Parade Praktisi Falun Gong di Brooklyn di Bawah Ancaman Pengaruh Pemerintah Tiongkok
Dua wanita yang kasusnya tercantum dalam survei nasional baru, tentang penindasan lintas negara Partai Komunis Tiongkok kembali berparade di Eighth Avenue. Salah satu dari mereka kembali ke lokasi tempat ia diserang dua tahun lalu.
Para praktisi Falun Gong mengadakan parade di Eighth Avenue di Brooklyn, New York pada 23 Agustus 2026. (Foto: Tim Lotus)
BROOKLYN, N.Y. — Parade tersebut menyusuri Eighth Avenue pada Minggu sore dalam barisan kontingen kecil yang panjang. Lily berjalan di samping iring-iringan mengenakan jaket kuning. Tugasnya sama seperti saat terakhir kali ia berdiri di jalan ini: menjaga ketertiban barisan, mengawasi kerumunan.
Terakhir kali, seorang pria menerobos barisan dan memukulnya. Dua kali. Kejadian itu berlangsung pada September 2024.
Pada 23 Agustus 2026, ia kembali mengambil peran yang sama di jalan yang sama. Sekitar seribu praktisi berbaris dari Jalan ke-66 hingga Jalan ke-43, melewati kawasan Pecinan terbesar di Brooklyn, sambil menyampaikan ucapan Festival Musim Gugur kepada toko-toko dan keluarga di sepanjang jalur yang dilalui.
“Hari ini saya kembali ke parade ini, sekali lagi sebagai relawan,” ujarnya. “Saya merasa bangga. Saya merasa terhormat. Tidak ada yang lebih baik dari ini.”
Di bagian lain barisan tersebut terdapat seorang wanita yang dalam tulisan ini disebut Jing. Agustus lalu, seorang pria mencoba membakar stan informasi tempat ia bertugas di Flushing.
Kedua wanita tersebut termasuk di antara 1.080 orang yang mengisi survei nasional, diselenggarakan oleh Pusat Informasi Falun Dafa antara September 2025 dan Maret 2026. Temuan tersebut dirilis pada bulan Juni dengan judul Americans Targeted by Beijing (Warga Amerika yang Menjadi Target Beijing). Penyerangan terhadap Lily dituliskan di sana sebagai studi kasus, begitu pula dengan apa yang dialami Jing di Flushing.
Mereka diwawancarai oleh Pusat Informasi tersebut pada hari Minggu. Serangan-serangan tersebut, kata mereka, sama sekali tidak mengubah rencana mereka.

“Kejahatan tidak akan pernah mengalahkan kebenaran”
Para peserta pawai pada September itu sangat mudah dikenali. Mereka mengenakan kaos dan jaket kuning bertuliskan “Falun Dafa.”
Seorang pria mendatangi barisan tersebut untuk mencari mereka. Ia mengincar anak-anak terlebih dahulu. Ia melontarkan kata-kata amarah kepada para wanita tersebut dan meludah. Ketika mendekati Lily, ia memukulnya, lalu berbalik dan memukulnya sekali lagi. Beberapa orang lainnya juga diserang di jalan setelah kejadian itu. Dua hari kemudian, sebuah surel datang dan mengklaim bertanggung jawab atas semua tindakan tersebut. Penegak hukum setempat menyebutnya sebagai kejahatan kebencian
“Serangkaian tindakan seperti itu sama sekali bukan sebuah kebetulan,” kata Lily.
Ia belum pernah melihat pria tersebut sebelumnya. Pria itu berbadan besar, kenangnya, dan bergerak di tengah kerumunan dengan tujuan melakukan penyerangan. Saat itu Lily mengenakan kaos Falun Dafa. Semua orang di sekitarnya adalah praktisi.
Yang melekat di benaknya bukanlah hantaman pukulan tersebut. Melainkan apa yang ia putuskan dalam beberapa detik setelahnya, yaitu menyelesaikan pawai tersebut.
“Bahkan ketika ia menyerang saya tanpa alasan, tepat di tengah-tengah parade, saya tidak takut” ujarnya. “Kejahatan tidak mengalahkan kebenaran. Kejahatan tidak pernah sekalipun mengalahkan keadilan.”
Kasus tersebut adalah salah satu dari 92 insiden kekerasan fisik dan perusakan properti yang didokumentasikan oleh survei tersebut antara tahun 2020 dan 2025. Kejadian-kejadian itu mencakup 15 negara bagian, dengan New York dan California tercatat sebagai kasus terbanyak.
Catatan yang ia simpan
Ketika ditanya apa yang telah berubah dalam kurun waktu dua tahun, Lily tidak membahas kasusnya sendiri. Ia berbicara tentang data statistik.
DPR kini telah mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Falun Gong dua kali, pertama pada Juni 2024 dan sekali lagi pada tahun 2025. Pada tanggal 17 Juni tahun ini, Senat Komite Hubungan Luar Negeri meloloskan rancangan undang-undang terpisah yang lebih luas, yaitu Undang-Undang Perlindungan Falun Gong dan Korban Perampasan Organ Paksa (Falun Gong and Victims of Forced Organ Harvesting Protection Act), yang memperluas perlindungan yang sama kepada semua korban perampasan organ paksa di Tiongkok. RUU tersebut kini diteruskan ke Senat secara penuh. Jika disahkan menjadi undang-undang, RUU tersebut akan mewajibkan pelaporan tahunan mengenai sistem transplantasi organ Tiongkok serta membuka peluang untuk penerapan sanksi larangan visa dan pembekuan aset.
Penyelenggara parade menyampaikan dua angka lainnya. Hampir 460 juta warga Tiongkok kini telah secara terbuka melepaskan hubungan mereka dengan Partai Komunis dan organisasi-organisasi pemuda milik partai. Petisi global yang menyerukan diakhirinya kekuasaan Partai tersebut telah melampaui 5,38 juta tanda tangan.
“Situasinya telah berubah secara drastis,” ujarnya. “Semakin banyak yang dilakukan oleh Partai, semakin banyak orang yang memahami perbedaan antara kebaikan dan kejahatan. Orang-orang yang memiliki nurani tidak akan terus mempercayai kebohongan. Hal itu justru membuat mereka mengetahui kejahatan PKT lebih cepat.”
Dalam versinya, tindakan kekerasan tersebut justru berbalik melawan orang-orang yang memerintahkannya.
“Falun Dafa mengajarkan orang-orang untuk hidup dengan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar,” ujarnya. “Untuk menjadi orang baik, dan kemudian menjadi orang yang lebih baik lagi. Mereka yang bertindak sebagai pesuruh Partai tidak dapat menakuti para praktisi. Apa yang mereka lakukan justru menampakkan wajah jahat Partai kepada seluruh dunia.”
Korek api, tenda, dan mobil hitam
Bulan Agustus 2025. Jing sedang menjaga sebuah stan informasi di Flushing.
Seorang pria berusia tiga puluhan mulai mengejeknya. Ia menghentikan orang-orang di trotoar dan membuat mereka ikut meneriaki Jing. Kemudian pria itu mengincar brosur-brosur yang dipajang di stan informasi. Ia merampas setumpuk brosur. Jing dan dua praktisi lainnya bergerak mendekat menghalangi, akhirnya pria tersebut hanya berhasil membawa selembar kertas, yang kemudian ia robek-robek sambil mondar-mandir dan berteriak di dekat stan.
Pria tersebut pergi. Beberapa menit kemudian ia kembali, sambil membawa korek api. Ia mencoba membakar tenda tersebut.
Jing memperingatkannya bahwa ia akan menelepon polisi.
“Silakan, laporkan saya,” ujarnya.
Ia menyeberang jalan menuju sebuah mobil hitam dan masuk lewat sisi penumpang. Seseorang lainnya berada di balik kemudi. Orang tersebut tidak pernah teridentifikasi.
Laporan tersebut mencatat kasus Jing di bawah kategori ancaman kekerasan. Terdapat 86 insiden semacam itu dalam data survei, yang berdampak pada 80 orang. Lebih dari separuhnya terjadi pada tahun 2025.
Pada hari Minggu ia sedang berparade. Ia tidak banyak berkomentar tentang hal itu.
“Saya senang bisa berada dalam parade hari ini,” ujarnya. “Apa yang terjadi tidak dapat menghentikan saya melakukan hal-hal seperti ini. Saya akan terus melakukan apa yang benar. Memberitahu orang-orang bahwa Falun Dafa itu baik. Memberitahu mereka bahwa Partai Komunis lah yang melakukan hal-hal buruk.”
Ketakutan, dan tetap berparade
Hampir 60 persen responden—645 orang—melaporkan beberapa bentuk penindasan lintas negara sejak tahun 1999. Namun, 521 orang di antaranya, yaitu 48 persen, mengalami insiden dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Kasus yang dilaporkan pada tahun 2025 melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan tahun 2020.
Pelecehan adalah taktik yang paling umum, dengan 158 insiden yang didokumentasikan di 12 negara bagian. Sebagian besar terjadi pada saat parade, aksi damai, dan stan informasi. Dengan kata lain, pada acara-acara seperti hari Minggu lalu.
Pusat Informasi telah mencatat secara terpisah 298 ancaman kekerasan terhadap para praktisi, Shen Yun, dan para pendukung Falun Gong sejak Maret 2024.
Survei tersebut juga menanyakan bagaimana perasaan masyarakat. Lebih dari 60 persen merasa gelisah tentang seberapa jauh jangkauan pengawasan Tiongkok di dalam Amerika Serikat. Sekitar sepertiganya, yaitu 337 orang, menyatakan bahwa mereka merasa tidak aman. Tingkat ketidakamanan ini jauh lebih tinggi di antara mereka yang pernah mengalami penganiayaan di Tiongkok sebelum datang ke sini: 55 persen dari mereka merasa tidak aman.
Namun, lebih dari 57 persen mengatakan bahwa mereka masih merasa cukup aman untuk tetap berlatih secara terbuka dan bersuara. Ketakutan itu masih ada, namun tidak menyurutkan tekad untuk tetap berparade. Itulah gambaran garis besar dari Minggu sore di Eighth Avenue.
Arak-arakan tersebut membubarkan diri di dekat Jalan ke-43. Seorang pria dan anak perempuannya berjalan menghampiri salah satu pemain tuba band tersebut, Alex. Ayahnya menjelaskan bahwa anaknya menyukai musiknya. Ia ingin mendengarkannya dari dekat.
Alex memainkan baris pembuka dari lagu “Falun Dafa Is Great.” Kemudian ia menceritakan sedikit tentang latihan Falun Dafa, gerakan-gerakannya, serta tiga kata yang terus diulang-ulang dari spanduk-spanduk saat parade. Anak perempuan tersebut mendengarkan suara alat musik tiup itu. Ayahnya mengambil sebuah brosur.
“Saya menyukai prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar,” ujar sang ayah.










