Anak-Anak yang Menjadi Korban Penganiayaan Falun Gong
Praktisi Falun Gong menggelar acara nyala lilin di depan Konsulat Tiongkok di Kota New York pada 21 April 2024. (Larry Dye/The Epoch Times)
Penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong telah menyebabkan berbagai dampak mengerikan dan memilukan bagi para praktisi dan keluarga mereka. Namun, bagi anak-anak yang orang tuanya dianiaya, rasa takut, stres, dan kebingungan yang ditimbulkan oleh tragedi semacam itu terasa jauh lebih berat.
Menurut statistik yang dikumpulkan oleh Minghui hingga 28 Juni 2024, setidaknya 5.088 praktisi Falun Dafa tewas akibat penganiayaan. Jumlah ini kemungkinan jauh lebih rendah daripada jumlah kematian sebenarnya karena sensor dan pemblokiran internet oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Banyak dari praktisi ini memiliki anak, yang akibat penganiayaan tersebut ditinggalkan dalam ketakutan. Laporan-laporan berikut mendokumentasikan anak-anak dari segala usia yang hidupnya telah terdampak oleh penganiayaan.
Anak-anak ini berasal dari berbagai provinsi, termasuk Provinsi Jilin, Sichuan, Jiangxi, dan Guangdong. Orang tua mereka adalah guru, petugas polisi, karyawan tekstil, kurir pos, dan pejabat pemerintah. Banyak dari mereka yang akhirnya dibesarkan oleh kerabat atau terpaksa meninggalkan Tiongkok, di mana mereka masih terus diganggu oleh polisi Tiongkok.
Putra Liu Zhiming

(Sumber: Minghui)
Liu Zhiming dijatuhi hukuman tiga tahun enam bulan penjara dengan denda 10.000 yuan (sekitar 1.380 USD) pada 22 April 2024 karena melakukan latihan Falun Gong. Masa hukumannya berakhir pada 15 Mei 2027.
Liu, pria berusia 51 tahun lahir pada November 1973. Dulunya kurir pos dan pengemudi transportasi daring dari Kota Kunming, Provinsi Yunnan, sebelum akhirnya tinggal di rumah sepenuh waktu untuk merawat adiknya yang autis dan putranya yang berusia sembilan tahun (masih duduk di sekolah dasar). Keluarga Liu Zhiming terdiri dari empat orang (termasuk dirinya): adiknya (dirawat penuh oleh Liu), putranya, dan istrinya. Kedua orang tua Liu telah meninggal dunia sebelumnya.
Pada 16 November 2023, sekitar pukul 7 pagi, beberapa petugas dari Kantor Polisi Jinbi mendobrak dan menggeledah rumah Liu serta menyita barang-barang pribadinya, termasuk ponsel miliknya, ponsel putranya, dan ponsel istrinya. Putra dan adik Liu sama-sama menyaksikan penggeledahan rumah dan penangkapannya tersebut.
Pada hari penangkapan Liu, sekitar pukul 7 pagi pada 16 November 2023, di saat yang bersamaan ketika polisi sedang menggeledah rumahnya, Cheng Yun (istri Liu) menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Penelepon, mengaku dari dinas pendidikan setempat menanyakan alasan putra Cheng tidak masuk sekolah. Karena ia sedang berada di rumah klien tempatnya bekerja sebagai pengasuh bayi yang menginap, ia mengarahkan mereka untuk menghubungi suaminya. Tak lama kemudian, tujuh petugas, hanya dua di antaranya berseragam, datang ke rumah kliennya, juga mengaku dari dinas pendidikan. Cheng kemudian dibawa secara licik ke Kantor Polisi Jinbi dengan dalih menandatangani formulir yang berkaitan dengan pendidikan putranya dan kesejahteraan adik iparnya.
Saat Cheng tiba di rumah sekitar pukul 9 malam usai diperiksa, ia mendapati dua staf komite pemukiman dan putranya, tetapi suami dan adik suaminya tidak ada. Putranya mengungkapkan bahwa, berlawanan dengan klaim polisi, ia tidak pergi ke sekolah melainkan menyaksikan penggeledahan, penyitaan barang-barang mereka, penangkapan ayahnya, serta penculikan bibinya. Ia berada bersama dua staf komunitas tersebut selama Cheng diperiksa.
Putra Liu yang berusia sembilan tahun kini harus hidup tanpa ayah selama hampir empat tahun, hingga masa hukuman ayahnya berakhir pada Mei 2027. Selain itu, akibat penganiayaan tersebut, ia mengalami penggeledahan rumah dan tekanan karena diawasi oleh dua orang asing saat kedua orang tuanya dibawa pergi: ayahnya ditangkap dan ibunya diperiksa.
Wang Jing

Wang Jing, putra berusia lima tahun dari Wang Zhihai dan istrinya Duan Shiqiong, dibesarkan oleh kakek neneknya. Kedua orang tuanya, praktisi Falun Dafa dari Chongqing, tidak ada dalam kehidupannya setelah mengalami penganiayaan karena melakukan latihan Falun Gong. Pada Juli 2001, ayah Jing dikirim ke Kamp Kerja Paksa Xinhua di Kota Mianyang, Provinsi Sichuan. Pada 17 September 2003, ibu Jing meninggal di Rumah Tahanan Chengdu, Provinsi Sichuan. Masa kecil Wang Jing dipenuhi kesedihan dan rasa malu, karena ia sering mendapat diskriminasi dari anak-anak lain. Zheng Xianchu, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun dari Kota Changchun berada dalam situasi yang serupa dengan Jing. Ia takut untuk menyebutkan nama kedua orang tuanya.
Zhang Jiarui

Zhang Jiarui berusia sepuluh tahun (pada 2004). Ayahnya, Zhang Bin, ditangkap pada Desember 2004 dan menjadi sasaran penyiksaan di Kamp Kerja Paksa Suihua. Sejak awal ketidakhadiran ayahnya, Jiarui menderita secara emosional dan psikologis, mengalami kesedihan mendalam, kesepian, serta penurunan rasa percaya diri. Ibu Jiarui, Cheng Qinglan, berkata tentang putranya: “Sudah lama ia tidak mendapatkan kasih sayang ayahnya. Karena teman-teman sekelas dan gurunya mendiskriminasikannya, ia menjadi depresi dan rendah diri. Nilai-nilainya merosot, kesehatan fisik dan mentalnya terganggu.”
Wan Ruyi

Wan Liji, seorang petugas polisi dari Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, kehilangan nyawanya setelah mengalami penyiksaan fisik dan mental jangka panjang karena melakukan latihan Falun Gong. Ia baru berusia 34 tahun saat meninggal pada 9 Februari 2004. Terpaksa mencari nafkah akibat hilangnya penghasilan keluarga setelah suaminya dianiaya hingga tewas, istri Wan Liji menjadi pedagang kaki lima. Wan Ruyi, putri Wan Liji berusia empat tahun saat kematian ayahnya, sering berbisik pada dirinya sendiri, “Aku harus menelepon ayahku.” Saat berjalan di taman, ia diikuti oleh petugas PKT, hal yang membuatnya ketakutan.
Liu Xiang

Liu Xiang, anak laki-laki berusia 11 tahun dari Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, menyatakan ketakutan terbesarnya adalah dikirim untuk tinggal di panti asuhan. Ketakutannya menjadi kenyataan ketika kedua orang tuanya hilang dari hidupnya akibat penganiayaan. Kedua orang tua Xiang adalah guru di SMP Nantou di Kota Shenzhen. Wang Xiaodong, ibu Xiang, disiksa hingga tewas di Rumah Tahanan Nanshan pada Juli 2003. Ayah Xiang, Liu Xifeng, dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara di Penjara Sihui pada Desember 2003. Tanpa orang tua, Xiang terpaksa hidup dalam ketakutan berkepanjangan di Panti Asuhan Shenzhen. Jika ia meninggalkan panti asuhan tersebut, ia akan dikejar oleh polisi.
Liu Xiaotian
Liu Qing, pejabat Pemerintah Praja Zhishan di Kota Yongzhou, dan istrinya Yang Yuyan, karyawan Pabrik Tekstil Praja Shanghe di Distrik Lengshuitan, disiksa hingga tewas lima bulan setelah ditahan karena melakukan latihan Falun Gong. Putra mereka, Liu Xiaotian, baru mengetahui kematian tersebut dua tahun lebih setelah kejadian. Selama dua tahun sejak penahanan orang tuanya, Xiaotian tinggal bersama pamannya (seorang petani di Provinsi Fujian), bersembunyi di gudang terbengkalai di Shenzhen selama setahun, diselundupkan keluar dari Tiongkok ke Denmark, lalu dibawa ke kamp pengungsi. Pamannya, yang hidup serbakekurangan sebagai petani, menanggung utang besar demi membayar penyelundup untuk membawanya keluar dari Tiongkok.
Ketakutan dikembalikan ke Tiongkok dan jatuh ke tangan otoritas PKT, serta menderita secara mental dan fisik akibat tinggal sendirian di gudang selama setahun, Xiaotian membutuhkan waktu satu tahun untuk menceritakan kisah hidupnya secara jelas kepada praktisi Falun Gong di Denmark. Selama berada di Denmark, Xiaotian sendiri mulai melakukan latihan Falun Dafa, sebuah latihan yang sebelumnya hanya ia ketahui secara samar. Efek penyembuhan dari latihan ini memberikan dampak positif bagi fisik dan mentalnya.
Pada 2004, hampir tiga tahun setelah Xiaotian mengetahui di sekolah bahwa orang tuanya ditahan, ia akhirnya diberitahu pamannya bahwa orang tuanya meninggal akibat siksaan karena melakukan latihan Falun Dafa. Hingga hari ini, tidak ada yang tahu tempat mereka ditahan, lokasi kematian mereka, maupun metode penyiksaan yang digunakan terhadap mereka. Polisi menggunakan kata “bunuh diri” untuk menggambarkan kematian tersebut, dan menolak memberikan rincian lebih lanjut.
Setelah orang tua Xiaotian disiksa hingga tewas, polisi berusaha menyingkirkan anak yatim piatu tersebut. Mereka memaksa paman Xiaotian menandatangani dokumen yang berisi janji untuk “memutuskan hubungan dari keluarga Liu Xiaotian.” Para petugas juga menuntut sang paman agar segera melaporkan keberadaan Xiaotian jika mengetahui informasinya, serta mengancam akan menghukum keluarganya jika tidak mematuhi perintah tersebut. Ketakutan akibat ancaman ini membuat sang paman mengirim Xiaotian ke gudang di Shenzhen, karena khawatir keponakannya akan ditangkap oleh otoritas PKT jika terus tinggal bersamanya.
Xiaotian belakangan mengetahui bahwa polisi menggeledah rumah keluarganya pada hari mereka menangkap orang tuanya, menghancurkan jendela, dan merusak perabotan. Mereka lalu menempelkan segel di gerbang rumahnya, sebelum merobohkan rumah itu sepenuhnya dan membersihkan sisa-sisa reruntuhannya. Kini tidak ada yang tersisa dari rumah masa kecil Xiaotian, seolah orang tuanya tidak pernah ada, kehidupan mereka terhapus dari catatan sejarah. Dalam upaya menutupi kematian para praktisi akibat tindakan otoritas PKT, PKT menghancurkan semua bukti metode penyiksaan barbar mereka. Praktik kejam yang umum dilakukan terhadap praktisi Falun Gong adalah kremasi tanpa persetujuan keluarga demi menutupi bukti penyiksaan yang terlihat pada tubuh praktisi.
Sun Mingyuan

Sun Mingyuan, seorang anak laki-laki dari Kota Dehui, Provinsi Jilin, dikirim untuk tinggal bersama neneknya setelah kedua orang tuanya dibawa pergi karena melakukan latihan Falun Dafa. Sun Qian, ayah Mingyuan, dijatuhi hukuman 11 tahun penjara, dan Ma Chunli, ibu Mingyuan, dikirim ke Rumah Tahanan Dehui. Pada Desember 2004, ibunya berada dalam kondisi kritis yang mengancam jiwa di rumah tahanan tersebut.
Yang Shengwei

Yang Zhonghong, ibu dua anak, ditangkap pada 19 September 2006 karena memberitahu orang-orang tentang Falun Dafa. Selama ditahan, Yang Zhonghong diikat di kursi besi, diancam, dan disiksa. Yang Shengwei, putra Yang berusia 13 tahun, ditendang di bagian wajah oleh seorang petugas polisi dari Kepolisian Kabupaten Fusong karena menuntut pembebasan ibunya dari rumah tahanan. Penganiayaan ini tidak menyurutkan niatnya untuk kembali ke kantor polisi keesokan harinya, sambil menggendong adik perempuannya yang berusia tiga tahun di punggung.
Liu Qian
Pada 15 November 2003, Liu Qian asal Kabupaten Xiong, Provinsi Hebei, didiagnosis menderita leukemia akut. Saat itu ia berusia 12 tahun. Secara blak blakan dokter memberi tahu orang tuanya bahwa penyakit tersebut tidak ada obatnya dan diminta mulai menyiapkan pemakaman. Alih-alih menyerah pada prognosis suram, orang tuanya justru mengajari putri mereka latihan Falun Dafa. Dalam tujuh hari sejak mempelajari gerakan latihan, Qian, yang tadinya terbaring lemah, sembuh total. Hasil pemeriksaan ulang oleh dokter mengonfirmasi bahwa ia telah sembuh sepenuhnya.
Namun, dua bulan setelah sekolah dimulai, kepala sekolah tempat Qian belajar mengancam akan mengeluarkannya kecuali ia menandatangani surat pernyataan melepaskan keyakinannya pada Falun Gong. Kepala sekolah mendapat tekanan dari otoritas PKT tingkat lebih tinggi untuk mengancam murid SMP tersebut atas keyakinan yang dianutnya. Lima hari setelah ancaman ini, akibat stres psikologis yang sangat berat dan depresi yang dialaminya, Qian meninggal dunia.











