org dan Weiquanwang pada 6 September.

Saat dijatuhi hukuman, Cao telah kehilangan penglihatan pada satu mata dan mengalami gangguan penglihatan parah pada mata sebelahnya. Seluruh pengajuan pembebasan medis—dua diajukan pengacaranya saat sidang dan banding, serta permintaan berulang keluarga setelah ia masuk penjara—ditolak.

“Terlalu kejam”

Dalam panggilan telepon terakhirnya dengan orang di luar penjara, Cao tiba-tiba berkata, “Terlalu kejam.” Menurut laporan, penjaga yang mengawasi panggilan tersebut langsung memutus sambungan sebelum ia sempat merampungkan kalimatnya dan mengalihkan pembicaraan. Cao tidak sempat menjelaskan maksud ucapannya, dan keluarganya pun tidak pernah mendapat keterangan lain mengenai perlakuan yang ia terima di dalam penjara.

Menjelang detik-detik akhir hidupnya, pihak penjara membawa Cao ke Rumah Sakit Umum Dirgantara Xi’an dengan dalih untuk berobat. Keluarga baru mengetahui hal tersebut setelah kejadian, dan itu pun bocor dari orang dalam.

Saat pihak keluarga melihat jenazahnya, tampak luka memar besar di bagian kaki. Mereka pun mempertanyakan penyebab kematiannya. Pihak penjara justru menyuruh mereka menulis keberatan secara tertulis—sambil mengancam jika itu dilakukan, jenazah tidak akan dikremasi—sekaligus menolak menyerahkan jenazah kepada keluarga. Di bawah tekanan tersebut, keluarga akhirnya menyerah. Jenazah Cao dikremasi pada April 2026, dan penyebab kematiannya hingga kini tetap misterius.

Ditangkap di pinggir jalan sebelum divonis

Sekitar pukul 09.00 pagi pada 24 September 2022, Cao sedang bepergian dengan mobil bersama dua praktisi lainnya, Du Fengying dan Chen Jun. Ketika mereka berhenti di jalan pegunungan di Kota Zaoyang, Distrik Hanbin, untuk beristirahat dan menanyakan arah, petugas keamanan domestik dari Biro Keamanan Publik Kabupaten Langao yang telah membuntuti mereka langsung menciduk ketiganya. Petugas menggeledah mobil tersebut dan menemukan sejumlah brosur Falun Gong.

Ketiganya digiring ke Biro Keamanan Publik Kabupaten Langao dan diinterogasi seharian penuh. Mereka didesak untuk membeberkan berapa banyak orang yang telah mereka ajak bicara tentang Falun Gong serta dari mana asal materi tersebut. Mereka menghabiskan malam itu dengan tidur di bangku kayu ruang interogasi. Keesokan harinya, mereka dipindahkan ke pusat penahanan. Cao ditahan di Pusat Penahanan Distrik Hanbin. Sementara itu, Du ditolak masuk setelah tekanan darahnya tercatat mencapai 220 mmHg, dan ia pun dikenakan tahanan rumah sebagai gantinya.

Ketiganya diadili di Pengadilan Kota Xunyang pada 23 April 2023. Menurut laporan, hakim menghalangi penasihat hukum untuk menyampaikan pembelaan dan membungkam Cao saat ia hendak memaparkan permasalahan hukum tersebut, sehingga ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Pada 25 Oktober 2023, pengadilan memvonis Cao delapan tahun penjara serta denda sebesar 50.000 yuan, sekaligus merampas barang pribadi yang disita dari rumahnya—termasuk uang senilai 40.000 yuan yang ia simpan untuk dana pensiun. Sementara itu, Chen divonis lima tahun penjara dan denda 30.000 yuan. Upaya banding Cao ditolak, dan ia dijebloskan ke Penjara Wanita Provinsi Shaanxi pada 19 April 2024, lalu ditahan di Brigade Kedelapan.

Du tidak pernah mendekam di penjara. Pada 6 September 2023—saat menjalani penangguhan penahanan dan terus-menerus didatangi serta diancam oleh para pejabat kota, distrik, dan kabupaten, kepolisian setempat, serta staf komite lingkungan—ia mengalami stroke fatal dan meninggal. Dari ketiga praktisi yang diciduk pada pagi bulan September 2022 tersebut, kini dua orang telah tewas.

Dua dekade penangkapan dan penahanan

Cao lahir pada 23 Januari 1952 dan bekerja di sebuah pusat perbelanjaan di Distrik Hanbin, Kota Ankang, sebelum pensiun. Ia mulai berlatih Falun Gong pada Mei 1997 setelah bertahun-tahun menderita sakit sakitan, dan melaporkan bahwa penyakitnya sembuh. Setelah penganiayaan dimulai pada Juli 1999, ia berulang kali menjadi sasaran target karena menolak berhenti berlatih.

Polisi mendobrak rumahnya lewat tengah malam pada 23 Januari 2000 dan menahannya selama 15 hari, yang langsung diperpanjang 15 hari lagi. Ia kembali diciduk di tempat kerjanya pada 24 Februari 2000 dan diinterogasi selama sepuluh hari ihwal asal-usul materi Falun Gong sebelum akhirnya dibebaskan. Pada 17 Juli 2000, seorang petugas memanggilnya ke kantor polisi dengan dalih palsu lalu menjebloskannya ke pusat penahanan selama 15 hari. Pada malam 9 Oktober 2000, belasan aparat menyatroni rumahnya, menggeledahnya, dan kembali menahannya selama 15 hari.

Ia kembali ditahan selama 15 hari pada 19 Januari 2001, dikurung sebulan penuh usai diciduk di rumahnya pada 29 April, lalu kembali mendekam di tahanan selama 15 hari pada 13 Mei. Pada 6 Oktober 2001, ia ditangkap dan sepuluh hari kemudian dijatuhi vonis tiga tahun kerja paksa. Ia baru dibebaskan lebih awal pada 26 Juli 2003 semata-mata karena ibunya sakit parah.

Pada Oktober 2004, sekitar sepuluh pejabat—meliputi staf Kantor 610 Distrik Hanbin serta tim ‘bantuan dan edukasi’ utusan khusus dari Xi’an—menyeret Cao ke pusat indoktrinasi otak. Akibatnya, ibunya yang lumpuh dan hanya bisa terbaring di ranjang ditinggal seorang diri tanpa ada yang merawat, sampai-sampai seorang kerabat harus datang membawa makanan sekali sehari.

Pada 10 November 2006, Cao kembali dijatuhi vonis tiga tahun kerja paksa untuk kedua kalinya. Menurut laporan, ia mengalami penyiksaan berat di Kamp Kerja Paksa Wanita Xi’an hingga sempat pingsan tak sadarkan diri.

Pertanyaan yang belum dijawab pihak penjara

Catatan tersebut menyisakan rentetan pertanyaan yang belum terjawab. Cao masuk ke dalam penjara dengan penglihatan yang terganggu serta catatan medis yang jelas membutuhkan perawatan, namun setiap permohonan pembebasan atas alasan medis ditolak mentah-mentah.

Dalam komunikasi terakhirnya dengan dunia luar, ia sempat berkata, ‘Ini terlalu kejam,’ sebelum sambungannya diputus secara paksa. Kakinya penuh dengan luka lebam berukuran besar. Pihak penjara bungkam soal penyebab kematiannya, menolak menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga, dan terus mendesak agar jasadnya langsung dikremasi.

Keluarga Cao sama sekali tidak menerima surat keterangan kematian, rekam medis, maupun keterangan apa pun mengenai hari-hari terakhir hidupnya—selain kabar pemindahan dirinya ke rumah sakit yang mereka ketahui dari pihak lain. Satu-satunya bukti yang mestinya bisa mengungkap kejadian sebenarnya adalah telepon terakhirnya yang justru terputus di tengah kalimat akibat sambungan telepon yang diawasi ketat oleh petugas, sementara jenazahnya telah dikremasi sebelum sempat diperiksa oleh pihak independen di luar penjara.

Share