Laporan Baru: Survei Nasional Dokumentasikan Upaya Beijing Bungkam Falun Gong di Berbagai Negara Bagian Amerika Serikat

NEW YORK— Survei nasional pertama terhadap 1.080 praktisi Falun Gong di Amerika Serikat mendokumentasikan lebih dari 600 kasus penindasan lintas negara yang menyasar komunitas ini di 30 negara bagian sejak 2020.

Laporan berjudul Warga Amerika Menjadi Target Beijing yang dirilis oleh Falun Dafa Information Center pada 30 Juni ini menemukan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) tengah gencar melancarkan kampanye terencana di wilayah AS untuk membungkam Falun Gong. Kampanye ini dikendalikan langsung dari tingkat tertinggi rezim dan berdampak luas terhadap hak asasi manusia serta keamanan nasional.

Selama lebih dari dua dekade, praktisi Falun Gong di luar negeri telah menjadi target utama dari apa yang disebut Freedom House pada 2021 sebagai “kampanye penindasan lintas negara paling canggih, global, dan menyeluruh di dunia.” Namun, hasil survei menunjukkan penindasan ini kian melonjak setelah adanya instruksi tahun 2022, saat pemimpin PKT Xi Jinping secara pribadi memerintahkan jajaran keamanan Tiongkok untuk mengintensifkan kampanye global melawan Falun Gong. Arahan rezim yang bocor mengungkap bahwa fokus utama mereka adalah Amerika Serikat dan Shen Yun Performing Arts, grup tari klasik Tiongkok bentukan praktisi Falun Gong yang kini telah mendunia.

Hampir setengah dari seluruh responden (48%) mengaku mengalami penindasan lintas negara sejak 2022. Kasus yang dilaporkan melonjak lebih dari sepuluh kali lipat antara 2020 dan 2025: dari 16 menjadi 172 kasus per tahun. Taktik yang digunakan meliputi penyerangan fisik, pelecehan, perusakan properti, ancaman kekerasan, pengawasan, sensor, hingga intimidasi terhadap kerabat di Tiongkok, yang mana banyak di antaranya belum pernah terdokumentasikan sebelumnya.

“Survei ini mendokumentasikan sebuah strategi sistematis dari atas ke bawah — Beijing mengerahkan segala cara demi melenyapkan Falun Gong dan Shen Yun di tanah Amerika,” ujar Levi Browde, direktur eksekutif Falun Dafa Information Center. “Setiap warga Amerika yang peduli pada kebebasan sipil dan kebebasan beragama harus waspada bahwa ada pemerintah asing yang membangun aparatur untuk mengawasi, melecehkan, dan membungkam warga serta penduduk AS di ruang redaksi, teater, alun-alun kota, hingga platform media sosial kita. Amerika Serikat harus bertindak sekarang—sebelum daftar target ini terus bertambah.”

Narasi yang diputarbalikkan—diperparah oleh pemberitaan media yang menyesatkan dan disinformasi daring yang terkoordinasi—telah berdampak nyata pada kehidupan para praktisi. Mayoritas besar responden (90%) menyadari adanya lonjakan berita negatif dan komentar media sosial tentang Falun Gong sejak 2022. Sebanyak 64% responden menyatakan situasi ini berdampak langsung pada mereka, seperti memicu tekanan emosional, merenggangkan hubungan keluarga, pelecehan verbal, hingga diskriminasi di tempat kerja, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.

“Terutama ada perasaan di kalangan orang Tionghoa di komunitas kami yang merasa: ‘Tunggu sebentar. Saya sudah keluar dari Tiongkok, tapi kenapa hal yang sama justru terjadi di sini di Amerika? Saya tidak habis pikir,’” ujar seorang guru SMA warga negara Amerika di New York. “Ada rasa bingung dan tidak percaya.”

Laporan ini disusun berdasarkan survei daring terhadap 1.080 praktisi Falun Gong di 41 negara bagian, yang digelar antara September 2025 hingga Maret 2026. Disebarkan dalam bahasa Inggris dan Mandarin melalui asosiasi Falun Dafa setempat, survei ini menerapkan sistem anonim serta kontrol kualitas yang ketat demi menjamin kredibilitas dan keakuratan data. Metodologi lengkap beserta daftar pertanyaan survei turut dilampirkan dalam laporan tersebut.

Temuan Kunci Laporan:
  • Komunitas Falun Gong Amerika tersebar luas, beragam, dan berpendidikan tinggi. Responden mencakup 41 negara bagian dan Washington, D.C., dengan mayoritas (60%) berstatus warga negara AS. Lebih dari 70% di antaranya lulusan sarjana atau lebih tinggi. Meski mayoritas merupakan etnis Tionghoa, hampir 12% berasal dari ras Kaukasia, Afrika-Amerika, Hispanik, atau latar belakang lainnya.

  • Penindasan lintas negara terus melonjak pasca-instruksi Xi Jinping tahun 2022. Responden melaporkan 646 kasus penindasan lintas negara sejak 2020, dengan lonjakan kasus hingga lebih dari sepuluh kali lipat antara 2020 dan 2025. Hampir setengah dari seluruh responden (48%) mengaku pernah mengalami setidaknya satu insiden. Dampak ini merembet ke warga Amerika di minimal 30 negara bagian, termasuk masing-masing sedikitnya 10 kasus di California, New York, Texas, Florida, Illinois, Washington, Pennsylvania, dan Washington, D.C.

  • Shen Yun Performing Arts menjadi target utama. Responden melaporkan 146 insiden perusakan properti, ancaman kekerasan, pelecehan, dan sensor terkait keterlibatan maupun kerja sukarela mereka dalam mempromosikan pertunjukan Shen Yun. Selain itu, 53 responden yang merupakan penari atau staf Shen Yun memaparkan situasi penindasan dan disinformasi yang kian parah, termasuk tekanan mental akibat menjadi sasaran ancaman kekerasan.

  • Pejabat Tiongkok terlibat langsung dalam 138 kasus. Badan pemerintah RRT—termasuk Kementerian Keamanan Publik, Kementerian Keamanan Negara, dan Kementerian Luar Negeri—terlibat langsung dalam 138 insiden yang dilaporkan. Kaki tangan PKT yang berbasis di Amerika Serikat juga kedapatan melakukan pelecehan, kampanye hitam, hingga penyerangan fisik.

  • Institusi Amerika tanpa sadar menjalankan agenda Beijing. Propaganda dan disinformasi PKT kian menyusup ke dalam masyarakat Amerika, mengelabui lembaga serta para tokoh opini di AS hingga ikut mengulang narasi mereka, sekaligus mengucilkan praktisi Falun Gong dari kehidupan publik. Responden melaporkan 92 kasus di mana mereka dilarang ikut serta dalam parade, acara komunitas, atau konferensi nasional oleh lembaga-lembaga di AS hanya karena identitas mereka sebagai praktisi Falun Gong.

“Sejak penganiayaan dimulai pada 1999, saya tidak bisa pulang ke Tiongkok dengan aman,” tutur seorang warga negara AS asal Tiongkok yang kini menetap di New York. “Saat nenek yang membesarkan saya sekarat, saya tidak bisa pulang. Saya tidak bisa menggenggam tangannya, tidak bisa mengucapkan selamat tinggal, dan tidak bisa menghadiri pemakamannya. Seperti itulah wujud nyata dari penganiayaan. Memisahkan keluarga dan memaksa orang-orang menghadapi pilihan mustahil antara kasih sayang dan keselamatan.”

Survei ini juga menemukan celah besar dalam kesadaran serta penegakan hukum di Amerika. Banyak kasus yang dilaporkan responden menguap begitu saja tanpa hukum karena identitas pelaku yang samar, korban tidak melapor, penanganan aparat yang minim, atau belum adanya regulasi yang kuat untuk melindungi warga Amerika dari intervensi rezim asing yang merenggut hak-hak mereka sekaligus menyusup ke institusi AS. Laporan ini memberikan rekomendasi konkret bagi pemerintah dan masyarakat sipil Amerika untuk menangkal penindasan lintas negara oleh PKT serta memperkuat sistem perlindungan.

Untuk membaca laporan lengkapnya, lihat di sini. Untuk wawancara dengan salah satu penulis, silakan hubungi melalui email ke [email protected].

Survei ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Falun Dafa Information Center dalam mendokumentasikan gelombang penindasan lintas negara yang kian meningkat terhadap praktisi Falun Gong sejak 2022. Pada Mei 2023, Falun Dafa Information Center merilis laporan khusus berjudul Pengawasan, Fitnah, dan Sensor yang mengulas penindasan PKT di lingkungan kampus universitas AS. Sepanjang 2024 dan 2025, Falun Dafa Information Center juga menerbitkan serangkaian laporan penelitian mengenai penindasan lintas negara yang menyasar Shen Yun dan Falun Gong: Gangguan Diplomatik dan Disinformasi: Upaya Global Beijing untuk Menghentikan Shen Yun pada Januari 2024, Bagaimana New York Times Mendistorsi Fakta Mengenai Falun Gong pada Maret 2024, Memperalat Media Sosial: Rencana Baru PKT untuk “Memusnahkan” Falun Gong Secara Global pada Agustus 2024, Kampanye Luar Biasa PKT untuk Menyabotase Shen Yun dan Melenyapkan Falun Gong secara Global pada Desember 2024, serta Kisah Nyata Shen Yun: Upaya Baru Beijing untuk Melenyapkan Shen Yun dan Membungkam Falun Gong secara Global pada Juli 2025.

Share