Seorang Ibu Sekaligus Pemilik Perusahaan Arsitektur Meninggal Dunia Setelah Seumur Hidup Alami Pelecehan oleh Polisi demi Keyakinannya pada Falun Gong
Kaligrafi Chen (Sumber: minghui.org)
Chen Yanping, wanita praktisi Falun Gong berusia 60 tahun berdomisili di Kota Guangzhou Provinsi Guangdong, tewas pada 23 Mei 2024, sebagaimana didokumentasikan oleh Minghui. Sepanjang hidupnya, ia kerap menerima pelecehan tanpa henti karena keyakinannya pada Falun Gong, dialami segera setelah penganiayaan terhadap latihan tersebut oleh Partai Komunis Tiongkok dimulai pada tahun 1999.
Sebelum menjadi praktisi Falun Gong, Chen menderita kondisi langka yang disebut kista hati kongenital, sebuah penyakit yang menyebabkan munculnya kantong berisi cairan pada hatinya. Ia meyakini bahwa berlatih Falun Dafa menjaga kondisi medisnya tetap terkendali. Namun, setelah mengalami gangguan berulang kali dari pihak kepolisian karena keyakinannya pada Falun Gong, gejala kista hati tersebut kambuh kembali hingga akhirnya ia tewas.
Penindasan Awal
Chen adalah seorang ibu sekaligus pemilik firma arsitektur yang mengaitkan keberhasilannya dalam menyeimbangkan tekanan dari kedua dunia tersebut dengan berlatih Falun Dafa. Ia menjadi praktisi Falun Gong pada Mei 1997 dan menyebut latihan tersebut sebagai sumber energi serta penjaga kesehatannya. Sebagai arsitek senior berlisensi dan pemilik firma, Chen sering kali harus bekerja lembur.
Arsitek di Tiongkok sering kali digambarkan sebagai profesional sibuk yang kesulitan meluangkan waktu bagi keluarga mereka. Berbeda dengan stereotipe tersebut, Chen mampu hadir mendampingi anaknya, menggambar bersama, serta memberikan waktu dan perhatian, bahkan di tengah persiapan ujian lisensi arsitek.

Saat penganiayaan terhadap Falun Gong dimulai pada musim panas 1999, Chen mulai diawasi secara ketat selama 24 jam dan dilarang bepergian ke luar negeri. Ia bahkan tidak diizinkan mengunjungi Hong Kong, yang lokasinya cukup dekat dengan Kota Guangzhou. Ada beberapa kejadian saat Chen hendak menaiki pesawat untuk penerbangan domestik, ia ditelepon oleh polisi yang menuntut untuk mengetahui tujuan perjalanannya. Untuk menghindari penindasan ini, Chen sering kali memilih untuk berkendara jarak jauh daripada menggunakan pesawat saat perlu bepergian.
Penindasan Semakin Intens
Pada tahun 2023, penindasan oleh kepolisian terhadap Chen semakin intens ketika Kantor Polisi Wushan mengetahui bahwa ia membagikan sebuah artikel yang ditulis oleh Master Li Hongzhi, pendiri Falun Dafa, di WeChat. Di luar kehendaknya, petugas polisi mendatangi kediaman Chen, menginterogasi, memeriksa ponsel serta unggahan WeChat miliknya, dan menyita karya seni Falun Gong serta potret Master Li Hongzhi.
Pada akhir November 2023, petugas kepolisian mengetuk pintu rumah Chen. Karena tidak mendapat respons, petugas mendatangi rumah tetangganya untuk menanyakan keberadaan Chen dan dengan siapa ia tinggal. Pada malam yang sama di bulan November, sesaat setelah pukul 20.00, Chen meninggalkan apartemennya untuk mengambil sesuatu dari mobil dan berpapasan dengan empat petugas dalam perjalanan menuju garasi. Saat berpapasan, petugas polisi tidak mengenali Chen, namun Chen segera menyadari bahwa petugas tersebut datang untuknya. Alih-alih kembali ke apartemen, Chen masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraannya pergi tanpa membawa ponsel maupun uang. Untuk menghindari penangkapan oleh polisi, Chen tinggal jauh dari rumahnya di hunian sementara.
Akibat tekanan dari penindasan polisi yang terus-menerus hingga memaksanya menjalani cara hidup berpindah-pindah, kaki Chen mulai membengkak, menyebabkannya kesulitan berjalan pada Februari 2024. Lambat laun, pembengkakan tersebut menyebar dari kaki ke tungkai bawahnya. Meskipun tidak makan banyak, berat badan Chen bertambah hampir 70 pon dalam kurun waktu tiga bulan. Ukuran pinggangnya meningkat drastis, dan penambahan berat badan yang tiba-tiba tersebut menyumbat aliran darah vena di kaki bagian bawah, sehingga memperparah edema pada kakinya. Di saat yang sama, perutnya tertekan ke atas hingga menghimpit diafragma dan jantungnya, yang mulai berdetak sangat kencang. Lambungnya terasa terhimpit, dan Chen kehilangan seluruh nafsu makannya.
Selama periode kenaikan berat badan drastis dan masalah kesehatan yang menyertainya, Chen merasa tidak nyaman secara fisik dalam posisi apa pun—baik saat duduk, berdiri, maupun berbaring. Saat ia mengalami kekambuhan kista hati bawaan, petugas dari Kantor Polisi Wushan terus melakukan pengawasan terhadapnya. Tak lama setelah ia melakukan panggilan FaceTime pada 4 April 2024, dua petugas polisi mendatangi kediamannya, menuntut agar ia berhenti menggunakan aplikasi tersebut dan menghapusnya secara paksa dari ponsel miliknya.
Setelah peristiwa tersebut, Chen dirawat di rumah sakit dan berulang kali menyampaikan kepada tenaga medis serta keluarganya bahwa kesehatannya tidak akan merosot begitu cepat seandainya ia tidak dipaksa meninggalkan rumahnya pada November 2023. Meski didera berbagai penyakit dan penderitaan fisik yang luar biasa, ia tetap memancarkan kebahagiaan dan ketenangan, bahkan sempat menghadiahi para perawatnya sekeranjang buah dan bunga pada Hari Perawat Internasional tanggal 12 Mei. Hingga akhir hayatnya, Chen tidak pernah luntur dalam kedermawanan dan belas kasih—dua sifat khas yang melekat pada dirinya, yang ia yakini bersumber dari keteguhan keyakinannya pada Falun Gong.
Prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dalam Hubungan Antar sesama
Kediaman Chen digerebek oleh petugas dari Kantor Polisi Wushan pada 30 Juli 2008. Dalam penggeledahan tersebut, petugas mengetahui bahwa anak Chen adalah siswa di SMA Afiliasi South China Normal University, sebuah sekolah unggulan yang sangat dihormati. Setelah mengetahui fakta tersebut, para petugas polisi menyampaikan kekaguman mereka kepada Chen dan menanyakan bagaimana ia mendidik anaknya hingga berhasil masuk ke institusi bergengsi tersebut. Chen menjawab bahwa ia membesarkan anaknya berdasarkan prinsip-prinsip yang diajarkan Falun Gong, yaitu Sejati, Baik, dan Sabar.
Ibu mertua Chen adalah seorang guru sekolah dasar yang sangat dihormati, namun terkadang bisa bersikap asertif dan keras kepala. Meskipun terdapat potensi konflik interpersonal yang dapat muncul dalam hubungan dengan seseorang yang berkemauan keras, Chen mampu mengharmoniskan hubungannya dengan sang ibu mertua dengan menerapkan ajaran Falun Gong.
Pada tahun 2010, setelah pindah ke rumah baru bersama keluarganya, Chen mengundang ibu mertuanya untuk tinggal bersama, bahkan memberikan kamar tidur utama kepada wanita lansia tersebut. Ketika Chen kemudian menyadari bahwa lokasi rumah tersebut kurang strategis bagi mertuanya, ia membelikan sebuah apartemen di area yang lebih nyaman. Sangat tergerak oleh sikap kasih sayang Chen, sang ibu mertua sering kali menyatakan bahwa ia memiliki menantu perempuan terbaik di dunia. Selain itu, apartemen orang tua kandung Chen tidak memiliki lift. Untuk mengatasi ketidaknyamanan tersebut, Chen menghadiahi mereka sebuah apartemen baru yang dilengkapi dengan fasilitas lift.










