Kilas Balik Tahun 2024: Lima Perkembangan Utama dalam Penganiayaan Falun Gong oleh Rezim Tiongkok

Sepanjang tahun 2024, berita tentang Tiongkok didominasi oleh isu krisis ekonomi dan lonjakan angka pengangguran. Sorotan internasional juga tertuju pada terungkapnya praktik penindasan lintas negara oleh Tiongkok terhadap para aktivis, serta penangkapan agen-agen mereka di Amerika Utara dan Eropa. Di tengah situasi tersebut, penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong telah memasuki tahun ke-25, di mana rezim tersebut semakin gencar meningkatkan tekanannya, baik di dalam negeri maupun di luar perbatasan Tiongkok.

Di dalam negeri Tiongkok, aparat keamanan masih terus melakukan penangkapan sewenang-wenang, penahanan, penyiksaan, penghilangan paksa, hingga pembunuhan terhadap praktisi Falun Gong secara masif di seluruh penjuru negeri. Sementara di kancah global, rezim tersebut beserta kaki tangannya memperhebat kampanye intimidasi dan disinformasi mereka dengan menggunakan taktik-taktik baru yang belum pernah ada sebelumnya untuk menargetkan komunitas Falun Gong dan para pendukungnya di seluruh dunia.

Melihat kembali perjalanan tahun lalu, para peneliti di Falun Dafa Information Center (FDIC) mencatat lima perkembangan krusial di tahun 2024. Poin-poin ini memberikan gambaran jelas mengenai evolusi penganiayaan tersebut serta bagaimana berbagai pihak memberikan tanggapan mereka.

  1. Lebih dari 100 praktisi Falun Gong meninggal akibat penganiayaan di Tiongkok, termasuk sedikitnya 17 orang yang tewas di dalam tahanan.
  2. Vonis penjara dijatuhkan kepada lebih dari 540 praktisi, sementara 5.600 lainnya ditahan dan diintimidasi—dengan lonjakan kasus menjelang hari jadi RRT.
  3. Penyintas pertama kasus perampasan organ mulai berani mengungkapkan kisahnya ke publik, meski harus menghadapi berbagai intimidasi balasan.
  4. Munculnya kampanye global yang masif dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyerang Falun Gong serta Shen Yun.
  5. Dukungan internasional untuk melindungi komunitas Falun Gong semakin nyata melalui lahirnya undang-undang baru, proses hukum, hingga pernyataan dukungan secara terbuka.

1. Lebih dari 100 praktisi Falun Gong meninggal akibat penganiayaan di Tiongkok, termasuk sedikitnya 17 orang yang tewas di dalam tahanan

Foto beberapa praktisi Falun Gong yang meninggal dunia pada tahun 2024 akibat penganiayaan. Sumber: Minghui.org

Sepanjang tahun 2024, para praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok terus mengalami kekerasan mematikan di dalam tahanan polisi, atau meninggal tak lama setelah dibebaskan akibat luka-luka parah yang mereka alami selama masa penahanan.

Menurut data yang dikumpulkan oleh jaringan jurnalis warga di Tiongkok dan dibagikan melalui situs Minghui, setidaknya ada 164 praktisi Falun Gong dilaporkan meninggal akibat penganiayaan pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, 103 kasus terjadi di tahun 2024, sementara sisanya terjadi pada tahun-tahun sebelumnya namun baru bisa dilaporkan pada tahun 2024. Mengingat ketatnya sensor informasi oleh rezim Tiongkok, laporan kematian lainnya untuk tahun 2024 diperkirakan akan terus bermunculan dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.

Dari 164 korban tersebut, hampir dua pertiganya adalah perempuan (105 orang) dan 59 orang laki-laki, dengan rentang usia antara 40 hingga 91 tahun. Kasus kematian ini tersebar di 25 provinsi, kota madya, dan daerah otonom, dengan angka tertinggi di Provinsi Liaoning sebanyak 25 orang. Setidaknya 149 korban telah melewati masa pemenjaraan ilegal, penahanan, sesi cuci otak, atau dikurung di rumah sakit jiwa; dan semuanya mengalami tekanan serta penganiayaan oleh otoritas Tiongkok. Sebanyak 17 praktisi meninggal saat masih berada di pusat penahanan atau penjara, di mana pihak keluarga melaporkan adanya bekas-bekas penyiksaan pada tubuh korban. Praktisi lainnya meninggal dunia segera setelah dibebaskan, atau setelah menderita selama bertahun-tahun akibat luka-luka dari penyiksaan dan perlakuan buruk selama di tahanan.

Rincian per Provinsi: Kematian Praktisi Falun Gong Akibat Penganiayaan di Tiongkok pada Tahun 2024

Liu Dianyuan, seorang praktisi Falun Gong lanjut usia dari Kota Chaoyang, Provinsi Liaoning, dijatuhi hukuman 11 tahun penjara saat ia sudah berusia 78 tahun. Setelah menjalani masa hukuman selama delapan tahun, ia meninggal pada hari pertama Tahun Baru Imlek 2024 di Penjara No. 1 Shenyang pada usia 86 tahun. Berbagai laporan menyebutkan bahwa setahun sebelum meninggal Liu sudah dalam kondisi cacat berat dan tidak mampu lagi mengurus dirinya sendiri. Meski kondisinya sangat kritis, pihak penjara tetap menolak permohonan pembebasan medis bagi dirinya, hingga akhirnya ia meninggal di dalam tahanan.

Hingga 31 Desember 2024, Minghui.org mencatat sebanyak 5.167 praktisi Falun Gong tewas akibat penganiayaan sejak Juli 1999. Angka kematian ini merupakan sisi paling kelam dari kampanye penganiayaan luas yang dilakukan oleh aparat keamanan Tiongkok terhadap mereka yang melakukan latihan Falun Gong. Namun, jumlah kematian yang sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi, karena sulitnya mengumpulkan data yang menyeluruh, terutama untuk kasus-kasus yang berkaitan dengan perampasan organ.

2. Vonis penjara dijatuhkan kepada lebih dari 540 praktisi, sementara 5.600 lainnya ditahan dan diintimidasi—dengan lonjakan kasus menjelang hari jadi RRT

Sepanjang tahun 2024, warga Tiongkok yang berlatih Falun Gong terus menghadapi penangkapan massal, tuntutan hukum, hingga vonis penjara yang sangat lama hanya karena menjalankan hak mereka untuk bebas berkeyakinan dan berpendapat. Hingga saat ini, praktisi Falun Gong tetap menjadi salah satu kelompok tahanan hati nurani terbesar di Tiongkok, dengan laporan penangkapan baru dan persidangan sandiwara yang muncul setiap harinya.

Setidaknya 541 praktisi Falun Gong dijatuhi hukuman penjara hingga 13 tahun pada tahun 2024 melalui proses peradilan yang jelas-jelas mengabaikan prosedur hukum yang berlaku. Selain itu, terdapat 223 kasus lainnya yang baru terungkap di tahun 2024, meskipun vonisnya sudah dijatuhkan pada tahun-tahun sebelumnya. Rentang usia mereka yang dihukum sangat jauh, mulai dari usia 29 hingga 94 tahun.

Banyak di antara para praktisi ini adalah lansia yang harus menghadapi penganiayaan berkepanjangan. Bagi mereka, vonis penjara yang sangat lama secara praktis sama saja dengan hukuman mati. Sebagai contoh, pada 20 Mei 2024, tujuh warga Kota Laizhou, Provinsi Shandong, dipenjara hanya karena mempelajari buku-buku Falun Gong dan mengelola tempat pembuatan materi informasi Falun Gong. Salah satunya adalah Lin Hongjie, pria yang berusia 73 tahun; ia menerima hukuman paling berat, yakni delapan tahun penjara dan denda sebesar 40.000 yuan.

Pada tahun 2024, tercatat sedikitnya 5.692 kasus penangkapan dan intimidasi terhadap praktisi Falun Gong. Penganiayaan ini tersebar di 30 provinsi, daerah otonom, dan kota madya di seluruh Tiongkok. Bentuk kekerasan yang terjadi meliputi 2.828 aksi penculikan, 2.864 kasus gangguan, 1.553 penggeledahan rumah secara paksa, 74 penahanan di pusat cuci otak, hingga 64 insiden pengambilan sampel darah, DNA, dan sumsum tulang secara paksa. Penganiayaan ini tidak hanya menyasar para praktisi, tetapi juga sering kali berdampak buruk bagi anggota keluarga mereka.

Salah satu contohnya adalah Xu Guoqin, seorang praktisi Falun Gong wanita berusia 70-an dari Kota Mudanjiang. Pada akhir September 2024, ia terpaksa meninggalkan rumah demi menghindari hukuman penjara hanya karena menyebarkan materi Falun Gong. Selama ia mengungsi, polisi justru menangkap putrinya untuk dijadikan sandera agar Xu menyerahkan diri. Merasa sangat terpukul oleh tindakan polisi tersebut, suami Xu mengalami stroke dan akhirnya meninggal. Meskipun suaminya telah wafat, Xu—yang kemudian tertangkap dan ditahan—tetap tidak diizinkan untuk menghadiri pemakaman suaminya.

Penindasan Menjelang Hari Nasional RRT: Pada 1 Oktober 2024, PKT merayakan HUT ke-75 berdirinya RRT. Secara historis, tanggal penting ini selalu diikuti dengan peningkatan tindakan untuk membungkam suara-suara sumbang. Tahun ini pun demikian; penganiayaan semakin gencar dengan adanya penangkapan sewenang-wenang, gangguan, serta pengawasan ketat terhadap individu maupun kelompok yang dianggap berseberangan dengan pemerintah. Praktisi Falun Gong menjadi salah satu target utama dalam aksi ini.

Berdasarkan data dari Minghui.org, selama bulan September 2024 saja terdapat 552 kasus penangkapan dan intimidasi yang dilaporkan di 28 provinsi. Beijing mencatat angka penangkapan tertinggi (31 kasus), sementara Provinsi Hebei melaporkan kasus gangguan terbanyak (60 kasus). Para korban umumnya adalah lansia berusia 60 hingga 87 tahun, dengan sedikitnya 71 orang di antaranya telah berusia di atas 70 tahun.

Peta titik panas visual yang merinci 28 provinsi, kota madya, dan daerah otonom dengan kasus penganiayaan Falun Gong terbanyak menjelang Hari Nasional ke-75 PKT.

Laporan dari Shanghai mengungkapkan adanya peningkatan aktivitas pengawasan yang sangat mengkhawatirkan menjelang akhir September 2024. Para praktisi melaporkan bahwa mereka menjadi sasaran pemantauan terus-menerus oleh tim mata-mata yang bekerja bergantian dalam sif selama 24 jam penuh. Li Hong, seorang praktisi wanita di Shanghai, menyadari bahwa dirinya dibuntuti saat pergi keluar rumah pada 27 September, dan ia melihat ada orang-orang yang berjaga di dekat lift gedung apartemennya. Para mata-mata tersebut membuntuti para praktisi menggunakan sepeda atau mobil. Setidaknya dalam satu kasus, polisi secara terang-terangan memberi tahu seorang praktisi bernama Ny. Chen Ping bahwa ia akan diawasi ketat dari tanggal 30 September hingga 7 Oktober. Rentetan insiden ini mencerminkan pola lama rezim Tiongkok yang selalu memperketat pengawasan terhadap para praktisi Falun Gong setiap kali mendekati tanggal-tanggal yang sensitif secara politik.

3. Penyintas pertama kasus perampasan organ mulai berani mengungkapkan kisahnya ke publik, meski harus menghadapi berbagai intimidasi balasan

Pada tahun 2024, Cheng Peiming, seorang pria mantan tahanan hati nurani Falun Gong yang berhasil melarikan diri ke Amerika Serikat, secara terbuka menceritakan pengalaman mengerikan tentang bagaimana saat sebagian organ hati dan parunya diangkat secara paksa. Kesaksian ini dinilai kredibel oleh para ahli medis sehingga menambah deretan bukti yang menunjukkan bahwa praktisi Falun Gong serta tahanan hati nurani lainnya terus dimanfaatkan untuk menyokong industri transplantasi organ di Tiongkok yang sangat menguntungkan.

Dalam sebuah konferensi pers di Washington, D.C. pada 9 Agustus 2024, dengan didampingi oleh mantan pejabat pemerintah AS dan sejumlah aktivis HAM, Cheng merinci peristiwa yang terjadi pada 16 November 2004. Saat itu, ia sedang ditahan di Penjara Daqing, Kota Daqing, Provinsi Heilongjiang, karena melakukan latihan Falun Gong. Ia menggambarkan bagaimana enam penjaga penjara melumpuhkannya secara paksa di sebuah rumah sakit di Tiongkok dan menyuntikkan obat bius di luar kemauannya.

Ketika Cheng siuman tiga hari kemudian, ia mendapati kaki kanannya terbelenggu ke tempat tidur rumah sakit, dengan infus di salah satu lengan serta berbagai selang yang menancap di dada, hidung, dan kakinya. Ia mengalami batuk yang tidak kunjung berhenti, rasa sakit yang luar biasa, serta mati rasa di area tulang rusuk bagian kirinya.

Setelah berhasil mengungsi ke Amerika Serikat pada tahun 2020, Cheng menjalani serangkaian pemeriksaan medis yang mengungkap kenyataan mengerikan: sebagian organ hatinya dan sekitar separuh dari bagian bawah paru-paru kirinya telah diangkat melalui operasi tanpa persetujuannya.

Dalam konferensi pers tersebut, tiga pakar transplantasi menyampaikan opini ahli mereka berdasarkan hasil pemindaian CT scan dada Cheng, yang secara medis mengonfirmasi adanya pengangkatan organ secara paksa. Robert A. Destro, mantan Asisten Sekretaris Negara AS yang berperan penting dalam menyelamatkan Cheng, menekankan betapa kejamnya praktik perampasan organ paksa di Tiongkok dan menyebutnya sebagai pelanggaran HAM yang sangat serius. Kesaksian Cheng ini semakin menyingkap kekejaman di balik praktik perampasan organ yang dilakukan oleh PKT, sekaligus memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai isu yang sangat memprihatinkan ini.

Cheng Peiming (kedua dari kanan) menceritakan pengalamannya saat organ tubuhnya diangkat tanpa persetujuan dalam sebuah konferensi pers di Washington, D.C. pada 9 Agustus 2024. Sumber: Minghui.org

Kesaksian Cheng menarik perhatian besar dari media dan dunia internasional. Sepanjang bulan Agustus saja, setidaknya 36 outlet berita menerbitkan laporan mendalam tentang bagaimana Cheng menjadi korban perampasan organ secara paksa oleh PKT. Pada 10 Agustus, The Diplomat melaporkan bahwa kesaksian Cheng memberikan gambaran langka sekaligus mengerikan mengenai penderitaan yang dialami oleh para tahanan hati nurani di Tiongkok, terutama para praktisi Falun Gong.

Rezim Tiongkok menanggapi hal ini dengan agresif demi mendiskreditkan pengakuan Pak Cheng dan membungkamnya. Pada 24 Oktober 2024, situs resmi Biro Keamanan Publik Kota Tianjin merilis sebuah artikel yang ditulis oleh Asosiasi Anti-Aliran Sesat Tiongkok—sebuah lembaga yang dikendalikan oleh PKT. Artikel tersebut melontarkan tuduhan palsu bahwa Cheng mengarang cerita demi merusak kebenaran kesaksiannya. Tulisan propaganda ini kemudian disebarluaskan kembali oleh berbagai media milik pemerintah, termasuk China Youth Daily.

Tak hanya serangan lewat propaganda, Cheng juga mengalami sejumlah ancaman keselamatan dan percobaan pembunuhan. Kejadian paling fatal terjadi pada 2 November 2024, saat rumahnya dibobol orang tak dikenal antara jam 4 hingga 6 pagi. Pintu garasinya dirusak, pintu dalam rumah dibiarkan terbuka, dan ditemukan bekas ban kendaraan yang dalam di halaman belakangnya. Anehnya, sistem alarm dan kamera pengawas di rumahnya mendadak mati total sejak pukul 01.12 hingga 06.18 pagi.

David Matas, seorang pengacara HAM internasional yang telah bertahun-tahun menginvestigasi praktik perampasan organ di Tiongkok, mengomentari betapa pentingnya kasus Cheng:

“Cheng dapat membuktikan bahwa organnya telah diambil karena ada bagian dari hati dan parunya yang memang hilang, dan hal ini tidak bisa disangkal. Ini memberikan bukti visual yang nyata serta kehadiran seorang korban yang bisa bersaksi secara langsung—sesuatu yang belum pernah kita saksikan sebelumnya dalam jenis kekejaman seperti ini.”

4. Munculnya kampanye global yang masif dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyerang Falun Gong serta Shen Yun

Pada tahun 2024, kampanye penindasan lintas negara yang telah lama dilakukan PKT terhadap praktisi Falun Gong meningkat secara signifikan. Hal ini tampak sebagai upaya terkoordinasi untuk merusak reputasi komunitas Falun Gong di luar negeri dan menyabotase Shen Yun Performing Arts, sebuah perusahaan tari klasik Tiongkok ternama asal Amerika.

Falun Dafa Information Center telah mendokumentasikan puluhan insiden sejak Januari 2024, termasuk ancaman pembunuhan anonim, penyebaran artikel media arus utama dan unggahan media sosial yang meragukan, serta gugatan hukum tak berdasar mengenai tuduhan gangguan atau pelanggaran lingkungan. Selain itu, terdapat upaya untuk menyuap atau memancing lembaga pemerintah AS, hingga pengiriman email palsu yang menyamar sebagai praktisi.

Bocoran dari sumber internal menunjukkan bahwa instruksi untuk mengintensifkan kampanye ini berasal dari tingkat tertinggi dalam PKT. Pada tahun 2022, Sekretaris Jenderal PKT Xi Jinping dilaporkan menyerukan peningkatan upaya untuk melawan Falun Gong di luar negeri. Instruksi Xi menekankan dua strategi inti: lawfare—yaitu penggunaan gugatan hukum tanpa dasar secara strategis untuk membebani dan mendiskreditkan target—serta disinformasi, terutama dengan memanfaatkan akun media sosial anonim dan media arus utama untuk memfitnah reputasi Falun Gong.

Pada tingkat operasional, Xi memercayakan komando kampanye ini kepada Komisi Urusan Politik dan Hukum (PLAC), lembaga partai yang mengawasi seluruh aparat keamanan. Sumber internal lainnya mengonfirmasi bahwa misi ini adalah operasi gabungan antara Kementerian Keamanan Negara dan Kementerian Keamanan Publik Tiongkok—dua lembaga negara yang bernaung di bawah PLAC—dan diduga dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Negara Tiongkok, Chen Yixin.

Sejak Juni 2024, FDIC telah memperoleh informasi internal dari aparat keamanan Tiongkok yang merinci berbagai taktik untuk menjalankan strategi tersebut. Sebuah petikan penting dari catatan rapat Kementerian Keamanan Publik Tiongkok pada Juni 2024 memperjelas tujuan dan metode rezim tersebut:

Kerahkan agen-agen rahasia untuk menciptakan dan memperbesar konflik internal di dalam Falun Gong, serta terus memperluas kekuatan, kedalaman, dan jangkauan dari [para influenser media sosial yang menargetkan Falun Gong dan Shen Yun] … mereka harus menarik perhatian seluruh masyarakat AS secara terus-menerus, dan memaksa pemerintah AS untuk memukul dari segala lini guna melenyapkan kekuatan Falun Gong.” [penekanan ditambahkan]

Insiden Nyata dan Ancaman Keamanan: Pada bulan Agustus, seorang Youtuber yang dikenal sering melontarkan ancaman kekerasan terhadap Shen Yun secara terbuka membanggakan perannya dalam menghubungkan sekelompok mantan penari Shen Yun dan praktisi Falun Gong yang merasa tidak puas dengan wartawan New York Times (NYT). Catatan rapat Kementerian Keamanan Publik yang bocor secara gamblang menyebut nama Youtuber ini sebagai sosok yang harus didukung oleh aparat PKT untuk menyerang Falun Gong.

Sejak saat itu, NYT menerbitkan serangkaian artikel sepihak dan menyesatkan berdasarkan wawancara dengan para mantan penari tersebut. Laporan-laporan ini mengabaikan berbagai konteks penting, seperti hubungan para individu tersebut dengan lembaga-lembaga milik pemerintah Tiongkok, adanya konflik kepentingan, peringatan akan potensi manipulasi, hingga komentar-komentar positif mengenai Shen Yun yang sebenarnya disampaikan juga oleh para narasumber. Alih-alih objektif, artikel tersebut secara tidak proporsional hanya mengangkat sisi negatif saja, sehingga menghasilkan klaim yang menyimpang tentang Shen Yun dan Falun Gong.

Penerbitan artikel-artikel ini terjadi bersamaan dengan peningkatan ancaman kekerasan yang menargetkan lokasi pertunjukan Shen Yun, para seniman, hingga pusat pelatihan mereka. Selain itu, ditemukan banyak kasus di mana ada orang-orang tertentu yang berpura-pura menjadi staf Shen Yun atau praktisi Falun Gong di media sosial untuk mengirimkan ancaman bom palsu melalui email, atau mengirim pesan teror kepada pejabat publik yang selama ini mendukung Shen Yun. Munculnya berbagai serangan ini, yang bertepatan dengan terbongkarnya taktik internal PKT, semakin memperkuat bukti bahwa ini semua adalah bagian dari kampanye disinformasi dan intimidasi yang terencana secara besar-besaran.

Terakhir, rezim Tiongkok beserta kaki tangannya tampak menggunakan taktik lawfare (perang hukum) dengan mencoba memicu penyelidikan regulasi pemerintah AS atau keputusan pengadilan untuk menyerang Shen Yun dan pusat pelatihannya di New York. Pada tahun 2024, berbagai lembaga pemerintah Amerika berhasil menggagalkan upaya-upaya ini karena terbukti tidak berdasar. Dua orang pria bahkan telah divonis bersalah dan dipenjara karena mencoba menyuap orang yang mereka kira pejabat pajak (IRS) agar membuka penyelidikan terhadap Shen Yun. Selain itu, seorang hakim di New York menolak beberapa gugatan lingkungan hidup tanpa dasar yang diajukan oleh individu atau organisasi nirlaba yang memiliki hubungan dengan Tiongkok. Departemen Konservasi Lingkungan juga melakukan inspeksi ke pusat pelatihan Shen Yun akibat keluhan-keluhan sepele yang masuk ke kantor mereka, namun tidak menemukan masalah apa pun. Pola ini terus berlanjut hingga akhir tahun, di mana Departemen Tenaga Kerja New York mulai membuka penyelidikan setelah Youtuber bekingan Beijing memprovokasi para pengikutnya untuk mengajukan pengaduan.

Meski target utamanya adalah Shen Yun dan komunitas Falun Gong, dampak dari serangan ini sebenarnya jauh lebih luas karena mengancam kedaulatan dan kebebasan Amerika. Jika strategi ini berhasil, Beijing akan memiliki standar baku untuk memanipulasi media, pemerintah, dan opini publik di Amerika guna menyerang siapa pun yang mereka inginkan di masa depan.

5. Dukungan internasional untuk melindungi komunitas Falun Gong semakin nyata melalui lahirnya undang-undang baru, proses hukum, hingga pernyataan dukungan secara terbuka

Meski mendapat tekanan diplomatik yang hebat dari pihak Tiongkok, berbagai pemerintah negara demokrasi, pejabat publik, dan tokoh-tokoh penting di tahun 2024 tetap bersatu mengecam penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong. Mereka menuntut hukuman bagi para pelaku dan berupaya menegakkan hak-hak dasar para praktisi.

Pada momen peringatan 25 tahun penganiayaan di bulan Juli, banyak pejabat menunjukkan dukungan mereka dan mendesak PKT untuk menghentikan penindasan tersebut. Di Amerika Serikat, anggota Kongres dari kedua partai utama, Departemen Luar Negeri, hingga Kedutaan Besar AS di Tiongkok merilis pernyataan resmi yang mengagumi ketegaran para praktisi sembari mengutuk tindakan kejam PKT. Bahkan, pesan dari Duta Besar AS untuk Tiongkok di media sosial yang ditulis dalam dua bahasa berhasil menarik perhatian jutaan orang. Selain itu, anggota Kongres seperti Raja Krishnamoorthi (Demokrat-IL) dan Dan Newhouse (Republik-WA) secara resmi mengutuk kekerasan ini pada 20 Juli, sementara anggota Kongres Pat Ryan (Demokrat-NY) turut turun ke jalan dalam aksi di National Mall pada 11 Juli demi menyerukan penghentian kampanye penganiayaan yang telah dilakukan PKT selama seperempat abad ini.

Anggota Kongres Pat Ryan (D-N.Y.) saat berpidato di National Mall, Washington, pada 11 Juli 2024. Ia mendesak Partai Komunis Tiongkok untuk segera menghentikan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong yang telah berlangsung selama 25 tahun. Sumber: Madalina Vasiliu/The Epoch Times

Praktisi Falun Gong juga mendapat dukungan luas dari masyarakat di berbagai belahan dunia. Puluhan ribu orang turut serta dalam beragam aksi damai, mulai dari malam renungan, pawai, hingga demonstrasi, demi meningkatkan kesadaran publik atas pelanggaran HAM seperti kerja paksa, penyiksaan, dan pengambilan organ yang menyasar praktisi Falun Gong. Selain itu, para pengelola teater di sejumlah negara juga berani melawan tekanan diplomatik Tiongkok yang mencoba menyabotase pertunjukan Shen Yun. Juris Žagars, direktur Teater Dailes di Riga, Latvia, secara terbuka menolak permintaan resmi dari Kedutaan Besar Tiongkok untuk membatalkan pertunjukan Shen Yun dan menyebut upaya intervensi tersebut sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima.” Sikap tegas serupa juga ditunjukkan oleh para pengelola teater di Polandia dan Prancis yang memilih untuk melawan tekanan dari para diplomat Tiongkok.

Namun, yang paling signifikan adalah munculnya berbagai rancangan undang-undang yang diajukan atau disahkan oleh parlemen negara-negara demokrasi, serta langkah nyata yang diambil oleh aparat penegak hukum untuk melindungi hak-hak praktisi Falun Gong dari penindasan lintas negara dan taktik lawfare PKT:

  • Resolusi Parlemen Eropa: Parlemen Eropa mengesahkan resolusi pada 18 Januari yang mengutuk penganiayaan PKT terhadap Falun Gong. Mereka menuntut pembebasan segera bagi praktisi yang ditahan serta penghentian seluruh upaya penindasan terhadap komunitas ini.

  • Undang-Undang Perlindungan Falun Gong AS: Di bulan Juni, DPR AS meloloskan Falun Gong Protection Act untuk memberikan sanksi tegas bagi pelaku pengambilan organ paksa. Meski masih tertahan di Senat, ini adalah langkah hukum mengikat pertama yang dirancang khusus untuk melindungi praktisi Falun Gong.

  • RUU Senat Australia: Senat Australia mengesahkan rancangan undang-undang pada 21 Agustus untuk memberantas perdagangan organ ilegal dan praktik perampasan organ secara paksa dari manusia yang masih hidup.

  • Vonis Agen RRT: Setidaknya tiga orang di Amerika Serikat terbukti bersalah bertindak sebagai agen rahasia Tiongkok. Mereka melakukan mata-mata dan sabotase terhadap Shen Yun serta Falun Gong, sehingga dijatuhi hukuman penjara antara 16 bulan hingga empat tahun.

  • Penolakan Gugatan Lingkungan Palsu: Seorang hakim di New York membatalkan gugatan terhadap pusat pelatihan Shen Yun yang diajukan oleh kelompok lingkungan yang berafiliasi dengan Tiongkok. Hakim menyatakan laporan tersebut “cacat hukum” dan melarang penggugat mengajukan tuntutan serupa di masa depan. Keputusan ini menjadi perlindungan penting terhadap taktik perang hukum (lawfare) PKT di Amerika Serikat.

Kesimpulan

Bulan Juli 2024 menandai 25 tahun sejak PKT melancarkan operasi kekerasan demi melenyapkan Falun Gong. Namun, dengan puluhan juta orang yang tetap teguh menjalankan latihan ini di Tiongkok meski di bawah ancaman penyiksaan maut, serta kesuksesan Shen Yun yang meraih pengakuan dunia, jelas bahwa kampanye rezim tersebut telah gagal. Alih-alih menyadari ketidakadilan dari penganiayaan ini, para pemimpin PKT justru melipatgandakan ambisi mereka dengan memperbesar sumber daya untuk memfitnah dan menghapus Falun Gong, baik di Tiongkok maupun di seluruh dunia. Selain itu, taktik yang mereka gunakan kini jauh lebih halus, terselubung, dan manipulatif, sehingga semakin sulit bagi pemerintah Barat maupun masyarakat umum untuk mendeteksi dan menolaknya.

Ke depan, sangatlah penting bagi para pengamat HAM dan analis kebijakan luar negeri untuk menggali lebih dalam guna memahami kenyataan pahit yang dihadapi praktisi Falun Gong, baik di dalam negeri maupun di mancanegara. Falun Dafa Information Center tetap berkomitmen penuh untuk memantau setiap perkembangan dan menyingkap setiap praktik penindasan yang dilakukan PKT terhadap Falun Gong di mana pun itu terjadi. Kami mengundang Anda untuk berdiri bersama kami.

Share