Peringatan 26 Tahun Penganiayaan: Pejabat AS Mendukung Falun Gong

Anggota Kongres dari kedua partai dan Departemen Luar Negeri AS bersatu mendukung komunitas Falun Gong, menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kebebasan beragama dan menyerukan dihentikannya penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok pada peringatannya yang ke-26.

Anggota Kongres dari kedua partai dan Departemen Luar Negeri AS bersatu mendukung komunitas Falun Gong, menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kebebasan beragama dan menyerukan dihentikannya penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok pada peringatannya yang ke-26.

WASHINGTON DC — Keberanian. Dedikasi. Keteguhan hati. Kata-kata inilah yang dipilih oleh para anggota Kongres dari kedua partai untuk memuji para praktisi Falun Gong, baik yang ada di Tiongkok maupun komunitas di luar negeri, pada 20 Juli 2025. Tanggal tersebut menandai 26 tahun berlangsungnya penganiayaan kejam dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap orang-orang di seluruh dunia yang menekuni latihan ini.

Para pejabat AS dari berbagai partai bersatu untuk menegaskan kembali komitmen mereka dalam membela kebebasan beragama. Mereka juga menuntut agar PKT bertanggung jawab atas segala pelanggaran HAM yang telah dilakukan.

Menjelang hari peringatan tersebut, Departemen Luar Negeri AS turut menyampaikan sikap tegasnya dengan mendesak rezim Tiongkok untuk segera menghentikan tekanan terhadap Falun Gong.

“Selama lebih dari 26 tahun, PKT telah melancarkan kampanye penindasan terhadap para praktisi Falun Gong dan keluarga mereka. Kami kembali mendesak PKT untuk menghentikan upayanya dalam memusnahkan Falun Gong.”

Dukungan dari Kedua Partai di Kongres

Para anggota Kongres memperingati hari tersebut dengan mengirimkan surat, memberikan pernyataan publik, serta ikut serta dalam berbagai acara peringatan. Para wakil rakyat ini menekankan nilai-nilai Sejati, Baik, dan Sabar—yang merupakan inti dari ajaran Falun Gong—serta mengecam kampanye kekerasan dan intimidasi yang telah lama dilakukan oleh rezim Tiongkok.

Pada tanggal 17 Juli, Anggota Kongres Pat Ryan (Demokrat-NY), yang mewakili wilayah di New York tempat Dragon Springs berada—kantor pusat grup kesenian Shen Yun Performing Arts—berbicara di hadapan ratusan orang di National Mall. “Kepatuhan kalian yang tak tergoyahkan terhadap nilai-nilai yang kita saksikan dengan sangat kuat hari ini, yaitu Sejati, Baik, dan Sabar, benar-benar menjadi cahaya penuntun bagi semua orang di negara kita yang besar ini, di Amerika Serikat,” ujar Pat Ryan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kekayaan seni, budaya, dan sejarah Falun Gong serta budaya tradisional Tiongkok, seraya menyatakan bahwa para praktisi berhak untuk hidup bebas dan tanpa rasa takut.

Keterangan Foto: Perwakilan Pat Ryan (Demokrat-NY) berbicara dalam aksi damai di National Mall pada 17 Juli 2025. (Minghui)

“Bahkan di sini, di Amerika Serikat, Beijing berupaya menyensor Shen Yun dan mengintimidasi para praktisi Falun Gong yang tidak bersalah,” tegas Anggota Kongres Young Kim (Republik-CA) melalui sebuah pesan video. “Kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Tidak di negara kita, tidak juga di mana pun.”

Sejumlah anggota dari Partai Demokrat juga turut mengirimkan pesan dukungan, surat, video, maupun pernyataan melalui wawancara media, di antaranya adalah Rep. Adam Smith, Rep. Emanuel Cleaver, Rep. Stephen Lynch, Rep. Johnny Olszewski, Rep. Eleanor Holmes Norton, dan Rep. Suhas Subramanyam.

Dukungan serupa datang dari para anggota Partai Republik, termasuk Rep. Scott Perry, Rep. Chris Smith, Rep. Sam Graves, Rep. Joe Wilson, Rep. French Hill, dan Rep. Tom Tiffany.

Tiga senator juga menyatakan sikap mereka: Senator Ted Cruz, Senator Todd Young, dan Senator Roger Marshall. “PKT sebenarnya takut pada Falun Gong,” ungkap Sen. Cruz dalam pesan videonya. “Keberanian, ketangguhan, dan komitmen kalian dalam menjaga kebebasan beragama adalah sebuah inspirasi. Saya akan terus berjuang bersama kalian.”

Banyak pihak menyampaikan rasa hormat atas cara damai yang dilakukan para praktisi dalam menghadapi penyiksaan, pemenjaraan sewenang-wenang, hingga praktik keji perampasan organ secara paksa yang didukung negara [Tiongkok]. Beberapa wakil rakyat bahkan mendesak pemerintah AS untuk bertindak lebih tegas guna menghentikan penindasan lintas negara oleh PKT, termasuk ancaman dan gangguan yang menyasar praktisi Falun Gong di wilayah Amerika.

Sorotan Forum Capitol Hill

Menjelang peringatan 20 Juli, beberapa mantan pejabat dan Anggota Kongres berbicara dalam forum bertajuk Menjaga Kebebasan—Melawan Penindasan Lintas Negara PKT yang digelar di Gedung Capitol. Dalam forum tersebut, para pembicara memaparkan betapa ambisiusnya rezim Tiongkok dalam upayanya melenyapkan Falun Gong. Mereka juga memperingatkan bahwa penganiayaan oleh PKT kini sudah merambah jauh ke luar perbatasan Tiongkok, dan secara terang-terangan menargetkan pihak-pihak yang berseberangan dengan PKT—termasuk para praktisi Falun Gong—yang tinggal di Amerika Serikat.

Keterangan Foto: Anggota Kongres Scott Perry (Republik-PA), Juru Bicara Falun Gong Erping Zhang, Profesor Bob Destro, dan moderator Steve Lance berbicara dalam acara bertajuk Menjaga Kebebasan: Melawan Penindasan Lintas Negara PKT, di Pusat Pengunjung Capitol AS di Washington pada 17 Juli 2025. (Samira Bouaou/The Epoch Times)

Mantan Duta Besar Keliling AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback, menyoroti sisi spiritual di balik permusuhan PKT:

“Ancaman terbesar bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT) adalah agama, dan keyakinan yang paling selaras dengan jati diri rakyat Tiongkok adalah Falun Gong. [Pemerintah AS] harus memberikan dukungan penuh kepada… Falun Gong, karena peran mereka sangatlah krusial untuk membawa perubahan di Tiongkok, yaitu mengembalikannya menjadi bangsa dengan budaya yang indah dan masyarakat yang bebas.

Saran saya adalah agar Sekretaris Rubio, Wakil Presiden Vance, dan Presiden Trump bersedia bertemu dengan para pemimpin Falun Gong atau mereka yang telah menjadi korban penganiayaan. Hal ini penting untuk menegaskan betapa berartinya peran Falun Gong bagi masa depan kebebasan di Tiongkok.”

Profesor Robert Destro, mantan Asisten Sekretaris Negara untuk Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Ketenagakerjaan, menyoroti praktik keji PKT terkait penyalahgunaan transplantasi organ yang mematikan namun sangat menguntungkan:

“Gambaran besarnya begini, bagi PKT, kalian semua hanyalah barang dagangan. Kalian bukan sekadar budak. Ingatlah, ini seperti sebuah ‘toko jagal’. Nilai anda sebenarnya lebih mahal jika dijual per bagian (organ) daripada sebagai seorang manusia yang utuh.”

Anggota Kongres Chris Smith (Republik-NJ), yang juga Wakil Ketua Komisi Eksekutif-Kongres untuk Tiongkok, mengecam tindakan PKT dengan pernyataan yang sangat keras:

“Apa yang mereka lakukan ini adalah bentuk terorisme lintas negara—tujuannya adalah untuk merusak dan menyakiti orang-orang yang justru penuh dengan kebaikan terhadap sesama… Para praktisi Falun Gong bukan sekadar korban dari rezim genosida. Mereka adalah teladan moral yang terus berani membela kebenaran di tengah tekanan tirani.”

Keterangan Foto: Anggota Kongres Chris Smith (Republik-NJ) berbicara dalam forum bertajuk “Menjaga Kebebasan: Melawan Penindasan Lintas Negara PKT,” di Capitol AS pada 17 Juli 2025. (Samira Bouaou/The Epoch Times)

Anggota Kongres Scott Perry, penggagas Undang-Undang Perlindungan Falun Gong 2025 (Falun Gong Protection Act 2025), menegaskan bahwa penindasan lintas negara yang dilakukan PKT akan dihentikan di Amerika:

“[PKT] ini adalah sebuah organisasi kriminal yang meneror, menyiksa, dan membunuh orang-orang hanya karena keyakinan yang mereka pegang. Hal semacam ini tidak bisa dibiarkan di Amerika.”

Forum tersebut menjadi peringatan penting bahwa kampanye PKT melawan Falun Gong bukan sekadar krisis kemanusiaan, tetapi juga ancaman nyata bagi keamanan nasional dan keselamatan warga di Amerika Serikat.

Pengakuan dan Kesadaran Global yang Meluas

Dukungan bagi Falun Gong tidak hanya bergema di Capitol Hill, karena berbagai pemerintah di seluruh dunia turut memperingati 26 tahun masa penindasan ini. Pejabat dari Kanada, Inggris, Australia, Taiwan, Jerman, Italia, Selandia Baru, Swedia, Swiss, dan negara lainnya menyatakan solidaritas mereka kepada para praktisi Falun Gong. Mereka mendesak agar pelanggaran HAM yang terus terjadi segera dihentikan. Dari pengumpulan petisi di ruang publik hingga pertemuan di balai kota, berbagai lapisan masyarakat bersatu menyuarakan tuntutan agar penindasan oleh rezim Tiongkok segera dihentikan.

Setidaknya ada dua organisasi internasional yang mengeluarkan pernyataan resmi untuk memperingati momen ini. Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC), sebuah koalisi global anggota parlemen lintas partai yang berdiri sejak 2020, mengunggah pernyataan dalam dua bahasa (Mandarin dan Inggris) di situs mereka. Hal senada juga disampaikan oleh Raoul Wallenberg Centre for Human Rights, sebuah organisasi non-pemerintah yang berpusat di Montreal, yang menyatakan:

“Kami bersatu dalam solidaritas bersama komunitas Falun Gong di Kanada dan di seluruh dunia, yang terus mengalami pengintaian, gangguan, disinformasi, hingga penindasan hanya karena mereka memperjuangkan hak-hak dasar mereka.”

Sebagai bagian dari upaya advokasi yang terus berjalan, Falun Dafa Information Center mendesak pemerintah AS untuk memperkuat penegakan hukum terhadap penindasan lintas negara, segera mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Falun Gong, menjatuhkan sanksi kepada para pelanggar HAM berdasarkan Global Magnitsky Act, serta menjamin perlindungan bagi komunitas diaspora yang terancam.

“Kita harus mengerahkan segala upaya untuk menghentikan penganiayaan yang telah berlangsung selama 26 tahun di Tiongkok hingga tuntas,” tegas Levi Browde, Direktur Eksekutif Falun Dafa Information Center. “Selain itu, kita perlu memperkuat pertahanan di dalam negeri Amerika Serikat untuk menangkal upaya Beijing yang kian canggih dalam menargetkan Falun Gong di tanah kita.”

Share