Baru Dilaporkan pada 2022: 3.488 Penangkapan, 3.843 Kasus Pelecehan, 633 Vonis Hukuman, 172 Kematian

Pada tahun 2022, Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus menjalankan perintah Jiang Zemin terhadap Falun Gong untuk “mencemarkan reputasi mereka, membangkrutkan mereka secara finansial, dan menghancurkan mereka secara fisik.” Menurut Minghui.org, dilaporkan sebanyak 172 praktisi Falun Gong kehilangan nyawa akibat penganiayaan, 633 orang dijatuhi hukuman, 3.488 orang ditangkap, dan 3.843 orang mengalami pelecehan oleh polisi Tiongkok serta agen Kantor 610.

Sejak penganiayaan dimulai pada 20 Juli 1999, jutaan praktisi telah mengalami pelecehan, penangkapan, penahanan, pemenjaraan, dan penyiksaan. Karena sensor informasi yang ketat di Tiongkok, laporan penganiayaan sering kali terlambat, dan hanya mewakili sebagian kecil dari situasi yang sebenarnya. Angka-angka yang disajikan di sini mewakili kasus-kasus yang dilaporkan pada tahun 2022 dan mencakup kasus-kasus yang tidak dilaporkan pada tahun-tahun sebelumnya.

172 Kematian Dilaporkan

Kematian 172 praktisi Falun Gong akibat penganiayaan terhadap keyakinan mereka dilaporkan pada tahun 2022, termasuk 101 kasus (59%) pada tahun 2022, 41 kasus (24%) pada tahun 2021, dan 30 kematian (17%) yang terjadi antara tahun 2007 hingga 2020. Hingga 1 Januari 2023, kasus-kasus baru ini membuat total kematian praktisi Falun Gong yang terdokumentasi akibat penganiayaan menjadi 4.904 sejak Juli 1999, sebagaimana dilaporkan oleh Minghui.org. [1]

172 praktisi yang meninggal tersebut berasal dari 23 provinsi dan kotamadya. Liaoning melaporkan kematian terbanyak dengan 32 kasus, diikuti oleh 22 kasus di Heilongjiang dan 16 kasus di Sichuan. Hebei, Hunan, dan Hubei masing-masing mencatat 14, 10, dan 10 kematian. Di 17 wilayah sisanya, terdapat antara 1 hingga 8 kematian. Banyak dari praktisi yang meninggal adalah para profesional, termasuk pegawai pemerintah, insinyur, profesor, jurnalis, guru, akuntan, dan manajer keuangan.

Para praktisi tersebut terdiri dari 98 (57%) wanita dan 74 (43%) pria, dengan rentang usia antara 39 hingga 89 tahun. Sebanyak 107 (62%) praktisi berusia di atas 60 tahun, termasuk 51 orang di usia 70-an dan 19 orang di usia 80-an. Seorang wanita berusia 88 tahun di Heilongjiang meninggal beberapa jam setelah ditangkap. Seorang pria berusia 70 tahun meninggal sehari setelah penangkapannya. Dua praktisi, termasuk seorang pria berusia 83 tahun dan seorang wanita berusia 64 tahun, meninggal tak lama setelah dicekoki obat-obatan beracun saat berada dalam tahanan.

Sebanyak 26 praktisi meninggal akibat penyiksaan dalam tahanan, termasuk 17 orang di penjara, delapan orang di pusat penahanan, dan satu orang di kantor polisi. Selain kematian akibat penyiksaan, beberapa praktisi meninggal dunia setelah mengalami kondisi kesehatan yang serius dalam tahanan dan ditolak permohonan pembebasan bersyarat medisnya karena tidak mau melepaskan Falun Gong. Praktisi lainnya meninggal setelah puluhan tahun mengalami penyiksaan berulang kali di tangan polisi Tiongkok dan agen Kantor 610.

Beberapa praktisi yang meninggal adalah pria paruh baya, yang seharusnya menikmati karier sukses dan kehidupan keluarga yang bahagia, seandainya mereka tidak menjadi korban penahanan jangka panjang dan tekanan mental akibat penganiayaan. Di antara mereka termasuk seorang pria yang meninggal satu tahun setelah menjalani hukuman 19 tahun penjara karena menyadap sinyal TV untuk menyiarkan program yang membongkar propaganda kebencian PKT terhadap Falun Gong, serta seorang guru matematika yang tidak pernah sadar kembali setelah dijatuhi hukuman dua tahun penjara saat ia masih dalam keadaan koma.

Penganiayaan ini juga menyebabkan banyak keluarga hancur, setelah beberapa pasangan suami istri meninggal satu demi satu, serta meninggalnya dua orang tua dan putra mereka.

Daftar lengkap dari 172 praktisi yang meninggal dapat diunduh di sini (PDF).

Kasus Sorotan: Ji Yunzhi, 66 tahun, Meninggal setelah Penganiayaan dalam Tahanan

Ji Yunzhi, warga Kota Chifeng, Mongolia Dalam, dan ibu dari Simon Zhang, warga Amerika Serikat, meninggal di Rumah Sakit Bairin pada 21 Maret 2022, tujuh minggu setelah ia ditangkap pada hari perayaan Tahun Baru Imlek (1 Februari). Ia berusia 66 tahun.

Ji Yunzhi bersama putranya, Simon Zhang

Selama berada dalam tahanan, ia dipukuli secara brutal oleh penjaga dan narapidana lainnya sampai ia berada di ambang kematian. “Jika saya mati, itu adalah akibat dari penyiksaan,” kata Ji suatu kali kepada rekan satu selnya.

Ji melakukan aksi mogok makan di Pusat Penahanan Panji Kiri Bairin dan dipaksa makan melalui selang hidung. Dokter pusat penahanan tersebut menampar wajahnya berkali-kali.

Pada pagi hari tanggal 20 Maret 2022, suami Ji menerima telepon dari polisi Bairin yang memintanya datang ke rumah sakit. Setibanya di sana, ia diberitahu bahwa dokter telah mulai melakukan tindakan penyelamatan terhadap Ji, namun kondisinya tidak menunjukkan harapan. Sempat ada rencana untuk memindahkan Ji dari Rumah Sakit Bairin ke Rumah Sakit Kota Chifeng. Namun, seorang ahli dari rumah sakit kota yang datang ke Bairin untuk memeriksa Ji mengatakan bahwa semuanya sudah terlambat dan ia tidak perlu dipindahkan. Suaminya berulang kali meminta agar ia dibebaskan, tetapi petugas yang berwenang menolak dengan alasan perlu persetujuan dari atasan.

Keluarga diberitahu tentang kematian Ji keesokan harinya. Mereka meminta untuk melihatnya terakhir kali di kamar rumah sakit, tetapi polisi menghalangi mereka. Melalui jendela, keluarganya melihat bahwa kerongkongannya telah disayat terbuka. Ada juga bercak darah di wajah dan bahunya. Banyak petugas polisi berdiri di lorong. Mereka mengusir keluarga Ji dari lantai gedung tersebut dan menutup akses lift ke sana agar tidak ada yang bisa memasuki area tersebut.

Setelah keluarga meninggalkan lantai tersebut, polisi menghubungi Krematorium Bairin, yang segera mengirimkan kendaraan untuk mengambil dan menyimpan jenazah Ji. Ketika keluarga Ji tiba di krematorium, penyelidik forensik tidak mengizinkan mereka masuk. Mereka memohon kepada polisi dan akhirnya diizinkan masuk satu per satu untuk melihat jenazahnya sekilas.

633 Kasus Vonis Dilaporkan

Menurut laporan dan statistik dari Minghui.org, pengadilan Tiongkok menjatuhi hukuman kepada 633 praktisi Falun Gong pada tahun 2022. Sebanyak 59% dari vonis tersebut berdurasi lebih dari 3 tahun. Kasus-kasus ini tersebar di 28 provinsi, wilayah otonom, dan kotamadya. [2]

Niu Xiaona, seorang wanita penyandang disabilitas dari Harbin, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara; Chu Jidong dari Kota Tianjin dijatuhi hukuman 13 tahun penjara; dan Wu Chengshou dari Kota Weifang, Provinsi Shandong, dijatuhi hukuman 11 tahun penjara serta denda sebesar 100.000 yuan (~15.000 USD).

Wilayah dengan jumlah penangkapan terbanyak adalah Provinsi Shandong dengan 107 penangkapan, Provinsi Liaoning dengan 83 penangkapan, Provinsi Guangdong dengan 59 penangkapan, Kota Beijing dengan 43 penangkapan, dan Provinsi Jilin dengan 39 penangkapan.

Pengadilan mendenda pengikut Falun Gong lebih dari 3.300.000 yuan (~480.000 USD). Zhao Tianhua dari Kota Huizhou, Provinsi Guangdong, dijatuhi hukuman secara ilegal selama tujuh tahun dan denda sebesar 500.000 yuan (~73.000 USD).

Daftar lengkap praktisi yang dijatuhi hukuman dapat diunduh di sini.

Kasus Sorotan: Ibu dari Warga Kanada dan Mantan Profesor Bahasa Inggris Dijatuhi Hukuman 3,5 Tahun Penjara

Liu Yan, mantan profesor bahasa Inggris di Provinsi Yunnan dan juga ibu dari seorang warga Toronto, dijatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara pada April 2022 karena melakukan latihan Falun Gong.

Liu Yan (Kiri) bersama putri dan suaminya

Liu adalah seorang profesor madya dan mantan direktur Departemen Bahasa Asing di Universitas Seni dan Sains Yunnan. Saat sedang naik taksi pada 29 September 2021, sopir yang bermarga Luo melakukan tindakan tidak senonoh kepadanya. Liu menolaknya dan memberi tahu Luo bahwa ia melakukan latihan Falun Gong serta hidup berdasarkan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Sebagai balasan, Luo melaporkan Liu ke polisi.

Belasan petugas, termasuk Ding Jianfeng dan Guo Hongwei dari Kantor Keamanan Domestik Distrik Wuhua, menangkap Liu keesokan harinya, saat ia sedang bekerja di museum seni perlindungan lingkungan yang dikelola bersama suaminya. Ia ditahan di Pusat Penahanan Kota Kunming dan tidak diizinkan dikunjungi oleh pengacara maupun keluarganya.

Pengadilan Distrik Wuhua menjatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara kepada Liu dan denda sebesar 5.000 yuan (~400 USD) pada April 2022 setelah persidangan pada 25 Februari. Ia didakwa dengan Pasal 300 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tiongkok, yaitu “merongrong penegakan hukum dengan organisasi xie jiao,” sebuah dalih standar yang digunakan untuk mengkriminalisasi praktisi Falun Gong. Saat ini, ia sedang dalam proses mengajukan banding atas vonis tersebut.

Liu Mingyuan menyerukan pembebasan ibunya dalam sebuah konferensi pers di depan Konsulat Tiongkok di Toronto pada 18 Februari 2022.

Putri Liu Yan, Liu Mingyuan, yang sedang menempuh pendidikan animasi komputer di Sheridan College di Toronto, telah mengadakan beberapa konferensi pers sejak Oktober lalu dan menulis surat kepada pejabat pemerintah untuk menyerukan pembebasan segera ibunya.

7.331 Kasus Pelecehan dan Penangkapan Dilaporkan

Menurut statistik yang dilaporkan di Minghui.org, sebanyak 7.331 praktisi Falun Gong ditangkap atau dilecehkan (3.488 ditangkap dan 3.843 dilecehkan) pada tahun 2022. Di antara mereka, 2.193 orang rumahnya digeledah, 240 orang dipaksa masuk ke pusat pencucian otak, 78 orang terpaksa melarikan diri dari rumah, dan 128 orang dipaksa untuk diambil data biometriknya (pengambilan darah, pengambilan sampel rambut, perekaman suara, sidik jari dan sidik kaki, pengambilan air liur, tes urine, dll.). [3]

Pada tahun 2022, PKT memeras atau mencuri lebih dari 3.000.000 yuan (~440.000 USD) dari para praktisi Falun Gong, dan 82 orang ditahan uang pensiunnya.

Kasus penahanan dan pelecehan tersebar di 30 provinsi, wilayah otonom, dan kotamadya di seluruh Tiongkok. Wilayah dengan penangkapan terbanyak adalah Shandong dengan 507 kasus, Heilongjiang dengan 477 kasus, Hebei dengan 357 kasus, Jilin dengan 298 kasus, dan Liaoning dengan 284 kasus.

Wilayah dengan jumlah kasus pelecehan terbanyak meliputi 655 di Hebei, 555 di Shandong, 519 di Sichuan, 380 di Heilongjiang, dan 329 di Jilin. Kasus pencucian otak terbanyak dilaporkan di Hubei dengan 76 kasus, Sichuan dengan 40 kasus, dan Shandong dengan 33 kasus.

Kasus Sorotan: Ibu dan Istri dari Warga Australia Mengalami Kekerasan Seksual melalui “Alat Penyiksaan”

Jiang Yongqin

Mantan dosen di Universitas Sains dan Teknologi Zhejiang, Jiang Yongqin, ditahan di sebuah fasilitas penahanan rahasia dan mengalami kekerasan seksual oleh seorang ahli penyiksaan dari Biro Keamanan Publik Provinsi Jilin.

Selama proses tersebut, seorang “ahli terlatih” dan asistennya dari Kantor Kedisiplinan Khusus (SDO) menggunakan alat penyiksaan untuk melecehkan Jiang secara seksual hingga ia pingsan. SDO adalah sebuah badan rahasia baru di bawah Biro Keamanan Publik Provinsi Jilin, yang dibentuk untuk melakukan penganiayaan dan “mendidik ulang” praktisi Falun Gong. Ahli SDO tersebut mengatakan kepadanya, “Ada batasan tertentu dalam penggunaan alat ini; tetapi, jika terkait dengan Falun Gong, kami menggunakannya kapan pun kami mau.”

Keluarga Jiang di Australia sejak itu telah menyerukan pembebasannya di depan Konsulat Tiongkok di Melbourne pada 15 Agustus 2022. Kedua putri dan suaminya saat ini tinggal di Melbourne.


Baca lebih lanjut mengenai lima tren utama tahun 2022 terkait penganiayaan terhadap Falun Gong

Share